SISIPUSH

Rabu, 18 November 2009

impian ...oh ... impian

Aku sebenarnya tak pernah peduli dengan impian-impianku yang terus berloncatan dari satu impian ke impian lainnya seiring berubahnya linkungan dan pergaulanku. Dari impian konyol menjadi seorang polisi (konstruksi orang tua-ku sewaktu kecil) hingga impian-impian fantastis seorang anak muda.
Akibat sebuah novel, impian-impian itu kembali bermunculan dalam slide-slide di pikiranku. Berjalan dan terus berjalan.

Sebuah impian lama kembali mengambil ruang yang cukup besar, menyita konsentrasiku hingga aku menuliskan catatan sampah ini. Impian sederhana seorang anak kecil yang terus mencoba menyalurkan hasrat dan kreatifitasnya. Bukan impian fantastis yang butuh rekayasa sosial yang rumit dan berbelit-belit, hanya keberanian dan rasa percaya diri yang dibutuhkan tidak lebih tidak kurang. Meski termasuk konyol tapi ini murni, keluar begitu saja bersama talenta. Sebuah impian yang hancur berantakan akibat desakan realitas, namun tak musnah dan sekarang dia kembali hadir menggelitik nakal pikiranku.

Ah ... impian itu sudah berkali-kali mencoba muncul ke permukaan, namun berkali-kali pula karam begitu saja mungkin karena terlalu banyak tersusupi realitas dan saling berebut ruang dengan impian-impian lainnya. Ah ... impian itu .........

........................................................
........................................................
........................................................




aaaaargh... setan terkutuk !... catatan sampah !... anjing kurapan !... ini muncul hanya karena sebuah novel, dasar tak berguna. Orang lemah yang mudah terkondisikan, berubah sesuai dengan ruang dan waktu serta hanyut begitu saja hanya karena impulse-impulse keparat di luar diri. Tak ada yang salah dengan semua yang terjadi, akulah yang salah ... aku terlalu goblok dan tolol hingga menjadi sampah bersama catatan sampah ini.
Aku siapa ? Aku bukan apa-apa, lalu kenapa aku berharap apa-apa. Karena aku bukan apa-apa maka seharusnya aku pun juga tak berharap apa-apa. Seharusnya aku menjadi apa ada saja, tak ada rekayasa tak ada manipulasi ... berjalan apa adanya seperti angin yang berhembus dengan alamianya, kadang menyejukkan memang dan kadang pula menghancurkan ... itulah ke-alami-an.

Anjrit ... !!! Taik !!! Hueeek !!!
Terkutuklah kalian para agen-agen neptunus !!!


*di tulis dalam keadaan hati dan perasaan masih luluh lantak akibat sebuah novel setan dan pelem setan yang menjadi inspirasi dari novel setan itu
posted by sisipush at 23:52

Selasa, 15 September 2009

PERNAH !!!

pernahkah kau merasa sendiri ?
bak sebatang ilalang di tengah rumpun bunga-bunga nan elok di sebuah taman kota yang tak terurus

Pernahkah kau merasa sendiri ?
bak kecoak sakit di tengah tumpukan sampah dan dedaunan kering yang siap dibakar sebelum hujan datang

Pernahkah kau merasa sendiri ?
bak seekor tikus yang sekarat terinjak ribuan kaki orang-orang yang sedang berperang melawan takdir

Pernahkah kau merasa sendiri ?
bak sebatang ilalang atau seekor kecoak sakit, atau seekor tikus yang sekarat, atau seperti sebiji krikil dijalanan yang selalu siap ditendang oleh siapa saja yang melintas dijalan itu

Apakah kau merasa sendiri ?
posted by sisipush at 06:34

Minggu, 16 Agustus 2009

..........................

k-e-h-i-d-u-p-a-n

Kotor dan menjijikkan ...

Kesan suram sangat jelas dan nampak tak tersirat. Tak ada kebaikan yang bersinar dan kejahatan juga tak tampak. Letupan-letupan kecil kadang muncul menandai ada kehidupan yang sementara bertarung melawan kematian. Tak ada gerak yang berarti namun gerak itu pasti ada diantara ketenangan yang pasti. Meski kotor dan menjijikkan, unsur hidup dan mati tetap pasti di dalamnya. Terus saling berebut ruang yang tak pernah jelas batasnya.

Tetap ada air dan ada tanah, tetap ada angin dan ada api, namun kadar mereka yang berbeda. Ada yang mendominasi meski itu tidak berada dalam stagnan karena tetap ada gerak di dalamnya meski tak terlihat dengan jelas. Walau semua tetap ada di dalamnya namun kehidupan kerap menghindarinya. Hidup selalu mencari ruang dimana dia bebas untuk bergerak meski dengan begitu mati pun akan bebas bergerak seiring bebasnya hidup bergerak. Dalam ruang yang bebas semuanya bebas bergerak termasuk penginjak-injakan dan penikam-nikaman.

Ooo ... terlihat diam tak bergerak, menurut beberapa teori ... inilah yang menjadikannya kotor dan menjijikkan. Benar, ini memang kotor dan menjijikkan. Itu tak dapat dipungkiri. Namun lihatlah, beberapa kehidupan masih ada didalamnya terus berusaha bertarung melawan diam yang kan membuatnya mati. Walau mati itu pasti baginya namun kemungkinan hidup pun tetap ada diantara mati karena disini semuanya ada dan semua terus bertarung berebut ruang tak berbatas.

Memang kotor dan menjijikkan namun ketika badai datang membawa butiran-butiran air maka semua akan menjadi berbeda. Semua akan menghilang, larut dalam badai, bergabung dengan gelombang-gelombang kecil menuju samudra lepas dimana semuanya kan menjadi tak ada karena semuanya telah mengada dalam kapasitas dan ruang masing-masing. Saling mendukung antar sesama, menciptakan apa yang pantas dan memang harus diciptakan. Tak ada lagi hidup, tak ada lagi mati. Namun itu nanti ketika badai datang, dan saat ini yang pasti adalah disini semuanya memang kotor dan menjijikkan tapi tetap ada letupan-letupan kecil yang menandakan ada hidup yang sementara bertarung untuk sekedar bertahan.

Kotor dan menjijikkan ...

dan kini perlahan aroma busuk hadir mengambil ruang dalam udara dan hembusan angin. Ini pertanda bahwa sebuah kehidupan telah merengang nyawa dalam gerak dan perjuangan sia-sianya.

Kini lengkaplah sudah,
Kotor dan menjijikkan serta beraroma busuk.
Ini kerap terjadi sebelum badai datang.
posted by sisipush at 00:32

Senin, 22 Juni 2009

Demi Hidup !!!


Banyak diantara kita yang mennghindari kematian, bahkan ada yang mencoba lari dari kematian dengan bersusah payah menghambat ke-tua-an (mereka menghambat ke-tua-an sebab ke-tua-an adalah jalan pasti menuju gerbang kematian). Mereka merasa berhasil menunda ke-tua-an yang berarti menunda kematian, yah benar, mereka berhasil menunda ... tapi hanya menunda dan suatu saat pasti mereka tidak akan pernah bisa menghindari kematian, suatu saat kematian pasti akan datang bersama rasa sakit yang sangat/lebih menyakitkan.

Kenapa orang-orang tidak memperlakukan kematian sebagaimana mereka memperlakukan kelahiran dan pernikahan. kelahiran dan pernikahan selalu disambut dengan penuh cinta kasih, lantas kenapa kematian tak pernah disambut dengan cinta kasih ? kelahiran dan pernikahan selalu dicari dan didekati, lalu mengapa kematian mereka hindari ? kenapa kematian selalu ditampilkan dalam sosok seorang perampok tak berbelas kasih yang siap mencuri apa yang kita miliki ? padahal "kehidupan takkan pernah ada jika kematian tak ada" susah untuk dipungkiri, atau mereka menolak itu ?

Kenapa ? kenapa ? Kenapa ?

Kecintaan pada kematian adalah kecintaan pada hidup ... ... ...
posted by sisipush at 22:47

Kamis, 19 Februari 2009

HITAM, LILIN & DIRIKU


Ku dapati diriku kembali terhempas disudut ruangan hampa nan gelap, yang ada cuma diriku dan hitam yang teramat sangat pekat. Walau telah ku nyalakan sebuah lilin sisa dari ritual pemujaan namun cahayanya tak mampu mengusir pekatnya hitam yang menyelimutiku. Hitamnya terus menghitam dan terus berusaha menyelimuti seluruh diriku hingga terasa sampai kedalam sukmaku. Tarian lidah api di ujung sumbu lilin yang terbakar sama sekali tak berarti. Aku merasa nasibnya sama dengn diriku, ditertwai oleh hitam pekat yang mempecundangi keberadaannya.

Siapa diri ini ?
Siapa hitam yang pekat ini ?
Siapa lilin yang berlidah api ini ?

Semula yang ada hitam, diriku, dan lilin. Kini sesekali ku dengar lolongan serigala seolah mendekatiku tapi sosoknya tak kunjung nampak. Setelah lolongan serigala menghilang muncul suara-suara aneh bagai raungan monster. Suara-suara aneh itu terasa sangat dekat, tapi dimanakah dia ? Tak ada apapun disini selain hitam, diriku, dan sebatang lilin yang nampaknya akan segera habis.

Suasana kembali sunyi. Kesunyian yang sangat damai dan tenang. Aku lihat sisa lilin pemujaan yang jadi satu-satunya harapan pengusir gelap akan segera padam. Tak ada yang dapat aku lakukan, jika lidah api itu harus padam maka habislah semua.

Aku harus mengakhiri semua ini kalau tidak ingin diakhiri disaat semuanya belum berakhir.
Sudahlah, biarlah lilin itu padam, biarlah gelap yang hitam dan teramat sangat pekat ini tidak lagi sekedar menyelimutiku melainkan menelanku serta menjadi bagian dari diriku. Biarkanlah, seperti halnya ketika aku dibiarkan terhempas disini.

Tapi tunggu ... didepan seperti ada dua sosok yang bergerak mendekat, apa itu ?
aah ... terlambat ........

“lilin padam dan selanjutnya yang ada cuma hitam, tak ada yang tahu bagaimana nasib diriku dan sosok-sosok apa yang bergerak mendekatiku. tak ada yang tahu kecuali gelap yang terus menghitam dan memekat”
posted by sisipush at 00:19

Senin, 02 Februari 2009

AAAAAAAAAAAA

posted by sisipush at 23:40

Kamis, 22 Januari 2009

Barisan Nisan

By : Homicide
Album : ILLSURREKSHUN


matahari terlalu pagi mengkhianati

pena terlalu cepat terbakar
kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan pada ruang ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak temukan lagi satu pun sudut kemungkinan untuk berkata “Tidak mungkin”
tanpa darah mereka mengering
sebelum mata pena berkarat menolak kembali terisi
sebelum semua paru disesaki tragedi
dan pengulangan menemukan maknanya sendiri
dalam pasar dan semerbak deodorant
atau mungkin dalam limbah dan kotoran
atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
atau mungkin dalam pembebasan ala monitor 14 inci yang menawarkan hasrat pembangkangan ala Levi’s dan Nokia
atau dalam 666 halaman hikayat para biggot dan despot yang menari
ketika jelaga zarkot berangsur menjadi kepulan hitam berselubung Michael Jordan
di pojokan pabrik-pabrik ma’lun para produsen kerak neraka berlapis statistik
pembenaran teatrikal super-mall
opera sabun panitia penyusun undang-undang pemilu yang mencoba membanyol
tentang kekonyolan demokrasi yang rapi berdasi
bertopeng mutilasi pembebasan dengan sekarung argumen pasti tentang
bagaimana menyamankan posisi pembiasaan diri di hadapan seonggok tinja para sosok pembaharu dunia
bernama PASAR BEBAS dan perdagangan yang adil untuk kemudian memperlakukan hidup seperti AKABRI
dan dikebiri matahari terlalu pagi mengkhianati

dan heroisme berganti nama menjadi C-4, Sukhoi dan fiksi berpagar konstitusi
menjenguk setiap pesakitan dengan upeti bunga pusara dari makam pahlawan tetangga
bernama Arjuna dan Manusia Laba-laba
pahlawan dari Cobain hingga Visius dari berhala hingga anonimous bernama Burung Garuda Pancasila
yang menampakkan diri pada hari setiap situs menjadi sepejal bebatuan yang melayang
pada poros yang sejajar dengan tameng dan pelindung wajah para penjaga makam Firaun berkhakis
yang muncul 24 jam matahari dan gulita bertukar posisi setiap pojokan
bahkan di kakus umum dan selokan mencari target konsumen dan homogenisasi kelayakan
maka setiap angka menjadi maka dan maka
ketika kita disuguhi setiap statistik dan moncong senjata dengan ribuan unit SSK
untuk menjaga stabilitas bagi mereka yang akan dinetralisir karena menolak membuang buku Panton sebagai panduan kebenaran
sejak hitam dan putih hanya berlaku di hadapan mata setiap salafis
menolak terasuki setan dan tuhan yang mewujud dalam ocehan pencerahan kanon-kanon
tabungan Big Mac dan es krim corn yang berseru,
Beli! Beli! Beli!
Konsumsi, konsumsi kami sehingga kalian dapat berpartisipasi
dalam usaha para anak negeri yang berjibaku untuk naik haji!

oh… betapa menariknya dunia yang sudah pasti
menjamin semua nyawa dan pluralitas dengan lembaran kontrak asuransi
dengan janji pahala bertubi
dengan janji akumulasi nilai lebih, bursa saham
dan dengan semantik-semantik kekuasaan yang hanya berarti dalam kala
ketika periode berkala para representatif di gedung parlemen memulai tawar-menawar jatah kursi
dan kekuatan hanya berlaku paska konsumsi cairan suplemen, tonik dan para biggot bertemu kawanan
dan cinta hanya akan berlabuh setelah melewati sederatan birokrasi ideologi
berwarna merah, hijau, hitam, kuning, biru, merah, putih dan biru
dan merah
dan putih

Oh betapa indahnya dunia yang berkalang fajar poin-poin NAFTA
sehingga pion-pion negara yang berkubang di belakang pembenaran stabilisasi nasional
menemukan pembenaran evolusi mereka dengan berpetakan saluran-saluran pencerahan
para rock-stars yang lelah berkeluh-kesah
kala peluh mengering kasat di hadapan pasang diri lalat dalam pasar
dan kilauan refleksi etalase dan display berhala berhala
berskala lebih taghut dari ampas neraka diantara robekan surat rekomendasi negara donor
perancang undang-undang dan pakta-pakta anti-teror
para arsitek bahasa penaklukan para pengagung kebebasan
kebebasan yang hanya berlaku di hadapan layar flatron
kemajemukan ponsel demokrasi kotak suara dan pluralisme gedung rubuh

Oh betapa agungnya dunia di hadapan barisan nisan yang dikebiri matahari
dan terlalu pagi mengkhianati

Maka jangan izinkan aku untuk mati terlalu dini
wahai rotasi CD dan seperangkat boombox ringkih
jangan izinkan aku mendisiplinkan diri ke dalam barisan
wahai bentangan seluloid dan narasi
dan demi perpanjangan tangan remah di mulutmu anakku,
jangan izinkan aku terlelap menjagai setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini
demi setiap huruf pada setiap fabel yang kututurkan padamu sebelum tidur, Zahraku, mentariku!
Jangan sedetik pun izinkan aku berhenti menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang kalam terhunus
lelap tertidur tanpa satu mata membuka tanpa pagi berhenti mensponsori keinginan berbisa
tanpa di lengan kanan-kiriku adalah matahari dan rembulan
bintang dan sabit
palu dan arit
bumi dan langit
lautan dan parit
dan sayap dan rakit
sehingga seluruh paruku sesak merakit setiap pasak-pasak kemungkinan terbesar
memperbesar setiap kemungkinan pada ruang ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan
untuk berkata “Tidak mungkin!”
tanpa darah mereka mengering
sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi

http://www.ziddu.com/download/3240058/homicide-ILLSURREKSHUN.zip.html
posted by sisipush at 20:32

suicide