Langsung ke konten utama

*PEMBIASAAN ATAS TATANAN MASYARAKAT ANARKIS*

“Adalah benar adanya bahwa dibutuhkan sebuah pembiasaan untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat anarkis namun pertanyaannya apakah proses pembiasaan itu menuntut pembentukan sebuah otoritas yang bersifat memaksa?”
Bagi orang-orang yang menerima konsep pembebasan dengan semangat anti otoritarian tentu tidak akan menerima alasan apapun untuk pembentukan institusi yang bersifat memaksa apapun bentuk dan modelnya. Adapun persoalan pembiasaan atas tatanan masyarakat anarkis akan diselesaikan melalui pembiasaan itu sendiri dimana prosesnya akan berjalan secara wajar dalam keseharian tanpa ada rekayasa, kalaupun ada rekayasa maka semua dilakukan oleh orang-orang yang terdapat dalam masyarakat tersebut bukan oleh segelintir orang yang merasa paling berhak. Paksaan sama sekali tidak boleh hadir dalam pembiasaan tersebut, yang seharusnya hadir dalam proses pembiasaan adalah sebuah pembangunan kesepahaman diantara seluruh orang-orang yang terdapat dalam masyarakat. Pembangunan kesepahaman tentu bukanlah hal yang mudah namun kesukarannya bukan menjadi alasan untuk melakukan pemaksaan. Kesukaran membangun kesepahaman ini yang kerap menjebak orang-orang yang untuk melakukan pemaksaan melalui berbagai mekanisme yang dapat membungkus proses pemaksaan menjadi seolah-olah masih berada dalam koridor pembangunan kesepahaman secara bersama-sama.

Sejarah dunia telah berisi cukup banyak catatan yang menuliskan tentang proses pemaksaan pemahaman segelintir orang terhadap orang lain. Di Indonesia misalnya, hal itu juga terjadi ketika soekarno bersama hatta dan beberapa politisi lainnya menghentikan proses dialog dalam BPUPKI serta dalam KONSTITUANTE dan memaksakan konsep rumusan tatanan masyarakat menurut mereka (soekarno dan hatta) untuk menjadi sebuah rumusan tatanan masyarakat Indonesia, jadilah Indonesia seperti sekarang ini yang sampai hari ini sama sekali tidak memiliki harga diri. Indoensia masa soekarno yang (menurut soekarnois) katanya memiliki harga diri (dengan julukan macan asia) sesungguhnya bukanlah harga diri bangsa indoensia melainkan harga diri soekarno sebagai presiden indoensia. Andai saja konsep tatanan masyarakat indoensia dulu tidak dipaksakan tentu cerita bangsa Indonesia akan berbeda. Ancaman serangan balik pihak penjajah (yang sering dijadikan alasan oleh para nasionalis untuk membenarkan pemaksaan) tentu akan mudah dihadapi sebab pada saat itu rakyat pada dasarnya sadar akan ancaman tersebut karena itulah mereka membangun sendiri kekuatan tentara-tentara lokal yang dikelola secara otonom oleh daerah masing-masing (yang belakangan dibekukan dan digantikan oleh tentara nasinal indoensia). Jadi apa yang dilakukan oleh soekarno bersama hatta dan beberapa politisi lainnya pada masa itu sama sekali tidak beralasan yang ada hanya pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Kasus bangsa Indonesia adalah satu contoh yang tentu sangat dekat dengan kita dan untuk wilayah lain (rusia, cina, amerika, iran, libya, kuba, Vietnam, prancis dan semuanya) secara substansial sama saja.

Proses pembiasaan tanpa paksaan memang akan memakan waktu yang lama serta membutuhkan banyak pengorbanan namun itu lebih baik ketimbang pemaksaan yang jelas-jelas akan menodai proses pembebasaan, bahkan akan menjerumuskan proses pada bentuk penindasan baru yang mungkin saja akan lebih kejam dari sebelumnya.

Namun perlu ditekankan bahwa hal ini hanya berlaku untuk mereka-mereka yang secara prinsipil telah menerima konsep pembebasaan dan untuk mereka yang tidak menerima konsep pembebasaan maka tak boleh ada ruang untuk mereka dalam proses pembiasaan sebab kehadiran mereka hanya akan menjadi duri dalam daging proses pembiasaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

BERSYUKUR

ketika tanganmu menyentuh tanganku aku bahagia dan ketakutan karena sebuah percikan api tercipta. harapan muncul dari gelapnya sebuah dunia yang tak lagi memiliki kemungkinan untuk berharap. samar namun cukup untuk membuat hati tenang meski tak ada kepastian apakah api akan berkobar dari sebuah percikan api. mungkin hanya sebuah varian yang tak pasti namun aku bukanlah polisi atau hakim yang memutuskan fakta kebenaran, dan bukankah masa depan memang belumlah dituliskan, kira2 begitulah makna dari lirik sebuah lagu. jadi tentu terlalu picik untuk menghakimi sesuatu yang masih jauh jaraknya dalam perspektif dimensi ruang dan waktu. merayakan setiap percikap api yang muncul dari momentum-momentum yang terlihat bukanlah bid'ah karena masa depan bukan lagi berbicara tentang aku jadi jangan melibatkan aku dalam hal ini. lihatlah jalinan kisah yang terlihat menjuntai tak beraturan namun pasti tetap memiliki akar meski tertimbun dalam busuknya pupuk organik, sampah busuk dari sebuah sistem...