Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

KARAT - KOIL Album Self Titled

aku berkarat seperti besi setengah mati hidupku belum berarti simpan dalam hati menghisap malam kelam menatap langit jingga terasa sangat gelap terhenyak diam tenggelam dalam gelap terbenam lumpur yang pekat sia sia bohong belaka tua renta hina aku berkarat seperti besi seakan mati hidupku tidak berarti mengubur cita cita tertawa langit jingga tertindas alam kejam terserap hitam kelam terhenyak diam terbenam sia sia terbenam sia sia terbenam sia sia Download Album Self Titled - Koil

KEJUJURAN PENGHABISAN

Ini adalah kalam terakhir yang melesat dari kerongkongan terpicu nafas penghabisan. Meninggalkan seonggok tulang berbalut otot-otot kekar mengokohkan tubuh tuk tetap berdiri kosong. Masih tetap kan selalu berkata-kata dalam sabda kosong kebohongan yang hadirkan sejuta kenormalan bersanding senyum manis nan bahagia para tertipu. Takkan pernah kan kau liat rajah-rajah beralirkan darah laksana bangkai lawan para keluarga pandawa yang tertembus jutaan anak panah arjuna. Cupitlah yg tersenyum, anak panah cupit-lah yang melesat mengenai jantung hingga kematian yang hadir namun tak tampak sebab kepolosan serta keluguan cupit mengabuti kematian dalam cinta kasih seorang ibu pada anaknya. Karena itu nyawa tak pula pernah terlihat meregang sebab tak ada hati yang menerawang jauh wawasan abstark hal tak terindrai. Erangan, rintihan, ringisan, tangisan, sedu sedan tak terdengar atau bahkan untuk sekedar terlihat sebab indra telah lama tertutupi sampah-sampah kehidupan. Sebab indra tak lagi menang...

Ah ... ternyata aku yang terlalu picik

Aku pikir aku yang paling bermasalah, masalahku seolah-olah adalah masalah yang sangat besar. Ternyata aku salah, masalahku sama sekali bukanlah masalah kalaupun masalah itu hanyalah masalah sepeleh yag tidak berarti. Tak ada masalah dalam sesuatu yang tak berasa kalaupun terasa itu hanyalah sebuah kenikmatan dari sebuah rasa sakit yg ternikmati jadi jelas itu bukan masalah kalaupun ingin dipaksakan menjadi sebuah masalah maka itu tidak lebih dari masalah kenikmatan. Aku hanyalah sebongkah bara api yang masih menyala dan sewaktu-waktu dapat saja berubah menjadi api yang berkobar-kobar penuh semangat dan gejolak. Sementara dirimu yg tampak anggun ternyata sebatang lilin yang mencoba terus berpijar dengan melelehkan diri hingga suatu saat padam dan musnah. Berbeda dariku, kau yang bermasalah dan memang kau lah yang lebih pantas bermahkotakan belukar duri kesedih bukannya aku. Hanya saja aku yang terlalu picik untuk sekedar memahaminya dari awal. Kesedihanmu memerlukan lebih banyak lagi k...