Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label budaya

4.0 dengan kecepatan 300 Mbps

di zaman sekarang sy sering terjebak dalam ilusi kecepatan, di mana kecepatan konsumsi menjadi indikator penting dalam hidup.padahal sangat banyak hal yang sy pikir tak mesti secara tergesah-gesah dikonsumsi dan banyak pula hal yang (bahkan) seharusnya bisa tak dikonsumsi namun terkonsumsi karena sy terhanyut dalam arus kecepatan konsumsi. kuantitas menjadi hal prinsipil dalam ilusi kecepatan konsumsi karena dengan jumlah kuantitas yang tinggi akan membuka peluang banyak hal yang bisa ditemukan. namun sayang, banyaknya hal yang dikonsumsi membuat tumpukan sampah semakin tinggi sehingga hal penting bisa jadi tertimbun hingga peluang menemukannya jadi sangat kecil. saat ini sangat sedikit waktu untung duduk menimbang sesuatu, apakah layak dikonsumsi sekarang juga atau nanti atau bahkan sama sekali tak perlu sy konsumsi kecuali untuk sekedar cemilan tapi untuk cemilan pun bisa jadi masalah karena dapat menghilangkan selera makan pada hal-hal yang lebih berkualitas. mungkin karena terlalu ...

Meta-KESEHARIAN

Pagi hari berdirilah di depan rumahku atau di pintu gerbang tempatku bekerja dan lihatlah diriku. Entah perasaan apa yang akan menghinggapimu saat melihat perubahan atas diriku dari manusia menjadi mahluk mengerikan. Di pagi hari saat mulai melangkahkan kaki meninggalkan rumah bulu-bulu ditubuhku memanjang dan menebal. Bulu itu bertambah panjang bersama setiap langkah kakiku hingga akhirnya hampir seluruh tubuhku tertutup bulu panjang yg tebal dan hitam, hanya wajah dan telapak tanganku yang tak dipenuhi bulu. Setelah hampir seluruh tubuhku tertutupi bulu, gigi taring dan kukuku pun memanjang dan membesar seiring semakin bertambahnya jarak antara diriku dengan rumah. Taringku terus memanjang dan membesar hingga menyembul dari sela-sela bibir dan kukuku sudah cukup panjang serta cukup tajam untuk dipakai mencakar dan mengoyak. sorot mataku ikut berubah menjadi tajam dan sangat awas terhadap gerakan mencurigakan yang mungkin mengancam nyawaku. Tak cuma fisikku yang berubah, aku pun ...

NICE dan MESIN KETIK PAK MISBAH

Dia mengambil mesin ketik tua yang tadi dipajangnya sebelum di tendang oleh seorang pegawai kantor kecamatan di depan kantor kecamatan tempat dia menunggu seseorang yang bersedia menebusnya dengan sejumlah uang. Sebenarnya memutuskan untuk menjual mesin ketik tua miliknya adalah keputusan berat yang terpaksa dia ambil demi mendapat tambahan sejumlah uang untuk membeli sebuah buku namun dia tak pernah membayangkan mesin ketik kesayangannya bakal ditendang oleh seorang pegawai kantor kecamatan. Diperhatikannya mesin ketik tua miliknya, tempat pitanya patah namun setelah dia perhatikan sepertinya masih bisa diperbaiki. Setelah memasukkan mesin ketik tuanya ke dalam tas dan meminta maaf kepada si pegawai , dia pun berjalan meninggalkan depan kantor kecamatan. Sebagai seorang yang telah berumur 68 tahun dia termasuk orang tua yang masih cukup kuat, jarak antara kantor kecamatan dengan tempat tinggalnya sekitar 1 km dan dia menempuhnya dengan berjalan kaki. Setelah 30 menit akhirnya dia sam...

"I Started A Joke"

oke ... untuk semuanya kali ini saya mengajak anda semua untuk bernyanyi bersama mari bernyanyi ... I started a joke  Which started the whole world crying  Oh but I didn't see  That the joke was on me...oh no..  And I started to cry  Which started the whole world laughing  Oh if I'd only seen  That the joke was on me  And I looked at the skies  Running my hands  Over my eyes  And I fell out of bed  Cursing my head  For things that I've said  Till I finally died  Which started the whole world living  Oh if I'd only seen  That the joke was on me  And I looked at the skies  Running my hands  Over my eyes  And I fell out of bed  Cursing my head  For things that I've said  Till I finally died  Which started the whole world living  Oh if I'd only seen  That the joke was on me  ...

Tempat Bernama WAWABATU

Aku memutuskan untuk memulai hidup baru. Sebuah kehidupan baru dimana semua hal-hal yang orang benci pada diriku akan aku tinggalkan. Dari beberapa orang yang berhubungan dengan diriku terlihat jelas bagaimana mereka sangat membenci beberapa hal pada diriku. Ada yang membenci sifat lambanku yang dimata mereka adalah sifat bermalas-malasan seorang pemalas tak berguna. ada yang membenci kebiasaanku menilai segala sesuatu yang mereka anggap memgada-ada dan ngawur, aku memang senang menilai sesuatu bahkan senandung tiba seseorang bagiku adalah sesuatu yang menarik dan ternyata menurut salah satu teori psikologi senandung tiba-tiba merupakan refleksi alam bawah sadar yang direpresi. Ada orang yang membenci kesenanganku membaca mungkin menurut mereka membaca adalah bagian dari kebiasaan jelek seorang pemalas. Ada malah yang membenci saat diriku mencoba berfikir dan merenung, jika aku sedang berfikir atau merenungkan sesuatu biasanya mereka berkata "kenapa kamu tinggal diam begitu ? Buk...

Tak Ada Warna Merah Di Pelangi

namanya ulil amri, aku biasa memanggilnya amri tapi sebenarnya dia tak suka dipanggil begitu alasannya sederhana karena nama itu pemberian bapaknya dan kata ibunya menurut bapaknya nama ulil amri tdk bisa dipisah kalau dipisah artinya jadi beda makanya dia tdk suka dipanggi amri atau ulil. anaknya pendiam tapi jika dia telah menganggap dirimu sebagai teman maka dia akan menjadi seorang pencerita yang tak pernah mau diam. aku pernah dibuat jengkel karena harus mendengarkan ceritanya yang berloncatan riang dari satu tema ke tema lainnya yang jika disimak sepintas seperti tak berhubungan, terpaksa aku harus berhenti membaca novel yang baru saja aku beli agar dapat mengikuti alur cerita yang amri tuturkan. hari ini dia mengajakku ke rumahnya. aku memang belum pernah ke rumahnya karena itu aku langsung menerima ajakannya. amri hanya tinggal bertiga dgn ibu dan seorang adiknya. sebenarnya amri punya seorang kakak tapi meninggal saat amri masih berumur 5 tahun. amri pernah bercerita kalau ...

lama tak menulis ...

... sebenarnya ...  sejak media sosial secara legal merampok apa yg melintas dipikiran kita*  maka tak ada lagi yg pantas untuk ditulis.  orang-orang menjadi begitu jujur perlihatkan dirinya,  kejujuran atas persenggama antara pikiran dan muntahan informasi.  nasib menulis sudah hampir sama dengan berbicara  sudah tak berguna lagi karena apa bedanya antara ucapan dengan igau  sejak postingan di media sosial berlomba dengan tarikan nafas kita  menjadi yg tercepat hingga membuat aliran informasi sederas aliran darah dalam tubuh kita.  yah, koloborasi media penkonstruk wacana sudah sebegitu harmonis jadikan kita babi gemuk yg panik di atas sebuah sofa depan monitor.  semua sudah selesai dengan ikut serta berwara-wiri dalam gegap gempita  trending topic atau sekedar like, reshare, repost, comment .. bla bla bla ... ha ha ha ... hi hi hi ...   dan sulitlah kita bedakan waras dan tidak waras,  t...

Catatan Dari Tragedi Launching Buku Kompilasi Pidato Kebudayaan DKJ 1998-2013

Kemarin sore sy ikut acara launching buku Kompilasi Pidato* Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta 1998-2013 di sebuah tempat, sebenarnya sy tdk tertarik untuk datang dan memang sy juga cenderung sudah tidak tertarik lagi untuk menyimak atau bicara serius layaknya pengamat budaya atau budayawan apalagi kalau sampai pada wilayah kritik-kritik kebudayaan. Sy tertarik datang ke acara tersebut karena menurut informasi yg saya dapat pada acara tersebut martin suryajaya menjadi salah satu pembicara dan sy ingin bertemu langsung dengan salah satu selebritis dlm perdebatan kiri di dunia maya (mungkin lebih tepat jika dikatakan pertengkaran dgn si tua Ge-eM). Sy ingin bertemu si selebritis bukan lantaran sy adalah bagian dari orang-orang yg kagum melihat dia sebagai bintang yg sementara bersinar terang (belum ada satupun bukunya yg pernah saya baca –puji Tuhan, rupanya sy dilindungi seperti halnya sy dilindungi dari membaca buku-buku andrea hirata yg tidak lebih dari catatan generasi yg tersubo...