Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

SI PENCERITA

sy ingin sekali merangkai huruf-huruf menjadi kalimat-kalimat namun rasanya berat sekali seperti beratnya nafasku yg selalu diinterupsi oleh batuk yg beberapa hari ini menghinggapiku. saya merasa berat dan takut untuk merangkai kata-kata menjadi sebuah cerita-cerita perwakilan isi kepalaku yg tak pernah sy tau bagaimana isi sebenarnya. terkadang di dalam kepalaku ada sesuatu yg terus bercerita tak henti-hentinya, bercerita tentang apa saja mulai dr sy sebagai pusat kehidupan sampai dunia sebagai pusat kehidupan. seandainya saja sy seorang penulis yg piawai merangkai kata mungkin sy sudah menghasilkan lusinan karya-karya yg menyabet berbagai macam penghargaan, dari penghargaan tingkat majalah sampai penghargaan bergengsi dalam dunia kesusastraan. bagaimana tdk, coba bayangkan, saat akan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka di pagi hari saja si pencerita dalam kepalaku sudah berceloteh panjang lebar yg jika dijadikan film serial tv mungkin menjadi puluhan bagian dgn berpuluh-puluh ...

m a n u s i a

Manusia dpt membunuh jika dia telah menganggap korbannya bukan manusia lagi, selama dia masih menganggap "manusia" korbannya dia tidak akan pernah sanggup membunuh. Jadi yg pertama dia hilangkan adalah "manusia" korbannya. Kalimat-kalimat seperti itu pernah sy baca di sebuah buku, dan sepertinya itu betul. Dulu, saat sy menghabisi nyawa korban-korbanku sy sama sekali tdk melihat korban-korbanku sebagai seorang manusia. Sy melihat korban-korbanku seperti nyamuk yg terus menggangguku dan membuatku susah tidur. Tak ada rasa kasihan karena mereka bukan apa-apa dlm kehidupanku, tak ada rasa sayang karena mereka bukan keluargaku, bukan orang tuaku, bukan saudaraku, bukan istriku, bukan anakku, bukan kekasihku yg sy sangat sayangi, bahkan bukan mainan atau hewan peliharaanku. Mereka adalah "yg lain" jadi sy tdk peduli jika mereka mati. Jika ada sedikit saja rasa kasihan atau rasa sayang, sy pasti tak akan sanggup menghabisi nyawa korban-korbanku. Dan sy pikir s...

Hidup

Untuk ? Apa ? Hidup ? Ini ? Untuk ? Untuk apa ? Untuk hidup ? Untuk ini ? Untuk ? Untuk apa hidup ini ? Ini hidup untuk apa ? Hidup ini untuk apa ? Apa ini hidup ? Hidup ini apa ? hidup ? Ini ? Untuk apa ? Apa ? Untuk ini hidup ? Untuk apa hidup ini ? ... Ah ... sudahlah Ayo kita pulang saja.

Hup hup hup ... hiyaaaaaaat

Ciyaaaat ... ciyat ciyat ciyat Ah ... sial, dia berhasil menghindari seranganku. Terimalah ini ... heyaaaaat ... heyaaat heyat ... Terima ini lagi ... heyaaaaat Kena kau ! Aaaaargh ... dia berhasil lagi menghindar. Sial ! Ciyat Ciyat Ciyat ... ciyaaaaat Aaaaaaaarhg Ciyaaaaat ... hiyat ... hiyat ... Hup hup hup ... Ciyat Ciyat Ciyat Ciyaaaaaaaat Hup Hiyat hiyat hiyat Hiyaaaaaaat Hiyat hiyat ... Aaaaaaargh ... Kesempatanku tinggal sekali Hiyaaaaaaaaaaaat ... ...

. . .

Senang bisa bertemu dirimu lagi kawan. ... Maaf, tdk ada maksud menghalangi keinginanmu bercerita tentang berbagai hal. Kau telah bercerita tentang banyak hal, izinkan aku yg bercerita kali ini. Aku tak bermaksud menghinamu, namun kau memang tampak sangat menyedihkan tapi sebenarnya tak jauh berbeda dgn diriku. Coba liat, aku dihukum oleh Dewa mendorong batu hingga kepuncak kemudian setelah sampai di puncak aku harus menggelindingkannya lagi ke bawah untuk nantinya harus ku dorong lagi ke puncak. Hukuman itu tak dpt aku tolak dan aku tak mungkin meminta kesempatan hidup lagi untuk menebus dosa seperti yg pernah aku lakukan. Dalam nilai moral manusia sekarang tentu hukuman ini sangat tidak manusiawi, tapi ini kehendak Dewa dan aku tak mampu melawan karena aku bukan Dewa. Aku juga bukan manusia yg merasa kuat hingga mampu berkehendak melawan Dewa. Nah, aku sama menyedihkannya dgn dirimu. Hanya saja beberapa waktu yg lalu kau telah terlena dgn segala kemewahan yg mendekati dirimu hing...

KONFLIK - Plastik

ku benci diri sendiri ku musuhi ... ku jauhi semua tentang diriku ku hanguskan ku sakiti ... ku lupakan semuanya tentang diriku ku hilangkan diri sendiri ku ludahi lalu ku muntahkan ku ingkari hidupku ku racuni lalu biarkan terlantar dan terbakar ku bergantung di pelangi matahari pagi ku butakan mata diantara bintang di langit ku bohongi diriku ku bodohi lalu ku sesatkan jalan hidupku ku kecewakan diriku ku curigai semua rencana hidupku seperti benci yg selalu mereka ajarkan seperti bohong yg selalu mereka tanamkan di tanah hitam di tanah merah di tanah jingga di tanah penuh kebohongan ku asingkan diriku ku curigai semua tentang diriku ku hancurkan mimpiku ku hanguskan semuanya jalan hidupku ku bergantung di pelangi matahari pagi ku butakan mata diantara bintang di langit hitam di langit merah di langit jingga di langit penuh kemarahan ku hancurkan ku sakiti ku hilangkan https://db.tt/e0sWubkk

Lagu Hujan

Dulu para dukun selalu menyanyikan Lagu Hujan saat matahari sangat terik. Lagu Hujan sebenarnya adalah rangkaian mantra-mantra hanya karena dirapalkan dengan bernada maka terdengar bagai sebuah lagu. Namun Lagu Hujan bukanlah mantra pemanggil hujan. Saat Lagu Hujan dilantunkan waktu seperti mencair dan apapun akan ikut hanyut dalam aliran waktu yg mencair. Siapapun akan lupa diri jika mendengarkannya dan akan menemukan dirinya di sebuah tempat yg jauh. Tempat dimana tanahnya berwarna hitam serta merah dan pohon-pohon tumbuh diatasnya menjadi tiang bagi langit jingga. Di tempat itu pula orang-orang bertopeng wajah asing tapi tidak menakutkan namun membuat senyuman terkembang bahagia. Kebahagian itu mungkin muncul karena di atas setiap wajah-wajah itu melingkar pelangi yg berwarna pasta. Sebenarnya di tempat itu ada wajah-wajah asing yg diatasnya tak berpelangi, mereka adalah yg merasa sakit sendiri. Tapi mereka jarang terlihat karena mereka selalu bergantung pada balon-balon mimpi orang...

Self Quantum

Entah dimana sy melewati pintu dimensi waktu yg jelas sy tiba-tiba bertemu dengan diriku yg 20 tahun lalu. Diriku yg bersemangat melawan putaran waktu, berharap mampu memutar balik arah waktu atau paling tidak menghentikannya. Dia begitu kuat namun selalu merasa lemah, wajah datar dan keras namun selalu berusaha nanar menatap kosong ke depan. Tak perduli dengan sekitar seperti arwah penasaran yg bergentayangan gelisah di tengah-tengah hiruk pikuk kesibukan pesta. Aku tak tahu apakah dia melihatku juga atau tdk. Hanya senyuman yg entah bermakna apa kerap muncul saat mataku tepat mengarah ke bola matanya yg berbinar hampa. Jika kau pernah melihat dari dekat seorang petarung yg kuat namun kalah dan bersimbah darah tapi tetap tersenyum kira-kira seperti itulah senyumannya. Senyuman lemah namun kuat. Wajahnya selalu tertunduk saat berjalan namun begitu panik dan setelah kemunculan kepanikan itu tiba2 semua terkunci sangat rapat yg bahkan sehembusan angin pun tak dapat mencuri sedikit bau d...