
Ku dapati diriku kembali terhempas disudut ruangan hampa nan gelap, yang ada cuma diriku dan hitam yang teramat sangat pekat. Walau telah ku nyalakan sebuah lilin sisa dari ritual pemujaan namun cahayanya tak mampu mengusir pekatnya hitam yang menyelimutiku. Hitamnya terus menghitam dan terus berusaha menyelimuti seluruh diriku hingga terasa sampai kedalam sukmaku. Tarian lidah api di ujung sumbu lilin yang terbakar sama sekali tak berarti. Aku merasa nasibnya sama dengn diriku, ditertwai oleh hitam pekat yang mempecundangi keberadaannya.
Siapa diri ini ?
Siapa hitam yang pekat ini ?
Siapa lilin yang berlidah api ini ?
Semula yang ada hitam, diriku, dan lilin. Kini sesekali ku dengar lolongan serigala seolah mendekatiku tapi sosoknya tak kunjung nampak. Setelah lolongan serigala menghilang muncul suara-suara aneh bagai raungan monster. Suara-suara aneh itu terasa sangat dekat, tapi dimanakah dia ? Tak ada apapun disini selain hitam, diriku, dan sebatang lilin yang nampaknya akan segera habis.
Suasana kembali sunyi. Kesunyian yang sangat damai dan tenang. Aku lihat sisa lilin pemujaan yang jadi satu-satunya harapan pengusir gelap akan segera padam. Tak ada yang dapat aku lakukan, jika lidah api itu harus padam maka habislah semua.
Aku harus mengakhiri semua ini kalau tidak ingin diakhiri disaat semuanya belum berakhir.
Sudahlah, biarlah lilin itu padam, biarlah gelap yang hitam dan teramat sangat pekat ini tidak lagi sekedar menyelimutiku melainkan menelanku serta menjadi bagian dari diriku. Biarkanlah, seperti halnya ketika aku dibiarkan terhempas disini.
Tapi tunggu ... didepan seperti ada dua sosok yang bergerak mendekat, apa itu ?
aah ... terlambat ........
“lilin padam dan selanjutnya yang ada cuma hitam, tak ada yang tahu bagaimana nasib diriku dan sosok-sosok apa yang bergerak mendekatiku. tak ada yang tahu kecuali gelap yang terus menghitam dan memekat”
Komentar