Langsung ke konten utama

HITAM, LILIN & DIRIKU


Ku dapati diriku kembali terhempas disudut ruangan hampa nan gelap, yang ada cuma diriku dan hitam yang teramat sangat pekat. Walau telah ku nyalakan sebuah lilin sisa dari ritual pemujaan namun cahayanya tak mampu mengusir pekatnya hitam yang menyelimutiku. Hitamnya terus menghitam dan terus berusaha menyelimuti seluruh diriku hingga terasa sampai kedalam sukmaku. Tarian lidah api di ujung sumbu lilin yang terbakar sama sekali tak berarti. Aku merasa nasibnya sama dengn diriku, ditertwai oleh hitam pekat yang mempecundangi keberadaannya.

Siapa diri ini ?
Siapa hitam yang pekat ini ?
Siapa lilin yang berlidah api ini ?

Semula yang ada hitam, diriku, dan lilin. Kini sesekali ku dengar lolongan serigala seolah mendekatiku tapi sosoknya tak kunjung nampak. Setelah lolongan serigala menghilang muncul suara-suara aneh bagai raungan monster. Suara-suara aneh itu terasa sangat dekat, tapi dimanakah dia ? Tak ada apapun disini selain hitam, diriku, dan sebatang lilin yang nampaknya akan segera habis.

Suasana kembali sunyi. Kesunyian yang sangat damai dan tenang. Aku lihat sisa lilin pemujaan yang jadi satu-satunya harapan pengusir gelap akan segera padam. Tak ada yang dapat aku lakukan, jika lidah api itu harus padam maka habislah semua.

Aku harus mengakhiri semua ini kalau tidak ingin diakhiri disaat semuanya belum berakhir.
Sudahlah, biarlah lilin itu padam, biarlah gelap yang hitam dan teramat sangat pekat ini tidak lagi sekedar menyelimutiku melainkan menelanku serta menjadi bagian dari diriku. Biarkanlah, seperti halnya ketika aku dibiarkan terhempas disini.

Tapi tunggu ... didepan seperti ada dua sosok yang bergerak mendekat, apa itu ?
aah ... terlambat ........

“lilin padam dan selanjutnya yang ada cuma hitam, tak ada yang tahu bagaimana nasib diriku dan sosok-sosok apa yang bergerak mendekatiku. tak ada yang tahu kecuali gelap yang terus menghitam dan memekat”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

BERSYUKUR

ketika tanganmu menyentuh tanganku aku bahagia dan ketakutan karena sebuah percikan api tercipta. harapan muncul dari gelapnya sebuah dunia yang tak lagi memiliki kemungkinan untuk berharap. samar namun cukup untuk membuat hati tenang meski tak ada kepastian apakah api akan berkobar dari sebuah percikan api. mungkin hanya sebuah varian yang tak pasti namun aku bukanlah polisi atau hakim yang memutuskan fakta kebenaran, dan bukankah masa depan memang belumlah dituliskan, kira2 begitulah makna dari lirik sebuah lagu. jadi tentu terlalu picik untuk menghakimi sesuatu yang masih jauh jaraknya dalam perspektif dimensi ruang dan waktu. merayakan setiap percikap api yang muncul dari momentum-momentum yang terlihat bukanlah bid'ah karena masa depan bukan lagi berbicara tentang aku jadi jangan melibatkan aku dalam hal ini. lihatlah jalinan kisah yang terlihat menjuntai tak beraturan namun pasti tetap memiliki akar meski tertimbun dalam busuknya pupuk organik, sampah busuk dari sebuah sistem...