Aku sebenarnya tak pernah peduli dengan impian-impianku yang terus berloncatan dari satu impian ke impian lainnya seiring berubahnya linkungan dan pergaulanku. Dari impian konyol menjadi seorang polisi (konstruksi orang tua-ku sewaktu kecil) hingga impian-impian fantastis seorang anak muda.
Akibat sebuah novel, impian-impian itu kembali bermunculan dalam slide-slide di pikiranku. Berjalan dan terus berjalan.
Sebuah impian lama kembali mengambil ruang yang cukup besar, menyita konsentrasiku hingga aku menuliskan catatan sampah ini. Impian sederhana seorang anak kecil yang terus mencoba menyalurkan hasrat dan kreatifitasnya. Bukan impian fantastis yang butuh rekayasa sosial yang rumit dan berbelit-belit, hanya keberanian dan rasa percaya diri yang dibutuhkan tidak lebih tidak kurang. Meski termasuk konyol tapi ini murni, keluar begitu saja bersama talenta. Sebuah impian yang hancur berantakan akibat desakan realitas, namun tak musnah dan sekarang dia kembali hadir menggelitik nakal pikiranku.
Ah ... impian itu sudah berkali-kali mencoba muncul ke permukaan, namun berkali-kali pula karam begitu saja mungkin karena terlalu banyak tersusupi realitas dan saling berebut ruang dengan impian-impian lainnya. Ah ... impian itu .........
........................................................
........................................................
........................................................

aaaaargh... setan terkutuk !... catatan sampah !... anjing kurapan !... ini muncul hanya karena sebuah novel, dasar tak berguna. Orang lemah yang mudah terkondisikan, berubah sesuai dengan ruang dan waktu serta hanyut begitu saja hanya karena impulse-impulse keparat di luar diri. Tak ada yang salah dengan semua yang terjadi, akulah yang salah ... aku terlalu goblok dan tolol hingga menjadi sampah bersama catatan sampah ini.
Aku siapa ? Aku bukan apa-apa, lalu kenapa aku berharap apa-apa. Karena aku bukan apa-apa maka seharusnya aku pun juga tak berharap apa-apa. Seharusnya aku menjadi apa ada saja, tak ada rekayasa tak ada manipulasi ... berjalan apa adanya seperti angin yang berhembus dengan alamianya, kadang menyejukkan memang dan kadang pula menghancurkan ... itulah ke-alami-an.
Anjrit ... !!! Taik !!! Hueeek !!!
Terkutuklah kalian para agen-agen neptunus !!!
*di tulis dalam keadaan hati dan perasaan masih luluh lantak akibat sebuah novel setan dan pelem setan yang menjadi inspirasi dari novel setan itu
Akibat sebuah novel, impian-impian itu kembali bermunculan dalam slide-slide di pikiranku. Berjalan dan terus berjalan.
Sebuah impian lama kembali mengambil ruang yang cukup besar, menyita konsentrasiku hingga aku menuliskan catatan sampah ini. Impian sederhana seorang anak kecil yang terus mencoba menyalurkan hasrat dan kreatifitasnya. Bukan impian fantastis yang butuh rekayasa sosial yang rumit dan berbelit-belit, hanya keberanian dan rasa percaya diri yang dibutuhkan tidak lebih tidak kurang. Meski termasuk konyol tapi ini murni, keluar begitu saja bersama talenta. Sebuah impian yang hancur berantakan akibat desakan realitas, namun tak musnah dan sekarang dia kembali hadir menggelitik nakal pikiranku.
Ah ... impian itu sudah berkali-kali mencoba muncul ke permukaan, namun berkali-kali pula karam begitu saja mungkin karena terlalu banyak tersusupi realitas dan saling berebut ruang dengan impian-impian lainnya. Ah ... impian itu .........
........................................................
........................................................
........................................................

aaaaargh... setan terkutuk !... catatan sampah !... anjing kurapan !... ini muncul hanya karena sebuah novel, dasar tak berguna. Orang lemah yang mudah terkondisikan, berubah sesuai dengan ruang dan waktu serta hanyut begitu saja hanya karena impulse-impulse keparat di luar diri. Tak ada yang salah dengan semua yang terjadi, akulah yang salah ... aku terlalu goblok dan tolol hingga menjadi sampah bersama catatan sampah ini.
Aku siapa ? Aku bukan apa-apa, lalu kenapa aku berharap apa-apa. Karena aku bukan apa-apa maka seharusnya aku pun juga tak berharap apa-apa. Seharusnya aku menjadi apa ada saja, tak ada rekayasa tak ada manipulasi ... berjalan apa adanya seperti angin yang berhembus dengan alamianya, kadang menyejukkan memang dan kadang pula menghancurkan ... itulah ke-alami-an.
Anjrit ... !!! Taik !!! Hueeek !!!
Terkutuklah kalian para agen-agen neptunus !!!
*di tulis dalam keadaan hati dan perasaan masih luluh lantak akibat sebuah novel setan dan pelem setan yang menjadi inspirasi dari novel setan itu
Komentar