Langsung ke konten utama

Elegi Tengah Laut

tertulis dibawah awan mendung dan ancaman badai


Ah ... kenapa kau baru datang sekarang saat kapal-kapal telah berlayar meninggalkan dermaga menyusuri samudra luas tak bertepi, seandainya kau datang 1, 2, atau 3 tahun yang lalu tentu ceritanya akan berbeda.

Jika kau datang lebih cepat tentu kau telah ikut berada di tengah-tengah samudra luas menantang gelombang dan badai atau sekedar menikmati kesunyian laut tenang. Memangnya kau dimana selama ini ? Kenapa aku tak pernah melihatmu padahal kita hidup di kampung yang sama, kampung yang cukup mengajarkan saya banyak hal. Kampung yang berada ditengah-tengah tanah yang sangat memuakkan hingga anjing kurapan pun enggan hidup. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk sekedar hanya meratapi setiap jengkal tanah dan setiap bulir-bulir air mata yang menetes serta mengering di tanah terkutuk ini hingga aku tak pernah melihatmu hadir disalah satu sudut dalam ceruk-ceruk kehidupan.

Ah ... kenapa 1, 2, atau 3 tahun yang lalu kau tak menyapa diriku untuk sekedar mengajakku meluangkan waktu untuk bercerita tentang hingar bingar pembuatan perahu-perahu. Sekarang layar perahu telah terkembang ditengah samudra luas dan bergerak menuju pulau impian para pelaut yang keberadaannya tidak jelas yang membuat para pelaut berlayar menyusuri samudra dalam ketidak jelasan, hingga suatu saat harus terkubur bersama kapalnya yang karam di dasar samudra yang gelap. Atau mungkin jika sedikit beruntung dia akan mati dipulau terakhir yang disinggahi atau kalau lagi sangat sial mati dikapal dan bagai bangkai atau sisa makanan atau kotoran mayatnya dibuang kelaut oleh anak buah kapal yang baik yang ingin melanjutkan pencarian pulau impian tanpa terbebani mayat seorang pelaut sial.

Tapi tak usah bersedih, karena seingatku masih ada sebuah perahu kecil tertambat di dermaga yang enggan dipakai oleh pelaut yang lain karena sangat sederhana. Cobalah segera kesana karena saya yakin tak ada yang akan mengembangkan layar perahu itu. Tak usah bersedih hanya karena perahu kecil sebab sayapun hanya menggunakan perahu kecil, memang agak sedikit besar dari perahu yang tersisa di dermaga namun perahuku telah penuh lubang disana sini karena ketololanku hingga menghantam karang yang tak terlihat di permukaan air. Dibeberapa bagian kapalku juga mulai rapuh dimakan usia dan termakan rayap. Berlayar, yah ... aku yakin kau bisa berlayar dengan perahu itu tapi jangan terlalu berharap karena di laut harapan semu adanya, sesemu impian-impian karena lautan tak tertebak semua bisa terjadi dan semua bisa tidak terjadi. Semua bisa diketahui kalau layar telah terkembang dan laut disisir setiap detailnya karena itu segeralah ke dermaga bentangkan layar dan bergeraklah ke ujung cakrawala.

Jika kau tak berhenti dan terus berlayar menuju kaki langit dimana matahari terbenam maka mungkin suatu saat kita akan bertemu. Entah itu ditengah samudra di bawah ancaman badai ataupun di sebuah pulau yang entah dimana. Kemungkinan yang lain adalah kita bertemu di dasar lautan gelap ditempat dimana kapal kita sama-sama karam dan terkubur disana.
Berlayarlah agar setiap ketidak mungkinan bisa menjadi sebuah kemungkinan hingga mungkin suatu saat ruang-ruang ketidak mungkinan menjadi tidak mungkin lagi adanya.

Kalau harus berharapan mungkin hanya itulah harapan yang mungkin bisa mengubah cerita yang tentu berbeda seandainya kita bertemu 1, 2, atau 3 tahun yang lalu.

Yah ... ini memang hanya kemungkinan yang mungkin jika kau berlayar meski tak akan ada yang bisa menebak akhir dari pelayaranmu dan pelayaranku ditengah samudra luas tak bertepi.

Kau tentu cukup cerdas untuk memahami semua ini ...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

BERSYUKUR

ketika tanganmu menyentuh tanganku aku bahagia dan ketakutan karena sebuah percikan api tercipta. harapan muncul dari gelapnya sebuah dunia yang tak lagi memiliki kemungkinan untuk berharap. samar namun cukup untuk membuat hati tenang meski tak ada kepastian apakah api akan berkobar dari sebuah percikan api. mungkin hanya sebuah varian yang tak pasti namun aku bukanlah polisi atau hakim yang memutuskan fakta kebenaran, dan bukankah masa depan memang belumlah dituliskan, kira2 begitulah makna dari lirik sebuah lagu. jadi tentu terlalu picik untuk menghakimi sesuatu yang masih jauh jaraknya dalam perspektif dimensi ruang dan waktu. merayakan setiap percikap api yang muncul dari momentum-momentum yang terlihat bukanlah bid'ah karena masa depan bukan lagi berbicara tentang aku jadi jangan melibatkan aku dalam hal ini. lihatlah jalinan kisah yang terlihat menjuntai tak beraturan namun pasti tetap memiliki akar meski tertimbun dalam busuknya pupuk organik, sampah busuk dari sebuah sistem...