Bergerak maju ke titik mati meninggalkan diam. Mencapai surga ketiadaan bersama kedirian yg bukan aku. Tak bersayap capai langit tak bertepi, bersatu bersama awan kecil putih dan hitam jadi bagian penghidup bumi yg semakin renta. Seperti awan yg terus bergerak seiring angin dan badai, menjadi bagian dari panasnya terik mentari dan dingin serta basahnya hujan dan badai.
Sayap putih dan halus malaikat yg jadi bagian dari diri hancur terburai ...
bukan terkoyak terserang tapi terlalu rapuh
untuk sekedar memeluk kehidupan dengan sayap
yg putih dan halus namun rapuh. Tapi ketak bersayapan justru membuat diri terasa ringan, terbang bebas menjadi satu diantara helai-helai bulu sayap yg melayang dan terbang bebas lepas dari tubuh. Melayang dan terbang bebas tanpa pernah terikat dalam sebuah ketentuan berpola yg kerap membatasi dan menciptakan ke-aku-an yang tak lebih dari sebuah
omong kosong peradaban.
Menjadi dalam ketiadaan kondisi awalan dan akhiran, karena awal adalah akhir dan akhir adalah awal dalam lintasan kepulangan abadi dalam doktrin kosmos. Dimana keberadaan ada menjadi tak ada, musnah dalam sebuah ketiadaan yang niscaya. hancur dalam setiap daya menjadi
diri dengan sebuah ke-aku-an hingga akhirnya musnah tak bersisa ...



0 komentar:
Poskan Komentar