Langsung ke konten utama

Di Simpang Jalan

Hai pak tua !

Bisakah kau menunjukkan padaku jalan pulang. Menurut orang-orang aku tersesat dan sekarang aku tak tahu jalan pulang. Apakah dirimu sebagai orang tua bisa menunjukkan padaku jalan pulang ? Tapi ingat pak tua, jangan sekali-kali bicara moralitas kosong didepanku ! Aku sudah teramat sangat muak dengan semua itu. Kalau cuma persoalan moralitas mending kau tak usah berbicara sepatah kata padaku karena aku jauh lebih pandai membicarakan moralitas dari pada kau. Jadi jika jalan pulang yang kau tunjukkan tidak lebih dari anjuran moralitas maka lebih baik kau segera berlalu dari hadapanku sebelum aku penuhi mukamu dengan muntahku. Tinggalkan saja aku sendiri dalam ketersesatan sebagaimana yang dikatakan orang-orang. Kalau jalan pulang itu adalah moralitas kosong maka aku yakin dan teramat sangat yakin bahwa aku memang tersesat, tersesat dalam kebenaran yang teramat sangat sempurna. Jangan bengong begitu pak tua, ini biasa saja, jadi pergilah !!!


… … …


Kau … ya … kau anak muda !!!

lihat diriku dan lihat jalan di sisi kiri dan di sisi kanan ku, di depan dan di belakangku. Apakah aku memang tersesat seperti yang dikatakan orang-orang ? Sebelum kau menjawab aku ingatkan padamu bahwa sebelum dirimu, aku sudah bertanya pada seorang pak tua dan aku ingatkan padanya untuk tidak berkata sepatah katapun jika yang ingin dikatakan tidak lebih dari sekedar anjuran-anjuran moralitas kosong. Jadi seperti halnya pak tua, lebih baik kau segera pergi jika kau mau berbicara moralitas padaku karena jika kau tak segera pergi, jangan salahkan aku jika aku menendang bokongmu yang sama sekali tidak menarik. Hey … hey … jangan marah … masih teramat sangat banyak yang lebih pantas untuk menjadi objek kemarahanmu. Lihat di ujung sana, ya … pak tua itu. Dia lebih pantas untuk menjadi objek kemarahanmu. “Kenapa ?” kau masih bertanya “kenapa ?” … bodoh … kau betul-betul bodoh. Lihat dirimu, di mata pak tua itu kau tidak lebih dari seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa, yang masih teramat sangat butuh bimbingan dari orang yang lebih tua. Dalam keyakinan pak tua itu, pikiranmu masih teramat sangat dangkal karenanya kau belum sanggup memahami semuanya, kau tidak lebih dari anak kecil yang selayaknya hanya mendengarkan dongeng-dongeng bercampur mitos warisan sejarah para leluhur pak tua itu. Marah … kau masih marah padaku ? Sudahlah … pergilah segera … pergilah ke pak tua di ujung sana atau pergilah kemana saja kau mau. Terserah ke mana kau akan pergi, yang jelas enyahlah dari jalanku karena kau sudah cukup menggangguku. Pergilah sebelum aku menghajar dan menendang bokongmu !!!


… … …


Adik kecil, adik kecil kemarilah !!!

adik kecil, menurut orang-orang aku tersesat. Bisakah kau menunjukkan jalan pulang untuk ku ? Atau paling tidak ajaklah aku ketempat yang kau tuju. Tentu kau sedang menuju ke sebuah tempat bermain dimana di tempat itu telah berkumpul teman-temanmu yang menunggumu dan telah siap tuk bermain dan bersenang-senang serta bergembira. Jangan katakan padaku bahwa kau sedang tidak menuju ke tempat bermain. Jangan katakan padaku bahwa kau sedang menuju ke tempat yang diberi nama sekolah, tempat yang katanya disana kita dapat belajar banyak hal termasuk belajar menjadi manusia padahal tidak lebih dari penjara yang tidak jauh berbeda dari penjara abad ke 19 dimana disana ada orang-orang liar terpenjara yang berusaha dijinakkan, ada sipir yang selalu berusaha tampil berwibawa dengan lukisan kekejaman disetiap guratan-guratan wajahnya, ada hukuman untuk setiap pelanggaran aturan-aturan yang dibuat sepihak oleh orang-orang yang merasa diri lebih baik dan lebih beretika serta lebih manusiawi ketimbang mereka yang terpenjara. Adik kecil, tolong jangan katakan kau dalam perjalanan menuju sekolah !!!


… … … … … …


Kaka, aku cama cekali ta' paham apa yang kaka katakan.

Aku juga ta' tahu apakah kaka tercecat atau tidak kalna itu aku ta' bica membantu menunjukkan jalan pulang, aku ta' tahu kaka dali mana mau ke mana. Maaf ya kaka.

Kaka, aku halus cegela pelgi, campai jumpa kaka … daaaa kaka !!!


… … …


Dimana aku ? … … …


Apakah aku tersesat ? … … …


tidaaaaaaaaak … … …


… … … … … …



Tertulis jelas dalam headline sebuah koran lokal hari ini : Telah ditemukan sebuah bangkai manusia dewasa disalah satu perempatan jalan ibu kota. Menurut tim forensik kepolisian setempat, dari ciri-ciri yang ada bisa dipastikan bahwa bangkai itu adalah bangkai anak kecil yang hilang 27 tahun yang lalu.


… … …


Malam di sebuah rumah makan yang terbilang mewah yang berada tepat di jantung ibu kota.

Akhirnya kasus raibnya anak seorang saudagar terkaya di kota ini, kasus terbesar 27 tahun lalu, berhasil terpecahkan hari ini. Ini suatu hal yang fenomenal karena itu sudah selayaknya untuk dirayakan dengan perayaan yang fenomenal seperti ini.

Sementara perayaan dengan segala kemewahan berlangsung, di depan rumah makan mewah itu di sebuah warung kopi yang sangat sederhana tengah berlangsung pertemuan penting dihadiri beberapa anak muda berpenampilan urakan tapi ada juga beberapa yang penampilannya cukup rapi dan parlente. Pembicaraan mereka seputar rencana mengubah dunia dan agenda mendesak sealigus agenda pertama mereka adalah membunuh semua pembohong yang merasa diri paling berhak menjadi pemimpin di dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.