Minggu, 05 Juni 2011

Sebuah Dongeng*

Ada dongeng dari timur pada zaman dulu tentang seorang pengembara yg didekati seekor hewan yg marah di sebuah dataran. Ia berhasil lolos, tapi jatuh ke dalam perigi kering. Celakanya ia melihat di dasar perigi seekor naga yg membuka mulutnya lebar-lebar untuk menelannya. Pengembara yg malang itu tak berani memanjat keluar sumur agar tak dimangsa hewan di dataran. Ia juga tak berani meloncat ke dasar perigi agar tak ditelan naga. Maka ia merenggut ranting di sebuah celah perigi dan bergantung padanya. Lama-lama kedua tangannya makin lemah dan ia merasa akan segera menyerah terhadap kehancuran yg menunggunya di bawah ataupun di atas. Tapi ia tetap bergantung pada ranting itu.

Lalu ia melihat dua ekor tikus, putih dan hitam, berputar-putar di pangkal ranting itu dan menggerogotinya. Ranting itu akan segera putus dan ia akan jatuh ke dalam mulut naga. Si pengembara melihat ini dan tahu ia akhirnya akan tewas, tapi sementara tetap bergantung, ia melihat ke sekitar. Ia melihat tetesan-tetesan madu di dedaunan di ranting itu lalu menggapainya dengan lidah dan meenjilatinya.

Maka aku juga bergantung pada ranting kehidupan karena tahu naga kematian tak bisa dielakkan menungguku, siap mencabik-cabikku. Aku tak bisa mengerti mengapa aku telah jatuh ke dalam siksaan demikian. Kucoba menjilati madu yg sebelumnya menghiburku, tapi madu itu tak lagi memberiku kesenangan. Tikus putih dan hitam yg melambangkan siang dan malam itu menggerogoti ranting tempatku bergantung. Kulit naga itu dengan jelas dan madu itu tak lagi terasa manis. Aku hanya melihat tak bisa dihindari dan kedua tikus itu, dan aku tak bisa melepaskan tatapan dari mereka. Ini bukan dongeng, tapi kebenaran nyata yg tak dapat disangkal tapi bisa dimengerti semua.


* dikutip dari buku A Confession kumpulan pengakuan/ungkapan Leo Tolstoy sebelum meninggal, direkam/dituliskan oleh Aylmer Maude [teman dekat Tolstoy]

0 komentar: