Langsung ke konten utama

Sebuah Dongeng*

Ada dongeng dari timur pada zaman dulu tentang seorang pengembara yg didekati seekor hewan yg marah di sebuah dataran. Ia berhasil lolos, tapi jatuh ke dalam perigi kering. Celakanya ia melihat di dasar perigi seekor naga yg membuka mulutnya lebar-lebar untuk menelannya. Pengembara yg malang itu tak berani memanjat keluar sumur agar tak dimangsa hewan di dataran. Ia juga tak berani meloncat ke dasar perigi agar tak ditelan naga. Maka ia merenggut ranting di sebuah celah perigi dan bergantung padanya. Lama-lama kedua tangannya makin lemah dan ia merasa akan segera menyerah terhadap kehancuran yg menunggunya di bawah ataupun di atas. Tapi ia tetap bergantung pada ranting itu.

Lalu ia melihat dua ekor tikus, putih dan hitam, berputar-putar di pangkal ranting itu dan menggerogotinya. Ranting itu akan segera putus dan ia akan jatuh ke dalam mulut naga. Si pengembara melihat ini dan tahu ia akhirnya akan tewas, tapi sementara tetap bergantung, ia melihat ke sekitar. Ia melihat tetesan-tetesan madu di dedaunan di ranting itu lalu menggapainya dengan lidah dan meenjilatinya.

Maka aku juga bergantung pada ranting kehidupan karena tahu naga kematian tak bisa dielakkan menungguku, siap mencabik-cabikku. Aku tak bisa mengerti mengapa aku telah jatuh ke dalam siksaan demikian. Kucoba menjilati madu yg sebelumnya menghiburku, tapi madu itu tak lagi memberiku kesenangan. Tikus putih dan hitam yg melambangkan siang dan malam itu menggerogoti ranting tempatku bergantung. Kulit naga itu dengan jelas dan madu itu tak lagi terasa manis. Aku hanya melihat tak bisa dihindari dan kedua tikus itu, dan aku tak bisa melepaskan tatapan dari mereka. Ini bukan dongeng, tapi kebenaran nyata yg tak dapat disangkal tapi bisa dimengerti semua.


* dikutip dari buku A Confession kumpulan pengakuan/ungkapan Leo Tolstoy sebelum meninggal, direkam/dituliskan oleh Aylmer Maude [teman dekat Tolstoy]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

BERSYUKUR

ketika tanganmu menyentuh tanganku aku bahagia dan ketakutan karena sebuah percikan api tercipta. harapan muncul dari gelapnya sebuah dunia yang tak lagi memiliki kemungkinan untuk berharap. samar namun cukup untuk membuat hati tenang meski tak ada kepastian apakah api akan berkobar dari sebuah percikan api. mungkin hanya sebuah varian yang tak pasti namun aku bukanlah polisi atau hakim yang memutuskan fakta kebenaran, dan bukankah masa depan memang belumlah dituliskan, kira2 begitulah makna dari lirik sebuah lagu. jadi tentu terlalu picik untuk menghakimi sesuatu yang masih jauh jaraknya dalam perspektif dimensi ruang dan waktu. merayakan setiap percikap api yang muncul dari momentum-momentum yang terlihat bukanlah bid'ah karena masa depan bukan lagi berbicara tentang aku jadi jangan melibatkan aku dalam hal ini. lihatlah jalinan kisah yang terlihat menjuntai tak beraturan namun pasti tetap memiliki akar meski tertimbun dalam busuknya pupuk organik, sampah busuk dari sebuah sistem...