Minggu, 14 Agustus 2011

MATAMALAM

Aku tak begitu suka dengan matahari !
Matahari itu penipu dan sok sekali.

Dia dengan semena-mena menyingkirkan malam dan menawarkan kesejukan pagi yg semu, nanti pada siang hari baru dia menampakkan dirinya yg sebenarnya. Sangat terang dan panasnya menyengat. Membuat orang-orang yg terlena dengan kesemuan pagi, tersadar karena sengatannya, mereka lari menghindar dan bersembunyi. Bersembunyi di bawah pohon-pohon rindang atau di bawah naungan atap, hanya orang-orang bodoh yg tak lari bersembunyi. Orang-orang tolol itu seperti kodok yg mati terebus karena terlena dan tak sempat meloncat keluar. Setelah berbuat semena-mena, matahari kembali menggelar kesejukan sore hari untuk membuat orang-orang lupa dengan apa yg telah dia lakukan di siang hari. Kesemuan itu terus digelar hingga malam datang dan membuat orang-orang tak pernah menyadari kedatangan malam, matahari telah tenggelam.

Malam pun datang bersama hadirnya benda-benda bercahaya indah di langit malam, namun matahari tak juga berhenti bertingkah. Diklaimnya cahaya benda-benda di langit malam adalah bagian dari cahayanya. Lalu disebarlah kebohongan bahwa cahaya itu tidak lebih dari pantulan cahayanya. Meski berjuta-juta para pemuja matahari mengeluarkan teori seilmiah mungkin untuk menopang klaim cahaya itu, aku tak bisa menerima serta mempercayainya serasional dan seilmiah apapun. Bagiku cahaya itu milik benda-benda langit itu sendiri, mungkin terdengar tolol bagi para pemuja matahari yg berpegang pada teori ilmiahnya tapi begitulah yg bisa aku terima mungkin karena aku tak suka matahari.
Aku tak suka matahari, aku lebih suka benda-benda bercahaya dilangit malam. Lihatlah benda yg paling besar, jika benda bercahaya di saat terang menamai dirinya matahari maka benda bercahaya di langit malam yg paling besar itu aku beri nama matamalam. Para pemuja matahari mungkin menerima hal ini, mungkin mereka akan berkata "benar, itu adalah matamalam dan matamalam itu hanyalah sisi minor matahari". Jika benar para pemuja matahari berkata demikian, aku bisa menerima pernyataan itu. Matamalam memang sisi minor dari matahari. Lihatlah, matamalam hadir bersama benda-benda bercahaya lainnya dilangit malam. Memberi ruang di panggung gelap pada yg lain untuk untuk menjadi bagian indah dari kegelapan malam. Tak seperti matahari, kehadirannya yg bercahaya sangat terang membuat yg lain terdominasi dan hilang. Matamalam juga sangat dinamis dan bersahabat. Lihatlah kala pertama dia muncul, seperti tersenyum tipis dan agak malu-malu. Hari-hari berikutnya, semakin lebar hingga akhirnya menjadi bulat terang seperti mata seorang anak kecil yg terbuka lebar dan berbinar. Saat akan pergi dia pun tersenyum. Dari senyuman lebar kemudian pada hari-hari berikutnya menjadi tipis dan semakin tipis hingga menjadi senyum tipis yg sangat manis dan seolah berkata "aku pergi tapi tenanglah, tak usah takut pada panggung yg gelap karena aku dan yg lain pasti akan kembali untuk membuat panggung itu kembali menjadi indah".

Dan jika orang-orang mulai damai dalam malam yg gelap, tiba-tiba matahari merampas kedamaian itu. Dia membongkar panggung gelap dan menggantinya dengan panggung miliknya yg terang benderang. Dicampakkannya langit malam, lalu semua tak diberi hak untuk menampakkan cahayanya. Hanya dirinyalah yg boleh nampak bercahaya, matahari membuat dirinya bercahaya dari terang menjadi seterang-terangnya hingga menyengat orang-orang yg berada dibawahnya.

Oh matahari, aku tak suka dirimu ...

Matamalam kembalilah bersama teman-temanmu, indahkan kembali panggung gelap malam hingga kami kembali tak takut pada kegelapan yg menjadi panggungmu.

0 komentar: