Langsung ke konten utama

Catatan Dari Tragedi Launching Buku Kompilasi Pidato Kebudayaan DKJ 1998-2013

Kemarin sore sy ikut acara launching buku Kompilasi Pidato* Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta 1998-2013 di sebuah tempat, sebenarnya sy tdk tertarik untuk datang dan memang sy juga cenderung sudah tidak tertarik lagi untuk menyimak atau bicara serius layaknya pengamat budaya atau budayawan apalagi kalau sampai pada wilayah kritik-kritik kebudayaan. Sy tertarik datang ke acara tersebut karena menurut informasi yg saya dapat pada acara tersebut martin suryajaya menjadi salah satu pembicara dan sy ingin bertemu langsung dengan salah satu selebritis dlm perdebatan kiri di dunia maya (mungkin lebih tepat jika dikatakan pertengkaran dgn si tua Ge-eM). Sy ingin bertemu si selebritis bukan lantaran sy adalah bagian dari orang-orang yg kagum melihat dia sebagai bintang yg sementara bersinar terang (belum ada satupun bukunya yg pernah saya baca –puji Tuhan, rupanya sy dilindungi seperti halnya sy dilindungi dari membaca buku-buku andrea hirata yg tidak lebih dari catatan generasi yg tersubordinasi- hanya beberapa artikelnya pernah sy baca dan artikel-artikel itu membuat sy seperti tak lagi berpijak di atas tanah), sy ingin bertemu juga bukan karena sy adalah simpatisan dari si tua Ge-eM yg saat ini diposisikan sebagai sosok tua yg jahat hingga beberapa orang-orang yg dulu mengaguminya terpaksa berbalik arah karena takut ikut-ikutan diklaim jahat (sama halnya dgn buku2 si martin, tak satupun buku Ge-eM pernah sy baca hingga tuntas, hanya beberapa tulisannya di sebuah majalah yg sempat sy baca. sy sering kehilangan arah dan tersesat dalam tulisan-tulisannya). Tapi sayang, setibanya di tempat acara sy langsung disuguhi kabar bahwa si selebritis tidak dapat hadir karena sebuah alasan yg menurut sy sangat konyol “ketinggalan pesawat”.

Sy sungguh sangat kecewa, dalam pikiran sy muncul pertanyaan-pertanyaan “bagaimana mungkin orang yg (dalam tulisan-tulisannya di website dan berbagai blog) seolah-olah telah khatam dalam filsafat MDH bisa ketinggalan pesawat ? mengapa orang yg nampaknya sangat fasih berbicara tentang marxisme sampai ketinggalan pesawat yg artinya membuang-buang uang yg jumlahnya tidak sedikit ? apakah dia menganggap acara ini tidak begitu penting kalau memang begitu adanya lalu apa tendensi beliau terlibat dlm penyusunan buku ini yg tdk lebih dari kumpulan kritik-kritik moral ?”

Ah … sudahlah

mungkin sy belum berjodoh untuk bertemu si selebritis.

Oh iya … soal acaranya yg terpaksa sy ikuti, sy pikir tentulah sangat bijak jika tidak dibahas karena dgn adanya label DKJ sudah bisa ditebak ke mana arahnya. Kalau dibahas bisa memancing komentar yg mungkin akan sedikit melibatkan emosi (cukuplah kiranya sy terpancing berkomentar secara emosional dan ngawur pada saat acara berlangsung). Jika masih ada yg tertarik ingin membaca atau sekedar ingin tahu perihal buku Kompilasi Pidato Kebudayaan DKJ 1998-2013 silahkan jalan-jalan ke komunitas yg memiliki perpustakaan, mungkin di sana anda bisa mendapatkan buku tersebut. Silahkan dibaca sendiri karena sy tidak dapat bercerita banyak tentang buku tersebut (pertama kali memegangnya sy hanya tertarik satu tulisan dlm buku tersebut dan tulisan itu hanya pengantar yg ditulis oleh Hilmar farid).

Sudah ya? kalau dilanjut ntar malah tambah ngawur sy juga dah mau tidur, besok pagi harus kerja buat dapat duit untuk makan. Mungkin di lain waktu kita bisa lanjutkan lagi dengan hal-hal yg lebih menyenangkan tentunya.

daaaa

* awalnya sy pikir Orasi ternyata Pidato :-D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

BERSYUKUR

ketika tanganmu menyentuh tanganku aku bahagia dan ketakutan karena sebuah percikan api tercipta. harapan muncul dari gelapnya sebuah dunia yang tak lagi memiliki kemungkinan untuk berharap. samar namun cukup untuk membuat hati tenang meski tak ada kepastian apakah api akan berkobar dari sebuah percikan api. mungkin hanya sebuah varian yang tak pasti namun aku bukanlah polisi atau hakim yang memutuskan fakta kebenaran, dan bukankah masa depan memang belumlah dituliskan, kira2 begitulah makna dari lirik sebuah lagu. jadi tentu terlalu picik untuk menghakimi sesuatu yang masih jauh jaraknya dalam perspektif dimensi ruang dan waktu. merayakan setiap percikap api yang muncul dari momentum-momentum yang terlihat bukanlah bid'ah karena masa depan bukan lagi berbicara tentang aku jadi jangan melibatkan aku dalam hal ini. lihatlah jalinan kisah yang terlihat menjuntai tak beraturan namun pasti tetap memiliki akar meski tertimbun dalam busuknya pupuk organik, sampah busuk dari sebuah sistem...