Langsung ke konten utama

lama tak menulis ...


...

sebenarnya ... 

sejak media sosial secara legal merampok apa yg melintas dipikiran kita* 

maka tak ada lagi yg pantas untuk ditulis. 

orang-orang menjadi begitu jujur perlihatkan dirinya, 

kejujuran atas persenggama antara pikiran dan muntahan informasi. 

nasib menulis sudah hampir sama dengan berbicara 

sudah tak berguna lagi karena apa bedanya antara ucapan dengan igau 

sejak postingan di media sosial berlomba dengan tarikan nafas kita 

menjadi yg tercepat hingga membuat aliran informasi sederas aliran darah dalam tubuh kita. 


yah, koloborasi media penkonstruk wacana sudah sebegitu harmonis

jadikan kita babi gemuk yg panik di atas sebuah sofa depan monitor. 

semua sudah selesai dengan ikut serta berwara-wiri dalam gegap gempita 

trending topic atau sekedar like, reshare, repost, comment .. bla bla bla ... ha ha ha ... hi hi hi ... 

dan sulitlah kita bedakan waras dan tidak waras, 

tak lebih lagi dari pikiran kusut yg kemudian saling terjalin menjadi jalinan kekusutan 

yg tak lagi kita tau di mana ujungnya**. 

atau mungkin seperti mimpi, 

berloncat-loncatan ke sana ke mari 

dan ketika bangun semua selesai, 

kecuali jika kau sampai pada kondisi high

maka mimpi itu akan berlanjut ke alam sadarmu.





* yg mungkin sebuah benih untuk sesuatu yg brillian atau hanya sampah hasil konstruksi informasi yg terlalu banyak kita konsumsi

** sekali kau mencoba menjalinkan pikiranmu dalam jalinan kekusutan maka tak akan mudah untuk mengurai kembali pikiranmu untuk menemukan awal dan akhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

BERSYUKUR

ketika tanganmu menyentuh tanganku aku bahagia dan ketakutan karena sebuah percikan api tercipta. harapan muncul dari gelapnya sebuah dunia yang tak lagi memiliki kemungkinan untuk berharap. samar namun cukup untuk membuat hati tenang meski tak ada kepastian apakah api akan berkobar dari sebuah percikan api. mungkin hanya sebuah varian yang tak pasti namun aku bukanlah polisi atau hakim yang memutuskan fakta kebenaran, dan bukankah masa depan memang belumlah dituliskan, kira2 begitulah makna dari lirik sebuah lagu. jadi tentu terlalu picik untuk menghakimi sesuatu yang masih jauh jaraknya dalam perspektif dimensi ruang dan waktu. merayakan setiap percikap api yang muncul dari momentum-momentum yang terlihat bukanlah bid'ah karena masa depan bukan lagi berbicara tentang aku jadi jangan melibatkan aku dalam hal ini. lihatlah jalinan kisah yang terlihat menjuntai tak beraturan namun pasti tetap memiliki akar meski tertimbun dalam busuknya pupuk organik, sampah busuk dari sebuah sistem...