...
sebenarnya ...
sejak media sosial secara legal merampok apa yg melintas dipikiran kita*
maka tak ada lagi yg pantas untuk ditulis.
orang-orang menjadi begitu jujur perlihatkan dirinya,
kejujuran atas persenggama antara pikiran dan muntahan informasi.
nasib menulis sudah hampir sama dengan berbicara
sudah tak berguna lagi karena apa bedanya antara ucapan dengan igau
sejak postingan di media sosial berlomba dengan tarikan nafas kita
menjadi yg tercepat hingga membuat aliran informasi sederas aliran darah dalam tubuh kita.
yah, koloborasi media penkonstruk wacana sudah sebegitu harmonis
jadikan kita babi gemuk yg panik di atas sebuah sofa depan monitor.
semua sudah selesai dengan ikut serta berwara-wiri dalam gegap gempita
trending topic atau sekedar like, reshare, repost, comment .. bla bla bla ... ha ha ha ... hi hi hi ...
dan sulitlah kita bedakan waras dan tidak waras,
tak lebih lagi dari pikiran kusut yg kemudian saling terjalin menjadi jalinan kekusutan
yg tak lagi kita tau di mana ujungnya**.
atau mungkin seperti mimpi,
berloncat-loncatan ke sana ke mari
dan ketika bangun semua selesai,
kecuali jika kau sampai pada kondisi high
maka mimpi itu akan berlanjut ke alam sadarmu.
* yg mungkin sebuah benih untuk sesuatu yg brillian atau hanya sampah hasil konstruksi informasi yg terlalu banyak kita konsumsi
** sekali kau mencoba menjalinkan pikiranmu dalam jalinan kekusutan maka tak akan mudah untuk mengurai kembali pikiranmu untuk menemukan awal dan akhir.
Komentar