Aku memutuskan untuk memulai hidup baru. Sebuah kehidupan baru dimana semua hal-hal yang orang benci pada diriku akan aku tinggalkan. Dari beberapa orang yang berhubungan dengan diriku terlihat jelas bagaimana mereka sangat membenci beberapa hal pada diriku. Ada yang membenci sifat lambanku yang dimata mereka adalah sifat bermalas-malasan seorang pemalas tak berguna. ada yang membenci kebiasaanku menilai segala sesuatu yang mereka anggap memgada-ada dan ngawur, aku memang senang menilai sesuatu bahkan senandung tiba seseorang bagiku adalah sesuatu yang menarik dan ternyata menurut salah satu teori psikologi senandung tiba-tiba merupakan refleksi alam bawah sadar yang direpresi. Ada orang yang membenci kesenanganku membaca mungkin menurut mereka membaca adalah bagian dari kebiasaan jelek seorang pemalas. Ada malah yang membenci saat diriku mencoba berfikir dan merenung, jika aku sedang berfikir atau merenungkan sesuatu biasanya mereka berkata "kenapa kamu tinggal diam begitu ? Bukankah banyak pekerjaan yang bisa kau kerjakan jadi berhentilah tinggal diam seperti itu." Kebiasaan untuk hidup apa adanya adalah hal yang juga dibenci beberapa orang, ketika aku membela perbuatanku yang mencoba hidup apa adanya mereka akan berkata "kau betul-betul orang aneh, kenapa tidak seperti orang-orang pada umumnya yang hidup seperti apa sebagaimana orang-orang pada umumnya." Masih banyak lagi hal-hal yang sungguh dibenci oleh orang-orang yang mengenalku karena itulah aku memutuskan untuk pindah dan memulai hidup baru dengan tidak melakukan lagi hal-hal yang dibenci oleh orang-orang yang mengenalku.
Setelah berselancar di intenet aku akhirnya menemukan sebuah bentuk kehidupan yang terlihat sangat menyenangkan. Aku pun melanjutkan berselancar di internet dan akhirnya diantara tumpukan-tumukan informasi ku temukan sebuah tempat yang cocok untuk konsep kehidupan menyenangkan yang tadi aku temukan. Wawabatu, itulah nama tempatnya. Berada dipinggiran kota yang masih asri dimana dalam kesunyian malam hari masih bisa terdengar suara binatang malam berbaur dengan suara-suara alam lainnya. Setelah meyakinkan diri untuk memulai hidup baru yang menyenangkan di tempat bernama wawabatu aku pun menentukan waktu kepindahanku. Minggu depan, ya ... Sepertinya waktu seminggu dari sekarang sudah lebih dari cukup.
Akhirnya waktu untuk pindah yang telah ku tetapkan tiba juga. Aku mengecek semua persiapan barang-barang yang mungkin aku perlukan selama minggu-minggu awal diriku di wawabatu. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku "apakah disana mudah mendapatkan tempat tinggal ?" Aku pun mengeluarkan kertas-kertas yang berisi print out dari informasi-informasi tentang wawabatu yang ku temukan di internet. Ku baca dengan seksama lembar demi lembar dan ternyata tak ada informasi tentang penyewaan atau penjualan rumah di wawabatu tak ada juga informasi tentang hotel atau penginapaan di sana. Ah ... Aku betul-betul teledor, informasi seperti ini harusnya sedari awal harus aku dapatkan. Perasaan was-was muncul, aku hendak mengeluarkan smartphoneku untuk berselancar di internet mencari informasi tentang tempat tinggal di wawabatu namun aku mengurungkan niat berselancar dan memutuskan untuk langsung ke wawabatu dan mencari informasi tempat tinggal langsung di sana jadi bisa lebih akurat. Barang-barang yang rencananya akan aku bawa tak jadi aku bawa nanti setelah dapat tempat tinggal yang jelas baru aku akan membaca barang-barang yang telah aku siapkan.
Aku diantar ojek dekat rumah ke "terminal pembantu dalam kota" dalam perjalanan aku bertemu tetangga sebelah rumah yang membenci kebiasaanku memutar lagu rock dengan suara keras dan kebiasaanku memainkan gitar di sore hari di teras rumah. Tetanggaku itu melihatku dengan tatapan heran namun aku membalas tatapannya dengan senyuman dan tatapan herannya pun berganti dengan senyuman yang sepertinya mencemooh diriku. Setelah sedikit terhalang oleh kemacetan akibat lampu lalu lintas yang tidak berfungsi aku akhirnya tiba di terminal. Sesampai di terminal aku merasa lapar dan aku pun mencari sebuah bangku yang bisa aku jadikan tempat istirahat sejenak sekalian untuk makan roti yang telah aku siapkan dari rumah. Aku tak menemukan bangku yang dapat aku pakai, akhirnya aku berjalan menuju mushollah terminal dan menjadikan teras mushollah sebagai tempat meluruskan kaki sekalian menikmati rotiku untuk mengobati rasa laparku. Tak lama berselang ada seorang lelaki keluar dari dalam mushollah dan aku pun langsung menyapanya dan bertanya padanya "bagaimanakah caranya ke wawabatu ?" Sejenak dia mengamatiki lalu dia tersenyum ramah padaku dan menjelaskan padaku cara ke wawabatu. Setelah mendapatkan penjelasan dari orang itu aku pun menyucapkan terima kasih dan bergegas meninggalkan mushollah mencari angkot yang dimaksud orang itu. Karena tak menemukan angkot yang dimaksud akhirnya aku memilih kembali ke mushollah untuk meminta penjelasan yang lebih jelas lagi dari orang tadi. Namun sesampainya di mushollah aku tak menemukan lagi orang itu, hanya seorang kakek yang terlihat duduk di teras sambil memijit-mijit betisnya. Aku pun menghampiri kakek itu. Setelah mengucapkan salam dan langsung dibalas oleh kakek itu dengan ramah, aku pun bertanya pada kakek itu tentang cara ke wawabatu. Kakek itu hanya mengulang penjelasan orang yang aku tanya sebelumnya namun dengan bahasa yan berbeda karena itu aku sempat kecewa namun kekecewaanku terobati setelah kakek itu berkata "memang di jam-jam segini agak susah mencari angkot ke wawabatu biasanya menjelang malam baru banyak. Kalau sekarang mau ke wawabatu sebaiknya naik ojek saja. Kalau memang mau tunggu di sini saja, di dalam ada tukang ojek yang lagi sholat." Aku pun memutuskan naik ojek sebagaimana kata kakek itu. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya terlihat seorang berjalan keluar dari dalam mushollah, aku langsung menghampirinya dan bertanya apakah dia ngojek. Orang itu mengiyakan. Aku pun langsung bertanya "bisakah aku diantar ke wawabatu ?" Orang itu mengiyakan dan kami pun langsung berangkat ke wawabatu.
Setelah berjalan selama sekitar 30 menit, motor pun berhenti dan si tukang ojek itu berkata "kita sudah sampai di wawabatu." Aku pun keheranan karena si tukang ojek membawaku ke sebuah kompleks pemakaman. Aku tak mengerti, lalu aku bertanya pada si tukang ojek "apa maksudmu ? Kenapa kau bawa aku ke depan kompleks pemakaman ?" Si tulang ojek terlihat jengkel "bapak tadi meminta sy untuk mengantar bapak ke wawabtu, nah ini kita telah sampai di kompleks pemakaman wawabatu." Aku masih tak mengerti lalu aku perhatikan kompleks pemakaman itu pada bagian atas gerbang kompleks pemakanan meski sudah mulai pudar namun masih bisa terbaca dengan jelas "KOMPLEKS PEMAKAMAN UMUM - WAWABATU" aku lalu bertanya pada si tukang ojek "apakah tak ada kompleks perumahan atau kampung yang bernama wawabatu ?" Untuk menghilangkan kejengkelannya si tulang ojek membakar rokoknya terlebih dahulu baru setelah menghembuskan asap rokoknya dia berkata "tidak ada nama daerah wawabatu yang ada tanabatu dan tdk ada perumahan di tanabatu yang ada cuma kompleks pemakaman wawabatu. Nah kita sekarang sudah berada di daerah tanabatu dan kita sementara berada tepat di depan kompleks pemakaman wawabatu." Aku langsung mengeluarkan lembaran-lembaran kertas print out informasi tentang wawabatu dari dalam kantong celanaku dan mengamatinya ternyata kertas itu hanya kertas-kertas kosong, sama sekali tak ada tulisan apapun pada kertas itu. Aku kebingungan dan karena tak tau harus berbuat apa lagi aku meminta si tulang ojek untuk mengantarku pulang.
Sesampai di rumah aku duduk-duduk di teras rumah sambil merangkai kembali perjalananku ke wawabatu. Aku teringat lagi dengan lembaran-lembaran kertas di kantongku, aku keluarkan dan ternyata kertas itu betul-betul hanya kertas-kertas kosong. Mungkin di internet ada informasi yang bisa membuat semua ini jelas, aku pun mengeluarkan smartphoneku dan mencari informasi tentang wawabatu melalui mesin pencari. Tak ada informasi yang ku dapat seperti saat pertama kali aku menemukan informasi tempat bernama wawabatu yang ada hanya informasi yang menerangkan bahwa wawabatu adalah bagian dari daerah bernama tanabatu. "Bagaimana jalan-jalannya pak ?" Aku kanget tiba-tiba mendengar sebuah suara, ternyata tetangga yang tadi bertemu denganku. Aku pun langsung berdiri dan berjalan mendekatinya. Setelah berada cukup dekat dengannya aku balik bertanya padanya "apakah tadi kita bertemu di jalan ?" Tetanggaku nampak keheranan lalu dia menjawab "iya, tadi kita bertemu di jalan. Kau naik motormu itu dengan sangat pelan" aku mengikuti arah telunjuknya, ternyata mengarah ke sebuah motor yang setelah ku amati memang motorku. Aku semakin tak mengerti "maksudmu, saat kita bertemu aku naik motorku sediri dan bukannya naik ojek ?" Tetanggaku tersenyum dengan senyuman khasnya yang menurutku sangat mencemooh lalu menjawab "iya pak, tadi saat kita bertemu bapak bermotor sendiri dengan motor bapak dan berjalan dengan sangat pelan. Aku sempat heran tapi aku pikir bapak sedang bersantai-santai seperti biasanya."
Aku semakin tak mengerti. Setelah mengucapkan terima kasih atas informasinya, aku pun pamit meninggalkannya dan kembali ke teras rumahku. Sebelum ke teras aku ke motorku dulu dan ku coba memegang mesinnya, ternyata mesinnya masih hangat itu berarti motor ini memang baru saja jalan. Sungguh semua ini sangat sulit tuk dipahami. aku mencoba memikirkan kembali semuanya dan bukannya aku semakin paham malah semua menjadi semakin kabur bagiku. Ku tebar pandangan dan pandanganku jatuh ke motorku. Aku kembali berdiri dan berjalan menuju motorku. Mungkin ada baiknya aku kembali ke wawabatu, siapa tau di sana ada yang bisa membuat semua ini jadi jelas. Aku langsung menstater motorku dan berangkat ke wawabatu. Aku mengingat-ingat kembali jalan ke sana tiba-tiba aku teringat dengan kakek di mushollah terminal. Niat langsung ke wawabatu aku ubah dan motorku aku arahkan menuju "terminal pembantu dalam kota". Tiba di terminal aku langsung menuju ke mushollah. Sesampai di mushollah aku tebar pandanganku mencari kakek yang menganjurkanku naik ojek ke wawabatu. Aku tak menemukan kakek itu. Tiba-tiba seseorang memukul pundakku dengan pelan. Aku menoleh dan ku lihat seorang pemuda yang sepertinya pengurus mushollah, dia tersenyum padaku lalu bertanya "sepertinya bapak mencari sesuatu ? Mungkin sy bisa membantu." Aku pun langsung bertanya menjawabnya "ya aku mencari seseorang, seorang kakek. Apakah anda melihatnya ?" Si pemuda kemdian menjawab "sedari tadi mushollah ini sunyi dan memang di hari seperti ini biasanya sunyi. Tak ada kakek-kakek yang datang ke mushollah ini yang ada justru bapak yang tadi datang kemudian duduk-duduk memakan roti dan memijat-mijat betis bapak sendiri." Mendengar jawaban pemuda itu aku jadi bertambah heran "maksudmu tadi aku datang di sini dan cuma duduk-duduk sendiri sambil makan roti dan meluruskan kaki serta memijat-mijat betisku sendiri ?" Si pemuda menawarkanku untuk duduk-duduk di teras mushollah. Di teras mushollah pemuda itu bercerita "tadi bapak datang ke sini dengan motor yang bapak sekarang terus bapak langsung ke teras dan duduk-duduk tepat di tempat kita duduk sekarang. Setelah bapak menghabiskan roti bapak kemudian pergi menuju ke arah sana dengan berjalan kaki dan tak berapa lama bapak kembali lagi. Bapak seperti mencari sesuatu dan lalu bapak bergumam tapi karena sy mengamati bapak dari jarak yang cukup jauh sy jadi tdk bisa medengar apa yang bapak katakan, sy mengamati bapak dari sana. Setelah bapak duduk sejenak akhirnya bapak pergi dengan motor bapak. Begitulah pak, jadi cuma bapak yg hari ini bolak-balik ke mushollah ini." Semuanya jadi bertambah sulit untuk Ku mengerti. Bukankah di mushollah ini aku tadi bertemu dua orang satu lelaki yang tidak begitu tua yang menjelaskan tentang cara ke wawabatu dengan angkot dan seorang lagi kakek yang menyarankan aku naik ojek kalau mau ke wawabatu. Aku memutuskan untuk ke wawabatu, mungkin di sana ada informasi yang bisa menjelaskan semua ini. Setelah pamit pada si pemuda pengurus mushollah terminal, aku pun langsung mengendarai motorku menuju wawabatu melalui jalan yang tadi aku lalui. Karena aku mengendari motorku dengan sedikit kencang maka tak cukup 30 menit aku sudah tiba di depan gerbang pemakamaan wawabatu di mana tadi aku berada bersama si tukang ojek. Namun betapa kangetnya diriku ketika melihat di depanku ternyata bukanlah gerbang wawabatu melainkan gerbang villa. Di atas gerbang tertulis dengan jelas "SELAMAT DATANG DI VILLA WAWABATU INDAH" aku ternganga membaca tulisan di gerbang itu. Belum hilang rasa kangetku ketika ku lihat seseorang berjalan menujuku dari dalam gerbang. Setelah berada tepat di depanku orang itu menyodorkan tangannya untuk bersalaman, aku langsung menyambut tangannya. Setelah menyalamiku orang itu berkata "akhirnya bapak kembali, tadi saat bapak pergi saya pikir bapak salah alamat tapi karena bapak kembali lagi sy yakin bapak tak salah alamat. Kalau bapak tak salah alamat berarti di dalam telah banyak yang menunggu bapak, mari masuk pak." Aku masih tak mengerti dengan semua ini tapi aku pun tak bisa menolak ajak orang itu. Kami pun berjalan masuk. Aku teringat motorku dan aku berbalik ke belakang. Dibelalangku tak kulihat motorku yang terlihat hanyalah samar-samar rombongan orang-orang yang berjalan berlawanan arah meninggalkanku.
* * *
Seorang pengendara sepeda motor Yamaha Mio tewas setelah menabrak mobil Kijang Pickup di Jalan Raya Tanabatu, Minggu (3/5) sekitar pukul 04.30 WIB. Pria tanpa identitas dan memiliki tato dibagian kiri lengan itu tewas dengan kondisi kepala retak.
Menurut informasi, korban melaju dengan kecepatan tinggi dari arah pemakaman wawabatu. Sementara di depan korban, sebuah mobil Toyota Avanza juga melaju kencang.
baru beberapa meter dari Taman Pemakaman Umum (TPU) Wawabatu, korban ingin mendahului mobil Avanza, namun disaat bersamaan, sebuah mobil Pickup dari arah berlawanan juga melaju dengan kecepatan tinggi.
Karena memotong jalan secara tiba-tiba, tabrakan pun tak terhindari. Pengemudi pickup berusaha menolong korban dan membawanya ke RSUD Tanabatu. Tapi, di tengah perjalanan nyawa pria berkulit putih itu tak tertolong lagi.
Sebab, ia mengalami luka yang cukup serius, dimana bagian kepala korban retak dan bagian tubuh lainnya patah. Parahnya, di saku celana atau baju korban tak satupun ditemukan identitas. Namun, korban memiliki ciri-ciri berbadan besar, berkulit putih dan memiliki tato.
Kanit Laka Lantas Polresta Tanabatu membenarkan kejadian itu. Diduga, korban ingin mendahului mobil Toyota Avanza yang nopolnya belum diketahui. "Benar ada tabrakan. Kita sedang cari identitas korban," pungkasnya singkat, kemarin.
---
akhirnya saya menemukan berita kematiannya di website sebuah website.
notifikasi pengingat akan masuknya waktu sholat muncul, saya pun meaktifkan mode silent dan memasukkan smartphoneku ke dalam kantong. terlihat ada beberapa orang yang berjalan menuju ke mushollah, tanpa menunggu lebih lama lagi saya segera masuk ke mushollah untuk menyapu dan mempersiapkan segala sesuatu untuk sholat magrib.
Referensi ide berita :
Setelah berselancar di intenet aku akhirnya menemukan sebuah bentuk kehidupan yang terlihat sangat menyenangkan. Aku pun melanjutkan berselancar di internet dan akhirnya diantara tumpukan-tumukan informasi ku temukan sebuah tempat yang cocok untuk konsep kehidupan menyenangkan yang tadi aku temukan. Wawabatu, itulah nama tempatnya. Berada dipinggiran kota yang masih asri dimana dalam kesunyian malam hari masih bisa terdengar suara binatang malam berbaur dengan suara-suara alam lainnya. Setelah meyakinkan diri untuk memulai hidup baru yang menyenangkan di tempat bernama wawabatu aku pun menentukan waktu kepindahanku. Minggu depan, ya ... Sepertinya waktu seminggu dari sekarang sudah lebih dari cukup.
Akhirnya waktu untuk pindah yang telah ku tetapkan tiba juga. Aku mengecek semua persiapan barang-barang yang mungkin aku perlukan selama minggu-minggu awal diriku di wawabatu. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku "apakah disana mudah mendapatkan tempat tinggal ?" Aku pun mengeluarkan kertas-kertas yang berisi print out dari informasi-informasi tentang wawabatu yang ku temukan di internet. Ku baca dengan seksama lembar demi lembar dan ternyata tak ada informasi tentang penyewaan atau penjualan rumah di wawabatu tak ada juga informasi tentang hotel atau penginapaan di sana. Ah ... Aku betul-betul teledor, informasi seperti ini harusnya sedari awal harus aku dapatkan. Perasaan was-was muncul, aku hendak mengeluarkan smartphoneku untuk berselancar di internet mencari informasi tentang tempat tinggal di wawabatu namun aku mengurungkan niat berselancar dan memutuskan untuk langsung ke wawabatu dan mencari informasi tempat tinggal langsung di sana jadi bisa lebih akurat. Barang-barang yang rencananya akan aku bawa tak jadi aku bawa nanti setelah dapat tempat tinggal yang jelas baru aku akan membaca barang-barang yang telah aku siapkan.
Aku diantar ojek dekat rumah ke "terminal pembantu dalam kota" dalam perjalanan aku bertemu tetangga sebelah rumah yang membenci kebiasaanku memutar lagu rock dengan suara keras dan kebiasaanku memainkan gitar di sore hari di teras rumah. Tetanggaku itu melihatku dengan tatapan heran namun aku membalas tatapannya dengan senyuman dan tatapan herannya pun berganti dengan senyuman yang sepertinya mencemooh diriku. Setelah sedikit terhalang oleh kemacetan akibat lampu lalu lintas yang tidak berfungsi aku akhirnya tiba di terminal. Sesampai di terminal aku merasa lapar dan aku pun mencari sebuah bangku yang bisa aku jadikan tempat istirahat sejenak sekalian untuk makan roti yang telah aku siapkan dari rumah. Aku tak menemukan bangku yang dapat aku pakai, akhirnya aku berjalan menuju mushollah terminal dan menjadikan teras mushollah sebagai tempat meluruskan kaki sekalian menikmati rotiku untuk mengobati rasa laparku. Tak lama berselang ada seorang lelaki keluar dari dalam mushollah dan aku pun langsung menyapanya dan bertanya padanya "bagaimanakah caranya ke wawabatu ?" Sejenak dia mengamatiki lalu dia tersenyum ramah padaku dan menjelaskan padaku cara ke wawabatu. Setelah mendapatkan penjelasan dari orang itu aku pun menyucapkan terima kasih dan bergegas meninggalkan mushollah mencari angkot yang dimaksud orang itu. Karena tak menemukan angkot yang dimaksud akhirnya aku memilih kembali ke mushollah untuk meminta penjelasan yang lebih jelas lagi dari orang tadi. Namun sesampainya di mushollah aku tak menemukan lagi orang itu, hanya seorang kakek yang terlihat duduk di teras sambil memijit-mijit betisnya. Aku pun menghampiri kakek itu. Setelah mengucapkan salam dan langsung dibalas oleh kakek itu dengan ramah, aku pun bertanya pada kakek itu tentang cara ke wawabatu. Kakek itu hanya mengulang penjelasan orang yang aku tanya sebelumnya namun dengan bahasa yan berbeda karena itu aku sempat kecewa namun kekecewaanku terobati setelah kakek itu berkata "memang di jam-jam segini agak susah mencari angkot ke wawabatu biasanya menjelang malam baru banyak. Kalau sekarang mau ke wawabatu sebaiknya naik ojek saja. Kalau memang mau tunggu di sini saja, di dalam ada tukang ojek yang lagi sholat." Aku pun memutuskan naik ojek sebagaimana kata kakek itu. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya terlihat seorang berjalan keluar dari dalam mushollah, aku langsung menghampirinya dan bertanya apakah dia ngojek. Orang itu mengiyakan. Aku pun langsung bertanya "bisakah aku diantar ke wawabatu ?" Orang itu mengiyakan dan kami pun langsung berangkat ke wawabatu.
Setelah berjalan selama sekitar 30 menit, motor pun berhenti dan si tukang ojek itu berkata "kita sudah sampai di wawabatu." Aku pun keheranan karena si tukang ojek membawaku ke sebuah kompleks pemakaman. Aku tak mengerti, lalu aku bertanya pada si tukang ojek "apa maksudmu ? Kenapa kau bawa aku ke depan kompleks pemakaman ?" Si tulang ojek terlihat jengkel "bapak tadi meminta sy untuk mengantar bapak ke wawabtu, nah ini kita telah sampai di kompleks pemakaman wawabatu." Aku masih tak mengerti lalu aku perhatikan kompleks pemakaman itu pada bagian atas gerbang kompleks pemakanan meski sudah mulai pudar namun masih bisa terbaca dengan jelas "KOMPLEKS PEMAKAMAN UMUM - WAWABATU" aku lalu bertanya pada si tukang ojek "apakah tak ada kompleks perumahan atau kampung yang bernama wawabatu ?" Untuk menghilangkan kejengkelannya si tulang ojek membakar rokoknya terlebih dahulu baru setelah menghembuskan asap rokoknya dia berkata "tidak ada nama daerah wawabatu yang ada tanabatu dan tdk ada perumahan di tanabatu yang ada cuma kompleks pemakaman wawabatu. Nah kita sekarang sudah berada di daerah tanabatu dan kita sementara berada tepat di depan kompleks pemakaman wawabatu." Aku langsung mengeluarkan lembaran-lembaran kertas print out informasi tentang wawabatu dari dalam kantong celanaku dan mengamatinya ternyata kertas itu hanya kertas-kertas kosong, sama sekali tak ada tulisan apapun pada kertas itu. Aku kebingungan dan karena tak tau harus berbuat apa lagi aku meminta si tulang ojek untuk mengantarku pulang.
Sesampai di rumah aku duduk-duduk di teras rumah sambil merangkai kembali perjalananku ke wawabatu. Aku teringat lagi dengan lembaran-lembaran kertas di kantongku, aku keluarkan dan ternyata kertas itu betul-betul hanya kertas-kertas kosong. Mungkin di internet ada informasi yang bisa membuat semua ini jelas, aku pun mengeluarkan smartphoneku dan mencari informasi tentang wawabatu melalui mesin pencari. Tak ada informasi yang ku dapat seperti saat pertama kali aku menemukan informasi tempat bernama wawabatu yang ada hanya informasi yang menerangkan bahwa wawabatu adalah bagian dari daerah bernama tanabatu. "Bagaimana jalan-jalannya pak ?" Aku kanget tiba-tiba mendengar sebuah suara, ternyata tetangga yang tadi bertemu denganku. Aku pun langsung berdiri dan berjalan mendekatinya. Setelah berada cukup dekat dengannya aku balik bertanya padanya "apakah tadi kita bertemu di jalan ?" Tetanggaku nampak keheranan lalu dia menjawab "iya, tadi kita bertemu di jalan. Kau naik motormu itu dengan sangat pelan" aku mengikuti arah telunjuknya, ternyata mengarah ke sebuah motor yang setelah ku amati memang motorku. Aku semakin tak mengerti "maksudmu, saat kita bertemu aku naik motorku sediri dan bukannya naik ojek ?" Tetanggaku tersenyum dengan senyuman khasnya yang menurutku sangat mencemooh lalu menjawab "iya pak, tadi saat kita bertemu bapak bermotor sendiri dengan motor bapak dan berjalan dengan sangat pelan. Aku sempat heran tapi aku pikir bapak sedang bersantai-santai seperti biasanya."
Aku semakin tak mengerti. Setelah mengucapkan terima kasih atas informasinya, aku pun pamit meninggalkannya dan kembali ke teras rumahku. Sebelum ke teras aku ke motorku dulu dan ku coba memegang mesinnya, ternyata mesinnya masih hangat itu berarti motor ini memang baru saja jalan. Sungguh semua ini sangat sulit tuk dipahami. aku mencoba memikirkan kembali semuanya dan bukannya aku semakin paham malah semua menjadi semakin kabur bagiku. Ku tebar pandangan dan pandanganku jatuh ke motorku. Aku kembali berdiri dan berjalan menuju motorku. Mungkin ada baiknya aku kembali ke wawabatu, siapa tau di sana ada yang bisa membuat semua ini jadi jelas. Aku langsung menstater motorku dan berangkat ke wawabatu. Aku mengingat-ingat kembali jalan ke sana tiba-tiba aku teringat dengan kakek di mushollah terminal. Niat langsung ke wawabatu aku ubah dan motorku aku arahkan menuju "terminal pembantu dalam kota". Tiba di terminal aku langsung menuju ke mushollah. Sesampai di mushollah aku tebar pandanganku mencari kakek yang menganjurkanku naik ojek ke wawabatu. Aku tak menemukan kakek itu. Tiba-tiba seseorang memukul pundakku dengan pelan. Aku menoleh dan ku lihat seorang pemuda yang sepertinya pengurus mushollah, dia tersenyum padaku lalu bertanya "sepertinya bapak mencari sesuatu ? Mungkin sy bisa membantu." Aku pun langsung bertanya menjawabnya "ya aku mencari seseorang, seorang kakek. Apakah anda melihatnya ?" Si pemuda kemdian menjawab "sedari tadi mushollah ini sunyi dan memang di hari seperti ini biasanya sunyi. Tak ada kakek-kakek yang datang ke mushollah ini yang ada justru bapak yang tadi datang kemudian duduk-duduk memakan roti dan memijat-mijat betis bapak sendiri." Mendengar jawaban pemuda itu aku jadi bertambah heran "maksudmu tadi aku datang di sini dan cuma duduk-duduk sendiri sambil makan roti dan meluruskan kaki serta memijat-mijat betisku sendiri ?" Si pemuda menawarkanku untuk duduk-duduk di teras mushollah. Di teras mushollah pemuda itu bercerita "tadi bapak datang ke sini dengan motor yang bapak sekarang terus bapak langsung ke teras dan duduk-duduk tepat di tempat kita duduk sekarang. Setelah bapak menghabiskan roti bapak kemudian pergi menuju ke arah sana dengan berjalan kaki dan tak berapa lama bapak kembali lagi. Bapak seperti mencari sesuatu dan lalu bapak bergumam tapi karena sy mengamati bapak dari jarak yang cukup jauh sy jadi tdk bisa medengar apa yang bapak katakan, sy mengamati bapak dari sana. Setelah bapak duduk sejenak akhirnya bapak pergi dengan motor bapak. Begitulah pak, jadi cuma bapak yg hari ini bolak-balik ke mushollah ini." Semuanya jadi bertambah sulit untuk Ku mengerti. Bukankah di mushollah ini aku tadi bertemu dua orang satu lelaki yang tidak begitu tua yang menjelaskan tentang cara ke wawabatu dengan angkot dan seorang lagi kakek yang menyarankan aku naik ojek kalau mau ke wawabatu. Aku memutuskan untuk ke wawabatu, mungkin di sana ada informasi yang bisa menjelaskan semua ini. Setelah pamit pada si pemuda pengurus mushollah terminal, aku pun langsung mengendarai motorku menuju wawabatu melalui jalan yang tadi aku lalui. Karena aku mengendari motorku dengan sedikit kencang maka tak cukup 30 menit aku sudah tiba di depan gerbang pemakamaan wawabatu di mana tadi aku berada bersama si tukang ojek. Namun betapa kangetnya diriku ketika melihat di depanku ternyata bukanlah gerbang wawabatu melainkan gerbang villa. Di atas gerbang tertulis dengan jelas "SELAMAT DATANG DI VILLA WAWABATU INDAH" aku ternganga membaca tulisan di gerbang itu. Belum hilang rasa kangetku ketika ku lihat seseorang berjalan menujuku dari dalam gerbang. Setelah berada tepat di depanku orang itu menyodorkan tangannya untuk bersalaman, aku langsung menyambut tangannya. Setelah menyalamiku orang itu berkata "akhirnya bapak kembali, tadi saat bapak pergi saya pikir bapak salah alamat tapi karena bapak kembali lagi sy yakin bapak tak salah alamat. Kalau bapak tak salah alamat berarti di dalam telah banyak yang menunggu bapak, mari masuk pak." Aku masih tak mengerti dengan semua ini tapi aku pun tak bisa menolak ajak orang itu. Kami pun berjalan masuk. Aku teringat motorku dan aku berbalik ke belakang. Dibelalangku tak kulihat motorku yang terlihat hanyalah samar-samar rombongan orang-orang yang berjalan berlawanan arah meninggalkanku.
* * *
Seorang pengendara sepeda motor Yamaha Mio tewas setelah menabrak mobil Kijang Pickup di Jalan Raya Tanabatu, Minggu (3/5) sekitar pukul 04.30 WIB. Pria tanpa identitas dan memiliki tato dibagian kiri lengan itu tewas dengan kondisi kepala retak.
Menurut informasi, korban melaju dengan kecepatan tinggi dari arah pemakaman wawabatu. Sementara di depan korban, sebuah mobil Toyota Avanza juga melaju kencang.
baru beberapa meter dari Taman Pemakaman Umum (TPU) Wawabatu, korban ingin mendahului mobil Avanza, namun disaat bersamaan, sebuah mobil Pickup dari arah berlawanan juga melaju dengan kecepatan tinggi.
Karena memotong jalan secara tiba-tiba, tabrakan pun tak terhindari. Pengemudi pickup berusaha menolong korban dan membawanya ke RSUD Tanabatu. Tapi, di tengah perjalanan nyawa pria berkulit putih itu tak tertolong lagi.
Sebab, ia mengalami luka yang cukup serius, dimana bagian kepala korban retak dan bagian tubuh lainnya patah. Parahnya, di saku celana atau baju korban tak satupun ditemukan identitas. Namun, korban memiliki ciri-ciri berbadan besar, berkulit putih dan memiliki tato.
Kanit Laka Lantas Polresta Tanabatu membenarkan kejadian itu. Diduga, korban ingin mendahului mobil Toyota Avanza yang nopolnya belum diketahui. "Benar ada tabrakan. Kita sedang cari identitas korban," pungkasnya singkat, kemarin.
---
akhirnya saya menemukan berita kematiannya di website sebuah website.
notifikasi pengingat akan masuknya waktu sholat muncul, saya pun meaktifkan mode silent dan memasukkan smartphoneku ke dalam kantong. terlihat ada beberapa orang yang berjalan menuju ke mushollah, tanpa menunggu lebih lama lagi saya segera masuk ke mushollah untuk menyapu dan mempersiapkan segala sesuatu untuk sholat magrib.
Referensi ide berita :

Komentar