Langsung ke konten utama

aku butuh tidur

aku ingin menuliskan sebuah cerita namun rasanya sangat susah.

coba ku tutup mataku, mungkin kegelapan bisa menganugerahi sedikit ketenangan.

dalam mata terpejam ku lihat kegelapan yang dalam.

perlahan-lahan ku susuri kegelapan, sesekali terlihat berkas-berkas cahaya yang tak jelas.

berkas cahaya itu muncul begitu tiba-tiba dan ketika didekati dia semakin menjauh,

semakin coba ku dekati dia semakin tak terjangkau sebesar apapun usahaku.

lalu dia menghilang secara mendadak, lalu seberkas cahaya baru muncul dan sama saja tak terjangkau.

aku pun membuka mata, mengakhiri usaha sia-sia yang aku lakukan.

sebatang rokok ku keluarkan dari bungkusnya dan membakarnya.

asap rokok mengepul di depan wajahku.

ku amati gerak lepas kepulan asap rokokku, terlihat menari-nari indah di keremangan cahaya lampu 5 watt.

tiba-tiba pikiranku digerogoti rasa iri melihat gerak bebas asap rokokku,

langsung ku kibaskan tanganku dan kepulan asap rokokku berhamburan tak karuan

lalu membaur dalam kepengapan kamarku dan akhirnya menghilang entah ke mana.

ku raih kaleng birku, ku goyang-goyangkan untuk memastikan harapanku bisa terpenuhi.

ternyata kaling bir itu masih berisi, langsung ku teguk habis.

kaleng bir yang telah kosong langsung ku lempar ke keranjang sampah di sudut kamarku.

sial, kaleng itu gagal masuk di tempat sampah.

kaleng terjatuh di samping tempat sampah, bergabung dengan kaleng bir lainnya yg juga gagal masuk.

ku isap lagi rokoklu lalu ku perhatikan jari-jari kakiku yg kotor.

tiba-tiba terlintas pikiran, mungkin dengan sedikit berjalan-jalan bisa membuatku tenang.

tapi aku terlalu capek dan agak malas untuk bertemu dengan orang-orang.

atau aku berjalan-jalan di kamar ini saja ?

ah, kamar ini terlalu kecil, tak cocok untuk berjalan-jalan di kamar ini dan berharap mendapat ketenangan.

mungkin tidur-tiduran di lantai bisa memberiku ketenangan aku pun memperhatikan lantai kamarku dan mencari tempat yang agak bersih untuk tempat membaringkan badan.

ternyata hanya di dekat tumpukan buku-buku yang agak bersih.

aku hisap lagi rokokku dalam-dalam dan sisanya langsung ku lempar ke kamar mandi,

bara api yg padam terkena air terdengar mendesis seperti suara ular.

ku buka bajuku lalu berbaring terlentang di lantai.

dalam posisi terlentang langit-langit kamarku menjadi objek pengamatanku.

terlihat seekor cicak di sekitar lampu.

sepertinya ada seekor serangga kecil yang bernasib sial siap jadi menu makan malamnya.

si cicak bergerak lagi dengan sangat perlahan lalu dia berhenti,

mungkin calon mangsanya sudah berada dalam area jangkauan lidahnya.

cicak itu masih berdiam diri, hanya ekornya yang bergerak-gerak perlahan.

aku menahan napas tak ingin membuat kegaduhan yang bisa menggagalkan usaha si cicak mendapatkan makan malam.

tiba-tiba dia bergerak dengan cepat.

"yes !" teriakku sambil mengepalkan jari-jari tanganku.

cicak itu tiba-tiba berdecak lalu bergerak menjauhi lampu.

apakah cicak itu berhasil memangsa serangga kecil yang tak ku lihat ? jangan-jangan dia gagal ?

ah, brengsek kau.

aku langsung mencari sesuatu di dekatku yang bisa ku lemparkan ke cicak itu.

di dekatku hanya ada tumpukan buku. ada sebuah buku yang agak tipis, langsung ku ambil dan hendak ku lemparkan ke cicak itu. sebelum ku lempar ku lihat sampulnya,

oh ... ternyata salah satu buku kesayanganku, buku yang ku beli saat menjadi pelajar di sebuah institusi pendidikan.

di bawah keremangan lampu kamarku ku amati sampul buku itu.

ehm ... meski buku ini masih menjadi salah satu buku kesayanganku tapi kini buku ini terlihat biasa-biasa saja,

apa mungkin karena cerita dalam buku ini sudah ku baca berkali-kali ?

ku letakkan kembali buku itu di tempatnya.

kembali ku perhatikan langit-langit kamarku.

rupanya cicak itu sudah menghilang.

ku amati seluruh langit-langit kamarku, dia betul-betul menghilang entah ke mana.

perhatianku ku arahkan ke lampu pijar 5 watt yang tergantung begitu saja di langit-langit kamarku.

bosan mengamati lampu kamarku yg bercahaya kuning remang-remang aku langsung memejamkan mataku.

tapi kini aku tak ingin mencari ketenangan untuk menulis sebuah cerita, aku ingin tidur.

aku lelah dan bukan ketenangan untuk menulis yang aku butuhkan tapi istirahat yang aku butuhkan.

aku lelah dan aku butuh istirahar, aku butuh tidur.

ya ... itu yang aku butuhkan, tidur.









00.55

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.