picture: from google
aku pikir ... disni banyak yang tinggal.
ternyata aku salah, tak ada yang tinggal disini.
aku sendiri dalam ruangan sempit yang tak perlu ku sebut ukurannya. ruangan yang hanya diterangi cahaya rembulan dan mentari. cahayanya masuk melalui jendela yang ku biarkan selalu terbuka. namun tak banyak cahaya masuk karena yang ku sebut jendela tak lebih dari sepotong papan dinding yang ku buka paksa. pengap di saat matahari bersinar terik dan lembab di saat dingin menyusup masuk di malam hari.
sepertinya memang tempat ini tak layak untuk ditinggali, bahkan kecoak dan tikus jarang terlihat kalau pun ada dia pasti tersesat atau secara tak sengaja masuk di ruangan ini. namun inilah duniaku, dunia yang sepertinya hanya aku yang nyaman tinggal di dalamnya. di dunia ini cahaya terbatas jadi tentulah warna berbeda, merahnya darah dan beningnya air mata tampak berbeda meski rasa sakit dan perih tetap sama. namun apalah artinya rasa yang tak lebih dari reaksi saraf yang memicu reaksi kimia dalam otak. rasa tak terindrai jadi sepenuhnya subjektif bagi tiap objek yang menjadi subjek yang tak bisa objektif.
inilah duniaku, jadi mungkin wajar jika tak ada yang bisa tinggal di sini karena ini bukan dunia mereka. apakah ada dunia yang sama bagi subjek yang berbeda? saya pikir tak akan ada karena objek yang menjadi subjek tak akan mungkin objektif dalam melihat subjektifitas. lalu apakah aku harus tetap disini dalam dunia dimana aku sendiri? sepertinya bagiku jawabannya "harus" karena ini duniaku bukan dunia orang lain. jadi sejauh apapun aku pergi jika aku kembali ke sini aku harus sendiri menikmati kesendirian dalam kehampaan di dunia yang kecil yang hanya aku sendiri yang tinggal.
tapi satu yang aku yakini yang membuatku tak ingin mengajak orang lain hidup di duniaku ... ini bukan dunia para sufi atau dunia para orang suci, ini duniaku terserah kalian mau menilainya bagaimana.
NB : ku mohon, jangan anggap aku cengeng

Komentar