di zaman sekarang sy sering terjebak dalam ilusi kecepatan, di mana kecepatan konsumsi menjadi indikator penting dalam hidup.padahal sangat banyak hal yang sy pikir tak mesti secara tergesah-gesah dikonsumsi dan banyak pula hal yang (bahkan) seharusnya bisa tak dikonsumsi namun terkonsumsi karena sy terhanyut dalam arus kecepatan konsumsi.
kuantitas menjadi hal prinsipil dalam ilusi kecepatan konsumsi karena dengan jumlah kuantitas yang tinggi akan membuka peluang banyak hal yang bisa ditemukan. namun sayang, banyaknya hal yang dikonsumsi membuat tumpukan sampah semakin tinggi sehingga hal penting bisa jadi tertimbun hingga peluang menemukannya jadi sangat kecil.
saat ini sangat sedikit waktu untung duduk menimbang sesuatu, apakah layak dikonsumsi sekarang juga atau nanti atau bahkan sama sekali tak perlu sy konsumsi kecuali untuk sekedar cemilan tapi untuk cemilan pun bisa jadi masalah karena dapat menghilangkan selera makan pada hal-hal yang lebih berkualitas. mungkin karena terlalu panjangnya antrian informasi di belakang sehingga sy terintimidasi untuk segera memutuskan tanpa pernah memberi ruang otak untuk bekerja menimbang-menimbang. konsumsi sekarang atau menyingkirlah dari antrian, mungkin seperti itu teriakan mereka yang antri dibelakangku.
walhasil, karena terlalu banyak mengkonsumsi membuatku kekenyangan. kantuk pun menyerang dan tentu saja jika kantuk menyerang maka pilihan terbaik adalah tidur, jika tidak maka pilihan yang tersisa adalah kembali mengkonsumsi lebih banyak lagi dan lagi hingga tak ada lagi pilihan selain beranjak tidur dalam kondisi kekenyangan.
lalu, tidur pun memberi ruang bagi mimpi untuk membakar semua yang telah dikonsumsi hingga terbakar habis. saat terbangun, lapar kembali menyerang dan sy pun kembali berada dalam kondisi dilema dimana sy harus memilih cepat tanpa perlu memberi ruang untuk memikirkan apakah ini dapat dikonsumsi nanti saja pada saatnya dia memang harus dikonsumsi, atau bahkan tak perlu sy konsumsi karena hanya akan membuat perutku mules.
kuantitas menjadi hal prinsipil dalam ilusi kecepatan konsumsi karena dengan jumlah kuantitas yang tinggi akan membuka peluang banyak hal yang bisa ditemukan. namun sayang, banyaknya hal yang dikonsumsi membuat tumpukan sampah semakin tinggi sehingga hal penting bisa jadi tertimbun hingga peluang menemukannya jadi sangat kecil.
saat ini sangat sedikit waktu untung duduk menimbang sesuatu, apakah layak dikonsumsi sekarang juga atau nanti atau bahkan sama sekali tak perlu sy konsumsi kecuali untuk sekedar cemilan tapi untuk cemilan pun bisa jadi masalah karena dapat menghilangkan selera makan pada hal-hal yang lebih berkualitas. mungkin karena terlalu panjangnya antrian informasi di belakang sehingga sy terintimidasi untuk segera memutuskan tanpa pernah memberi ruang otak untuk bekerja menimbang-menimbang. konsumsi sekarang atau menyingkirlah dari antrian, mungkin seperti itu teriakan mereka yang antri dibelakangku.
walhasil, karena terlalu banyak mengkonsumsi membuatku kekenyangan. kantuk pun menyerang dan tentu saja jika kantuk menyerang maka pilihan terbaik adalah tidur, jika tidak maka pilihan yang tersisa adalah kembali mengkonsumsi lebih banyak lagi dan lagi hingga tak ada lagi pilihan selain beranjak tidur dalam kondisi kekenyangan.
lalu, tidur pun memberi ruang bagi mimpi untuk membakar semua yang telah dikonsumsi hingga terbakar habis. saat terbangun, lapar kembali menyerang dan sy pun kembali berada dalam kondisi dilema dimana sy harus memilih cepat tanpa perlu memberi ruang untuk memikirkan apakah ini dapat dikonsumsi nanti saja pada saatnya dia memang harus dikonsumsi, atau bahkan tak perlu sy konsumsi karena hanya akan membuat perutku mules.

Komentar