Langsung ke konten utama

4.0 dengan kecepatan 300 Mbps

di zaman sekarang sy sering terjebak dalam ilusi kecepatan, di mana kecepatan konsumsi menjadi indikator penting dalam hidup.padahal sangat banyak hal yang sy pikir tak mesti secara tergesah-gesah dikonsumsi dan banyak pula hal yang (bahkan) seharusnya bisa tak dikonsumsi namun terkonsumsi karena sy terhanyut dalam arus kecepatan konsumsi.
kuantitas menjadi hal prinsipil dalam ilusi kecepatan konsumsi karena dengan jumlah kuantitas yang tinggi akan membuka peluang banyak hal yang bisa ditemukan. namun sayang, banyaknya hal yang dikonsumsi membuat tumpukan sampah semakin tinggi sehingga hal penting bisa jadi tertimbun hingga peluang menemukannya jadi sangat kecil.

saat ini sangat sedikit waktu untung duduk menimbang sesuatu, apakah layak dikonsumsi sekarang juga atau nanti atau bahkan sama sekali tak perlu sy konsumsi kecuali untuk sekedar cemilan tapi untuk cemilan pun bisa jadi masalah karena dapat menghilangkan selera makan pada hal-hal yang lebih berkualitas. mungkin karena terlalu panjangnya antrian informasi di belakang sehingga sy terintimidasi untuk segera memutuskan tanpa pernah memberi ruang otak untuk bekerja menimbang-menimbang. konsumsi sekarang atau menyingkirlah dari antrian, mungkin seperti itu teriakan mereka yang antri dibelakangku.

walhasil, karena terlalu banyak mengkonsumsi membuatku kekenyangan. kantuk pun menyerang dan tentu saja jika kantuk menyerang maka pilihan terbaik adalah tidur, jika tidak maka pilihan yang tersisa adalah kembali mengkonsumsi lebih banyak lagi dan lagi hingga tak ada lagi pilihan selain beranjak tidur dalam kondisi kekenyangan.

lalu, tidur pun memberi ruang bagi mimpi untuk membakar semua yang telah dikonsumsi hingga terbakar habis. saat terbangun, lapar kembali menyerang dan sy pun kembali berada dalam kondisi dilema dimana sy harus memilih cepat tanpa perlu memberi ruang untuk memikirkan apakah ini dapat dikonsumsi nanti saja pada saatnya dia memang harus dikonsumsi, atau bahkan tak perlu sy konsumsi karena hanya akan membuat perutku mules.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.