Langsung ke konten utama

CERMIN BESAR

Cukup lama aku memandangi bayangan tubuhku pada sebuah cermin besar ditoilet sebuah mall yang tidak aku ketahui untuk apa sebenarnya cermin sebesar ini dipasang disebuah toilet, mungkin untuk memberitahukan kepada orang yang telah menggunakan toilet bahwa ada masalah dengan dirimu karena itu kau harus membenahinya sebelum keluar dari toilet ini dan dilihat oleh orang banyak. Melalui cermin aku lihat tubuhku ternyata masihlah berwujud manusia utuh secara fisik, padahal aku merasa tubuh ini telah berubah menjadi kura-kura. Tidak ada maksudku untuk menghina diriku dengan menganggapnya telah berubah menjadi kura-kura. Siapapun tidak akan memungkiri bahwa kura-kura adalah mahluk hidup bergerak lambat namun apakah ada yang pernah mempertanyakan, apakah kura-kura itu bahagia atau tidak dengan gerakan tubuhnya yang lambat. Jika kalian sering menonton film kartun yang menjadikan kura-kura sebagai salah satu tokohnya, tentu kalian sering melihat bahwa kura-kura adalah mahluk hidup yang senantiasa menjalani hidupnya dengan tetap tenang dalam keadaan apapun. Karena itulah aku tidak bermaksud merendahkan diriku dengan menganggapnya telah berubah menjadi kura-kura, namun kenapa bayangan tubuhku yang tertangkap oleh cermin masih berwujud manusia ? Belum sempat aku menemukan jawaban pertanyaanku, tiba-tiba sebuah suara berat seorang laki-laki membuyarkan pikiranku tetang tubuhku.

Sampai berapa lama kau akan menggunakan cermin itu ? jika kau tidak lagi menggunakannya maka menyingkirlah karena aku ingin menggunakannya.

Maaf Pak ! aku masih menggunakannya.

Aku menjawabnya singkat tanpa menoleh kepadanya. Beberapa detik kemudian aku sempatkan sepintas memperhatikan wajah orang yang telah menegurku melalui cermin. Terlihat wajah orang itu tegang dan nampak dia sedang panik. Setelah itu aku kembali memusatkan perhatianku pada tubuhku. Pikiran tentang tubuhku dan kura-kura kembali memenuhi pikiranku tapi entah kenapa dan kapan tepatnya dimulai sosok orang yang menegurku ikut mengisi pikiranku. Bersamaan dengan adanya sosok orang itu muncul pula gambaran tentang wujud seekor kelinci, binatang yang mampu bergerak cepat, cerdas walau terkadang licik dan sering terlihat seperti dalam kepanikan. Belum sempat aku menemukan relasi diriku, kura-kura, orang itu dan kelinci, orang itu kembali menegurku dengan suara yang mulai meninggi.

Menyingkirlah segera karena aku ingin menggunakannya sekarang ! jika kau masih ingin menghayal didepan cermin mungkin kau dapat melakukannya dirumahmu saja atau nanti kau gunakan lagi cermin ini setelah aku menggunakannya !

Tanpa menunggu jawaban dariku, orang itu langsung menggerakkan tangannya dan mendorong tubuhku kesamping. Aku merasakan kekasaran dari perbuatannya namun aku hanya bisa memandanginya sambil menggerakkan tubuhku kesamping mengikuti arah dorongan tangannya untuk menghindari tubuhku terjatuh akibat dorongan tangannya. Aku menatapnya namun dia tidak peduli dengan tatapanku. Aku menoleh kekiri dan kekanan lalu menyebar pandangan keseluruh ruangan. Ternyata diruangan ini tidak ada orang lain selain kami berdua lalu aku teringat kembali tentang kura-kura dan kelinci yang beberapa detik yang lalu mengambil bagian dalam pikiranku. Kalian tentu biasa melihat pada film kartun atau mendengar sebuah dogeng tentang pertandingan antara kura-kura dan kelinci, nah pikiran itulah yang terlintas tiba-tiba dalam pikiranku. Aku lalu tersenyum sebelum akhirnya aku putuskan untuk mengganggu orang itu bahkan aku berniat membuatnya bertambah panik dan marah. Kugerakkanlah tanganku mendorong orang itu sambil meneriakinya.

Hey...! ada apa dengan dirimu hingga kau tidak tahu lagi berlaku sopan ! dasar manusia tak bermoral ! tai’ kau !

Orang itu nampak terkejut diperlakukan kasar olehku. Dia menatapku semula dengan tatapan kemarahan namun perlahan berubah menjadi keheranan, entah dia mengartikan apa tindakanku. Melihat hal itu aku langsung melanjutkan tindakanku dengan mendorongnya hingga kesudut ruangan. Merasa diri diperlakukan kasar olehku akhirnya keheranannya kembali berubah menjadi kemarahan. Dia tak dapat lagi menahan dirinya dan akhirnya diapun memukulku. Aku terjatuh kelantai dan kurabah wajahku yang terkena pukulannya. Terasa sakit dan aku yakin pasti memar. Setelah itu aku kembali memalingkan wajahku melihat wajah orang itu. Wajahnya memerah menahan marah, dadanya kembang kempis menandakan darahnya mengalir dengan kencang serta pastilah jantungnya juga berdetak dengan cepat. Aku lalu berpikir untuk menuntaskan permainan yang baru dimulai ini. Mula-mula aku pasang muka tenang dan setelah itu aku tertawa terbahak-bahak kemudian kembali menghinanya.

.......................hahahahahaha.........hahahahaha.........hahaha........dasar binatang kau !

Kemarahan orang itu memuncak. Diapun bergerak menujuku lalu menendang wajahku. Aku yang baru mencoba untuk berdiri akhirnya kembali terjatuh dan kini berada dalam posisi terlentang. Darah mengucur dari hidung dan mulutku. Belum sempat aku menyadari dengan baik keadaanku tiba-tiba dia menginjak perutku setelah itu dia berlutut lalu menghujani wajahku dengan pukulan. Entah berapa kali wajahku menjadi sasaran pukulannya yang aku tahu hanyalah bahwa mata kiriku kini susah untuk aku buka dan terasa sakit. Dengan mata kananku yang masih dapat aku buka walau tak dapat lagi terbuka lebar karena juga sedikit terasa sakit aku melihat dia nampak kelelahan. Dia kemudian berdiri dan merapikan pakaiannya yang dibeberapa bagian ada noda darah dan pasti itu adalah darahku. Dia kemudian melangkah pergi namun sebelumnya dia sempat berbalik kembali melihatku yang terkapar lalu meludahiku. Ketika dia akan meludahiku aku sempat melihat amarah yang masih tersisah diwajahnya namun setelah meludahiku dia terlihat bahagia dan ketika melangkah meninggalkanku dia nampak sangat tenang meski sekali-kali aku lihat dia menggerakkan tangannya mencoba menghilangkan noda darah yang ada dibajunya. Tinggallah kini aku sendiri didalam toilet. Aku mencoba berdiri. Terasa sakit wajah dan perutku. Setelah berdiri dengan sedikit terbungkuk, aku melangkah kedepan cermin besar dalam toilet sambil menumpukan tangan didinding untuk menjaga keseimbangan. Sambil tetap menumpukan satu tangan kedinding aku melihat wajahku yang beberapa menit lalu menjadi sasaran empuk pukulan. Wajahku dipenuhi darah terutama pada bagian hidung dan mulut, mata kiriku memar dan tak dapat dibuka sedangkan mata kananku hanya dibagian pelipisnya saja yang nampak ada sedikit robek dan mengeluarkan darah. Pipi kananku juga nampak memar dan mulai membengkak sehingga ketika rahangku aku gerakkan terasa sakit. Dengan salah satu tanganku yang tidak menjadi tumpuan, aku merabah wajahku. Bagian yang memar terasa sakit bila disentuh. Sebuah saputangan lalu aku keluarkan dan aku bersihkan wajahku dari darah kemudian saputangan itu aku masukkan kembali ke dalam kantong celanaku.

Dengan menahan rasa sakit aku membalikkan tubuhku dan hendak melangkah meninggalkan ruangan toilet. Baru beberapa langkah pintu toilet tiba-tiba terbuka dan muncullah orang yang telah membuatku babak belur beberapa menit yang lalu namun kini dia tidak seorang diri. Seorang satpam dan seorang polisi berjalan dibelakangnya.

Apakah orang ini yang telah menjadi korbanmu ?

Orang itu hanya mengangguk tapi dengan penuh ketenangan. Satpam dan polisi itu lalu membawa kami ke ruang keamanan. Ditengah perjalanan aku dan orang yang telah membuatku babak belur itu sempat bertatapan mata dan ketika itu aku tersenyum padanya dan diapun tersenyum padaku. Akhirnya kami tiba di ruang keamanan. Ruang keamanan ternyata berada dilantai dasar gedung. Ketika aku masuk dalam ruang keamanan ada suatu benda yang tertangkap oleh mataku yang membuatku berkata lirih.

Ternyata di ruangan ini juga ada cermin besar.


by: c2push

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

BERSYUKUR

ketika tanganmu menyentuh tanganku aku bahagia dan ketakutan karena sebuah percikan api tercipta. harapan muncul dari gelapnya sebuah dunia yang tak lagi memiliki kemungkinan untuk berharap. samar namun cukup untuk membuat hati tenang meski tak ada kepastian apakah api akan berkobar dari sebuah percikan api. mungkin hanya sebuah varian yang tak pasti namun aku bukanlah polisi atau hakim yang memutuskan fakta kebenaran, dan bukankah masa depan memang belumlah dituliskan, kira2 begitulah makna dari lirik sebuah lagu. jadi tentu terlalu picik untuk menghakimi sesuatu yang masih jauh jaraknya dalam perspektif dimensi ruang dan waktu. merayakan setiap percikap api yang muncul dari momentum-momentum yang terlihat bukanlah bid'ah karena masa depan bukan lagi berbicara tentang aku jadi jangan melibatkan aku dalam hal ini. lihatlah jalinan kisah yang terlihat menjuntai tak beraturan namun pasti tetap memiliki akar meski tertimbun dalam busuknya pupuk organik, sampah busuk dari sebuah sistem...