Sampai berapa lama kau akan menggunakan cermin itu ? jika kau tidak lagi menggunakannya maka menyingkirlah karena aku ingin menggunakannya.
Maaf Pak ! aku masih menggunakannya.
Aku menjawabnya singkat tanpa menoleh kepadanya. Beberapa detik kemudian aku sempatkan sepintas memperhatikan wajah orang yang telah menegurku melalui cermin. Terlihat wajah orang itu tegang dan nampak dia sedang panik. Setelah itu aku kembali memusatkan perhatianku pada tubuhku. Pikiran tentang tubuhku dan kura-kura kembali memenuhi pikiranku tapi entah kenapa dan kapan tepatnya dimulai sosok orang yang menegurku ikut mengisi pikiranku. Bersamaan dengan adanya sosok orang itu muncul pula gambaran tentang wujud seekor kelinci, binatang yang mampu bergerak cepat, cerdas walau terkadang licik dan sering terlihat seperti dalam kepanikan. Belum sempat aku menemukan relasi diriku, kura-kura, orang itu dan kelinci, orang itu kembali menegurku dengan suara yang mulai meninggi.
Menyingkirlah segera karena aku ingin menggunakannya sekarang ! jika kau masih ingin menghayal didepan cermin mungkin kau dapat melakukannya dirumahmu saja atau nanti kau gunakan lagi cermin ini setelah aku menggunakannya !
Tanpa menunggu jawaban dariku, orang itu langsung menggerakkan tangannya dan mendorong tubuhku kesamping. Aku merasakan kekasaran dari perbuatannya namun aku hanya bisa memandanginya sambil menggerakkan tubuhku kesamping mengikuti arah dorongan tangannya untuk menghindari tubuhku terjatuh akibat dorongan tangannya. Aku menatapnya namun dia tidak peduli dengan tatapanku. Aku menoleh kekiri dan kekanan lalu menyebar pandangan keseluruh ruangan. Ternyata diruangan ini tidak ada orang lain selain kami berdua lalu aku teringat kembali tentang kura-kura dan kelinci yang beberapa detik yang lalu mengambil bagian dalam pikiranku. Kalian tentu biasa melihat pada film kartun atau mendengar sebuah dogeng tentang pertandingan antara kura-kura dan kelinci, nah pikiran itulah yang terlintas tiba-tiba dalam pikiranku. Aku lalu tersenyum sebelum akhirnya aku putuskan untuk mengganggu orang itu bahkan aku berniat membuatnya bertambah panik dan marah. Kugerakkanlah tanganku mendorong orang itu sambil meneriakinya.
Hey...! ada apa dengan dirimu hingga kau tidak tahu lagi berlaku sopan ! dasar manusia tak bermoral ! tai’ kau !
Orang itu nampak terkejut diperlakukan kasar olehku. Dia menatapku semula dengan tatapan kemarahan namun perlahan berubah menjadi keheranan, entah dia mengartikan apa tindakanku. Melihat hal itu aku langsung melanjutkan tindakanku dengan mendorongnya hingga kesudut ruangan. Merasa diri diperlakukan kasar olehku akhirnya keheranannya kembali berubah menjadi kemarahan. Dia tak dapat lagi menahan dirinya dan akhirnya diapun memukulku. Aku terjatuh kelantai dan kurabah wajahku yang terkena pukulannya. Terasa sakit dan aku yakin pasti memar. Setelah itu aku kembali memalingkan wajahku melihat wajah orang itu. Wajahnya memerah menahan marah, dadanya kembang kempis menandakan darahnya mengalir dengan kencang serta pastilah jantungnya juga berdetak dengan cepat. Aku lalu berpikir untuk menuntaskan permainan yang baru dimulai ini. Mula-mula aku pasang muka tenang dan setelah itu aku tertawa terbahak-bahak kemudian kembali menghinanya.
.......................hahahahahaha.........hahahahaha.........hahaha........dasar binatang kau !
Kemarahan orang itu memuncak. Diapun bergerak menujuku lalu menendang wajahku. Aku yang baru mencoba untuk berdiri akhirnya kembali terjatuh dan kini berada dalam posisi terlentang. Darah mengucur dari hidung dan mulutku. Belum sempat aku menyadari dengan baik keadaanku tiba-tiba dia menginjak perutku setelah itu dia berlutut lalu menghujani wajahku dengan pukulan. Entah berapa kali wajahku menjadi sasaran pukulannya yang aku tahu hanyalah bahwa mata kiriku kini susah untuk aku buka dan terasa sakit. Dengan mata kananku yang masih dapat aku buka walau tak dapat lagi terbuka lebar karena juga sedikit terasa sakit aku melihat dia nampak kelelahan. Dia kemudian berdiri dan merapikan pakaiannya yang dibeberapa bagian ada noda darah dan pasti itu adalah darahku. Dia kemudian melangkah pergi namun sebelumnya dia sempat berbalik kembali melihatku yang terkapar lalu meludahiku. Ketika dia akan meludahiku aku sempat melihat amarah yang masih tersisah diwajahnya namun setelah meludahiku dia terlihat bahagia dan ketika melangkah meninggalkanku dia nampak sangat tenang meski sekali-kali aku lihat dia menggerakkan tangannya mencoba menghilangkan noda darah yang ada dibajunya. Tinggallah kini aku sendiri didalam toilet. Aku mencoba berdiri. Terasa sakit wajah dan perutku. Setelah berdiri dengan sedikit terbungkuk, aku melangkah kedepan cermin besar dalam toilet sambil menumpukan tangan didinding untuk menjaga keseimbangan. Sambil tetap menumpukan satu tangan kedinding aku melihat wajahku yang beberapa menit lalu menjadi sasaran empuk pukulan. Wajahku dipenuhi darah terutama pada bagian hidung dan mulut, mata kiriku memar dan tak dapat dibuka sedangkan mata kananku hanya dibagian pelipisnya saja yang nampak ada sedikit robek dan mengeluarkan darah. Pipi kananku juga nampak memar dan mulai membengkak sehingga ketika rahangku aku gerakkan terasa sakit. Dengan salah satu tanganku yang tidak menjadi tumpuan, aku merabah wajahku. Bagian yang memar terasa sakit bila disentuh. Sebuah saputangan lalu aku keluarkan dan aku bersihkan wajahku dari darah kemudian saputangan itu aku masukkan kembali ke dalam kantong celanaku.
Dengan menahan rasa sakit aku membalikkan tubuhku dan hendak melangkah meninggalkan ruangan toilet. Baru beberapa langkah pintu toilet tiba-tiba terbuka dan muncullah orang yang telah membuatku babak belur beberapa menit yang lalu namun kini dia tidak seorang diri. Seorang satpam dan seorang polisi berjalan dibelakangnya.
Apakah orang ini yang telah menjadi korbanmu ?
Orang itu hanya mengangguk tapi dengan penuh ketenangan. Satpam dan polisi itu lalu membawa kami ke ruang keamanan. Ditengah perjalanan aku dan orang yang telah membuatku babak belur itu sempat bertatapan mata dan ketika itu aku tersenyum padanya dan diapun tersenyum padaku. Akhirnya kami tiba di ruang keamanan. Ruang keamanan ternyata berada dilantai dasar gedung. Ketika aku masuk dalam ruang keamanan ada suatu benda yang tertangkap oleh mataku yang membuatku berkata lirih.
Ternyata di ruangan ini juga ada cermin besar.
Komentar