Langsung ke konten utama

Ah ... ternyata aku yang terlalu picik

Aku pikir aku yang paling bermasalah, masalahku seolah-olah adalah masalah yang sangat besar. Ternyata aku salah, masalahku sama sekali bukanlah masalah kalaupun masalah itu hanyalah masalah sepeleh yag tidak berarti. Tak ada masalah dalam sesuatu yang tak berasa kalaupun terasa itu hanyalah sebuah kenikmatan dari sebuah rasa sakit yg ternikmati jadi jelas itu bukan masalah kalaupun ingin dipaksakan menjadi sebuah masalah maka itu tidak lebih dari masalah kenikmatan. Aku hanyalah sebongkah bara api yang masih menyala dan sewaktu-waktu dapat saja berubah menjadi api yang berkobar-kobar penuh semangat dan gejolak. Sementara dirimu yg tampak anggun ternyata sebatang lilin yang mencoba terus berpijar dengan melelehkan diri hingga suatu saat padam dan musnah.

Berbeda dariku, kau yang bermasalah dan memang kau lah yang lebih pantas bermahkotakan belukar duri kesedih bukannya aku. Hanya saja aku yang terlalu picik untuk sekedar memahaminya dari awal. Kesedihanmu memerlukan lebih banyak lagi kesenangan untuk membuatmu sesering mungkin tertawa dan tersenyum agar tidak melarutkan orang lain dalam kesedihanmu. Luka dan memar yang kau peroleh dari pertempuran-pertempuran sengit memerlukan kesenangan-kesenangan agar tak ada tangis atau sekedar ringisan dari rasa sakit dan nyerih. Kau terlihat riang, ya ... itulah yang membuatmu tak terlihat berluka dan menipu orang-orang hingga orang-orangpun terlihat riang dan bahagia bersamamu. Keriangan orang-orang itu yang kemudian menyapu luka-luka dan memar-memarmu hingga kau pun dapat terus berdiri dan berjalan mendatangi medan-medan pertempuran selanjutnya meski kau tahu bahwa luka dan memar-mu belumlah sembuh dan menghilang.

Hahahahahahahaha ... terlalu menggurui ... memang, tapi sudahlah ...
mari mencoba untuk terus berpijar meski suatu saat kita akan padam dan menjadi abu yang akhirnya hilang dan terlupakan tertiup angin

(rock)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.