Aku pikir aku yang paling bermasalah, masalahku seolah-olah adalah masalah yang sangat besar. Ternyata aku salah, masalahku sama sekali bukanlah masalah kalaupun masalah itu hanyalah masalah sepeleh yag tidak berarti. Tak ada masalah dalam sesuatu yang tak berasa kalaupun terasa itu hanyalah sebuah kenikmatan dari sebuah rasa sakit yg ternikmati jadi jelas itu bukan masalah kalaupun ingin dipaksakan menjadi sebuah masalah maka itu tidak lebih dari masalah kenikmatan. Aku hanyalah sebongkah bara api yang masih menyala dan sewaktu-waktu dapat saja berubah menjadi api yang berkobar-kobar penuh semangat dan gejolak. Sementara dirimu yg tampak anggun ternyata sebatang lilin yang mencoba terus berpijar dengan melelehkan diri hingga suatu saat padam dan musnah.
Berbeda dariku, kau yang bermasalah dan memang kau lah yang lebih pantas bermahkotakan belukar duri kesedih bukannya aku. Hanya saja aku yang terlalu picik untuk sekedar memahaminya dari awal. Kesedihanmu memerlukan lebih banyak lagi kesenangan untuk membuatmu sesering mungkin tertawa dan tersenyum agar tidak melarutkan orang lain dalam kesedihanmu. Luka dan memar yang kau peroleh dari pertempuran-pertempuran sengit memerlukan kesenangan-kesenangan agar tak ada tangis atau sekedar ringisan dari rasa sakit dan nyerih. Kau terlihat riang, ya ... itulah yang membuatmu tak terlihat berluka dan menipu orang-orang hingga orang-orangpun terlihat riang dan bahagia bersamamu. Keriangan orang-orang itu yang kemudian menyapu luka-luka dan memar-memarmu hingga kau pun dapat terus berdiri dan berjalan mendatangi medan-medan pertempuran selanjutnya meski kau tahu bahwa luka dan memar-mu belumlah sembuh dan menghilang.
Hahahahahahahaha ... terlalu menggurui ... memang, tapi sudahlah ...
mari mencoba untuk terus berpijar meski suatu saat kita akan padam dan menjadi abu yang akhirnya hilang dan terlupakan tertiup angin
(rock)
Berbeda dariku, kau yang bermasalah dan memang kau lah yang lebih pantas bermahkotakan belukar duri kesedih bukannya aku. Hanya saja aku yang terlalu picik untuk sekedar memahaminya dari awal. Kesedihanmu memerlukan lebih banyak lagi kesenangan untuk membuatmu sesering mungkin tertawa dan tersenyum agar tidak melarutkan orang lain dalam kesedihanmu. Luka dan memar yang kau peroleh dari pertempuran-pertempuran sengit memerlukan kesenangan-kesenangan agar tak ada tangis atau sekedar ringisan dari rasa sakit dan nyerih. Kau terlihat riang, ya ... itulah yang membuatmu tak terlihat berluka dan menipu orang-orang hingga orang-orangpun terlihat riang dan bahagia bersamamu. Keriangan orang-orang itu yang kemudian menyapu luka-luka dan memar-memarmu hingga kau pun dapat terus berdiri dan berjalan mendatangi medan-medan pertempuran selanjutnya meski kau tahu bahwa luka dan memar-mu belumlah sembuh dan menghilang.
Hahahahahahahaha ... terlalu menggurui ... memang, tapi sudahlah ...
mari mencoba untuk terus berpijar meski suatu saat kita akan padam dan menjadi abu yang akhirnya hilang dan terlupakan tertiup angin
(rock)
Komentar