Langsung ke konten utama

AMARAH SEORANG PEMBOHONG GILA

Dunia ini hari kehari semakin menjengkelkan, semakin banyak omong kosong yg selalu dipaksakan untuk ditelan. Omong kosong berbau anyir darah dan nanah sisa luka-luka perjuangan sia-sia yang tak berujung. Belum lagi kepalsuan-kepalsuan dari kesenangan semu yang semakin banyak berceceran disetiap jalan-jalan kehidupan bahkan sampai ke lorong-lorong kumuh tak bertuan. Anjing-anjing pun semakin nyaring lolongannya hingga bukan lagi ketakutan atau kengerian yg dihasilkan melainkan kemarahan yang memuncak hingga titik didih yang siap meledak kapan saja. Dunia ini betul-betul semakin mirip dengan orang tua renta yang selalu berkhotbah tentang kebijaksanaan pahamannya hingga mengerdillah anak-anak yang berhasrat liar dalam kerangkeng moralitas yang tak lebih dari budak sebuah hutang sosial warisan leluhur yg diterima tanpa melalui proses penawaran.

Sebuah jalan kehidupan yang terus berbicara banyak tentang keterlepasan atas ikatan dunia namun terus pula meratapi dunia yang seolah meninggalkannya, sebuah lawakan yang tidak lucu tapi memuakkan yg membuat keinginan muntah tak tertahankan. Aku yang terus menjadi bagian dari dunia dan kehidupan adalah juga sebuah hal yang memuakkan hingga tak salah jika aku benci pada diri sendiri yang sungguh sangat lemah untuk berkata tidak pada semua yang tertangkap indra. Diriku yang juga masih menjadi bagian dari dunia dan kehidupan ini juga adalah bagian dari lawakan murahan yang tertawa pada hal-hal yang sebenarnya memuakkan.

Semakin lama hidup semakin banyak alasan yang akan membenarkan mengapa pantas untuk berkata “tak ada lagi kebaikan dalam diri ini yang mejadi bagian dari kehidupan yang memuakkan”. Pertanyaan “apakah hidup ini pantas dijalani atau tidak ?” tentu tak lagi susah untuk dijawab. Secercah harapan didasar kotak pandora tampaknya tak cukup lagi untuk mengusir semua mahluk-mahluk iblis yang terus memburu nurani kemanusiaan. Pahlawan pun sudah lama terduduk lesu di bawah pohon-pohon bunga kamboja perkuburan yang diperuntukkan untuk mereka yang telah mengabdikan jiwa dan raga untuk sebuah perjuangan omong kosong atas sesuatu yang sangat naif, mereka terduduk lesuh dan membungkus dirinya dengan panji-panji persatuan yang kotor dan dekil.

Bahkan untuk sekedar membicarakan hal memuakkan ini, seluruh isi perut seolah diaduk-aduk hingga seluruh isinya ingin keluar menjadi muntahan yang menjijikkan, sebuah kondisi yang membuat kebodohan menjadi nyata senyata rabaan kemaluanmu di pagi hari yang tak pernah jelas tujuannya. Kebodohan … hahahahahahaha … kebodohan yang menjadi nyata seiring keinginan tuk senantiasa terlihat pintar dan cerdas. Mengangkangi norma-norma yang sama sekali tak berarti, inilah dunia saat ini. Sebuah dunia yang sangat memuakkan namun membuat para badut ingin terus hidup.

Inilah monologku yang tak lebih dari salah satu hal yang mungkin membuat badut-badut tertawa saat membacanya. Itu tak mengapa, tapi jangan berbicara baik dan buruk beserta segala penilaian benar dan salah karena hanya akan melahirkan klaim suci diantara keduanya. Ini tidak lebih dari simbiosis mutualis Tuhan – Manusia – Iblis, caci makiku demikian pula adanya tidak lebih dari hubungan saling melengkapi antara aku dan kehidupan serta kalian yang membuatku muak.

Apa yang telah aku ungkapkan ?

Aaaaah … aku memang tidak lebih dari seorang pembohong yang tak tahu berterima kasih dan selalu bertopeng kebencian pada semuanya, padahal kebencian itu tidak lebih dari kebencian pada diri sendiri yang terlalu lemah dan terlalu bodoh untuk sekedar menjalani hidup secara biasa-biasa saja. Jadi sudahlah, anggap saja ini sebagai ocehan seorang pemabuk dipinggir jalan atau gerutuan seorang gila yang tak pernah kita pahami apa yang dia pikirkan dan dia lihat hingga mampu memakan remahan-remahan roti basi yang dipungutnya di tempat sampah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.