Dunia ini hari kehari semakin menjengkelkan, semakin banyak omong kosong yg selalu dipaksakan untuk ditelan. Omong kosong berbau anyir darah dan nanah sisa luka-luka perjuangan sia-sia yang tak berujung. Belum lagi kepalsuan-kepalsuan dari kesenangan semu yang semakin banyak berceceran disetiap jalan-jalan kehidupan bahkan sampai ke lorong-lorong kumuh tak bertuan. Anjing-anjing pun semakin nyaring lolongannya hingga bukan lagi ketakutan atau kengerian yg dihasilkan melainkan kemarahan yang memuncak hingga titik didih yang siap meledak kapan saja. Dunia ini betul-betul semakin mirip dengan orang tua renta yang selalu berkhotbah tentang kebijaksanaan pahamannya hingga mengerdillah anak-anak yang berhasrat liar dalam kerangkeng moralitas yang tak lebih dari budak sebuah hutang sosial warisan leluhur yg diterima tanpa melalui proses penawaran.
Sebuah jalan kehidupan yang terus berbicara banyak tentang keterlepasan atas ikatan dunia namun terus pula meratapi dunia yang seolah meninggalkannya, sebuah lawakan yang tidak lucu tapi memuakkan yg membuat keinginan muntah tak tertahankan. Aku yang terus menjadi bagian dari dunia dan kehidupan adalah juga sebuah hal yang memuakkan hingga tak salah jika aku benci pada diri sendiri yang sungguh sangat lemah untuk berkata tidak pada semua yang tertangkap indra. Diriku yang juga masih menjadi bagian dari dunia dan kehidupan ini juga adalah bagian dari lawakan murahan yang tertawa pada hal-hal yang sebenarnya memuakkan.
Semakin lama hidup semakin banyak alasan yang akan membenarkan mengapa pantas untuk berkata “tak ada lagi kebaikan dalam diri ini yang mejadi bagian dari kehidupan yang memuakkan”. Pertanyaan “apakah hidup ini pantas dijalani atau tidak ?” tentu tak lagi susah untuk dijawab. Secercah harapan didasar kotak pandora tampaknya tak cukup lagi untuk mengusir semua mahluk-mahluk iblis yang terus memburu nurani kemanusiaan. Pahlawan pun sudah lama terduduk lesu di bawah pohon-pohon bunga kamboja perkuburan yang diperuntukkan untuk mereka yang telah mengabdikan jiwa dan raga untuk sebuah perjuangan omong kosong atas sesuatu yang sangat naif, mereka terduduk lesuh dan membungkus dirinya dengan panji-panji persatuan yang kotor dan dekil.
Bahkan untuk sekedar membicarakan hal memuakkan ini, seluruh isi perut seolah diaduk-aduk hingga seluruh isinya ingin keluar menjadi muntahan yang menjijikkan, sebuah kondisi yang membuat kebodohan menjadi nyata senyata rabaan kemaluanmu di pagi hari yang tak pernah jelas tujuannya. Kebodohan … hahahahahahaha … kebodohan yang menjadi nyata seiring keinginan tuk senantiasa terlihat pintar dan cerdas. Mengangkangi norma-norma yang sama sekali tak berarti, inilah dunia saat ini. Sebuah dunia yang sangat memuakkan namun membuat para badut ingin terus hidup.
Inilah monologku yang tak lebih dari salah satu hal yang mungkin membuat badut-badut tertawa saat membacanya. Itu tak mengapa, tapi jangan berbicara baik dan buruk beserta segala penilaian benar dan salah karena hanya akan melahirkan klaim suci diantara keduanya. Ini tidak lebih dari simbiosis mutualis Tuhan – Manusia – Iblis, caci makiku demikian pula adanya tidak lebih dari hubungan saling melengkapi antara aku dan kehidupan serta kalian yang membuatku muak.
Apa yang telah aku ungkapkan ?
Aaaaah … aku memang tidak lebih dari seorang pembohong yang tak tahu berterima kasih dan selalu bertopeng kebencian pada semuanya, padahal kebencian itu tidak lebih dari kebencian pada diri sendiri yang terlalu lemah dan terlalu bodoh untuk sekedar menjalani hidup secara biasa-biasa saja. Jadi sudahlah, anggap saja ini sebagai ocehan seorang pemabuk dipinggir jalan atau gerutuan seorang gila yang tak pernah kita pahami apa yang dia pikirkan dan dia lihat hingga mampu memakan remahan-remahan roti basi yang dipungutnya di tempat sampah.
Sebuah jalan kehidupan yang terus berbicara banyak tentang keterlepasan atas ikatan dunia namun terus pula meratapi dunia yang seolah meninggalkannya, sebuah lawakan yang tidak lucu tapi memuakkan yg membuat keinginan muntah tak tertahankan. Aku yang terus menjadi bagian dari dunia dan kehidupan adalah juga sebuah hal yang memuakkan hingga tak salah jika aku benci pada diri sendiri yang sungguh sangat lemah untuk berkata tidak pada semua yang tertangkap indra. Diriku yang juga masih menjadi bagian dari dunia dan kehidupan ini juga adalah bagian dari lawakan murahan yang tertawa pada hal-hal yang sebenarnya memuakkan.
Semakin lama hidup semakin banyak alasan yang akan membenarkan mengapa pantas untuk berkata “tak ada lagi kebaikan dalam diri ini yang mejadi bagian dari kehidupan yang memuakkan”. Pertanyaan “apakah hidup ini pantas dijalani atau tidak ?” tentu tak lagi susah untuk dijawab. Secercah harapan didasar kotak pandora tampaknya tak cukup lagi untuk mengusir semua mahluk-mahluk iblis yang terus memburu nurani kemanusiaan. Pahlawan pun sudah lama terduduk lesu di bawah pohon-pohon bunga kamboja perkuburan yang diperuntukkan untuk mereka yang telah mengabdikan jiwa dan raga untuk sebuah perjuangan omong kosong atas sesuatu yang sangat naif, mereka terduduk lesuh dan membungkus dirinya dengan panji-panji persatuan yang kotor dan dekil.
Bahkan untuk sekedar membicarakan hal memuakkan ini, seluruh isi perut seolah diaduk-aduk hingga seluruh isinya ingin keluar menjadi muntahan yang menjijikkan, sebuah kondisi yang membuat kebodohan menjadi nyata senyata rabaan kemaluanmu di pagi hari yang tak pernah jelas tujuannya. Kebodohan … hahahahahahaha … kebodohan yang menjadi nyata seiring keinginan tuk senantiasa terlihat pintar dan cerdas. Mengangkangi norma-norma yang sama sekali tak berarti, inilah dunia saat ini. Sebuah dunia yang sangat memuakkan namun membuat para badut ingin terus hidup.
Inilah monologku yang tak lebih dari salah satu hal yang mungkin membuat badut-badut tertawa saat membacanya. Itu tak mengapa, tapi jangan berbicara baik dan buruk beserta segala penilaian benar dan salah karena hanya akan melahirkan klaim suci diantara keduanya. Ini tidak lebih dari simbiosis mutualis Tuhan – Manusia – Iblis, caci makiku demikian pula adanya tidak lebih dari hubungan saling melengkapi antara aku dan kehidupan serta kalian yang membuatku muak.
Apa yang telah aku ungkapkan ?
Aaaaah … aku memang tidak lebih dari seorang pembohong yang tak tahu berterima kasih dan selalu bertopeng kebencian pada semuanya, padahal kebencian itu tidak lebih dari kebencian pada diri sendiri yang terlalu lemah dan terlalu bodoh untuk sekedar menjalani hidup secara biasa-biasa saja. Jadi sudahlah, anggap saja ini sebagai ocehan seorang pemabuk dipinggir jalan atau gerutuan seorang gila yang tak pernah kita pahami apa yang dia pikirkan dan dia lihat hingga mampu memakan remahan-remahan roti basi yang dipungutnya di tempat sampah.
Komentar