Langsung ke konten utama

tentang kurang lebih tiga tahun yg lalu dan saat ini

Secangkir kopi menemaniku menuliskan catatan ini. Entah untuk yg keberapa kalinya saya terduduk menuliskan catatan-catatan sampah ditemani segelas kopi. Catatan-catatan sampah yg berakhir di blog atau berakhir di secarik kertas yg kemudian menjadi bagian dari kertas-kertas yg bertumpuk di kamarku, bertumpuk menjadi bagian dari kebusukan kamarku. Grutuan-grutuan atau sekedar caci maki atau amarah yg meluap-luap menjadi tema utama dihampir semua catatan-catatan sampahku, ada juga satu dua yg berisi ungkapan keputus asaan melihat tampang dunia yg memelas atau mencemooh diriku.

Tapi peduli apa aku dengan semua ini, semua ini hanya bagian dari kepalsuan yg terus berjalan membayang-bayangi diriku, atau mungkin karena itulah catatan-catatanku bermunculan di blog ini secara temporal.
Desember 2007, kali pertama aku menitipkan tulisan-tulisanku di blog ini. Saya sudah lupa alasanku melakukan aktivitas ini, sebuah aktivitas yg banyak diistilahkan oleh orang-orang dengan "Ngeblog". Sejak Desember 2007 nuansa tempatku menitipkan catatan-catatan sampahku ini tak pernah berubah, tapi aku tak tahu harus menyebut apa nuansa dari blog ini. satu, dua, tiga, empat ... ah ... banyak betul, tak terasa sudah cukup banyak catatan-catatan sampah.

bangsat ... sangat banyak, sudahlah ... aku akhiri saja catatan ini biar tak bertambah banyak sampah di blog ini. Tapi aku belum akan berhenti menggunakan blog ini sebagai tempat menitipkan catatan-catatan sampahku yg terbaik menurutku, tapi aku pun tak tahu kapan akan menitipkan lagi catatan sampah mungkin besok mungkin juga lusa atau mungkin kapan saja ketika ada sampah yg baik dan layak untuk mendapat ruang di blog ini.
ya ya ya ... aku akhiri sekarang, kopiku pun sudah mulai dingin jadi aku harus segera menghabiskannya dan berlalu dari tempat ini.

Semoga kita bertemu lagi di lain waktu, dalam sebuah catatan, itu jika kau masih sudi untuk sekedar meluangkan waktu untuk sekedar membaca catatan sampah terbaru di blog ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.