Langsung ke konten utama

Si Pencerita & Aku

Siapa aku ?
Salah satu pertanyaan yg selalu memancing si pencerita yg entah mendekam dibagian mana di kepalaku untuk bercerita panjang lebar. Pertanyaan ini kerap muncul disaat sy memperhatikan bayanganku dicermin, ketika pertanyaan itu muncul si pencerita akan menafsirkan semua bagian tubuhku yg tampak pada cermin dalam sebuah cerita yg seolah tak berujung. Akibatnya, sy pernah berurusan dgn pihak keamanan sebuah mall gara-gara sy dihajar hingga babak belur oleh seorang lelaki yg merasa terusik oleh kelakuanku yg menatap cermin terlalu lama di dlm sebuah toilet mall. Sy juga pernah memecahkan sebuah cermin dgn kedua telapak tanganku karena jengkel, entah jengkel pada diriku yg tampak di cermin atau jengkel pada si pencerita yg sok tahu bercerita tentang siapa aku. Untung saja ketika itu sy masih tinggal dgn seorang teman. Saat dia mendengar bunyi kaca pecah di kamar mandi dia segera kekamar mandi dan menemukan sy yg tertegun menatap kedua telapak tanganku yg berlumuran darah, sy segera dilarikan ke klink terdekat untuk mendapat pertolongan dan hasilnya telapak tanganku dijahit di beberapa bagian yg robek. Sampai sekarang bekas jahitan itu masih ada dan sangat mengganggu ketika dibutuhkan scanning telapak tangan saat pemberkasan di kantor. Setelah 2 kejadian itu sy selalu berusaha menghindari cermin, kalaupun tak bisa dihindari atau tanpa sengaja bertatap mata dgn bayanganku di cermin sy selalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke mana saja asal terhindar dari tatapan mataku di cermin.
Tapi ternyata menghindari cermin tdk cukup membantu untuk mencegah munculnya pertanyaan "siapa aku ?" dan setelah kemunculan pertanyaan itu maka muncullah si pencerita. Pertanyaan itu kerap muncul juga di saat-saat sy kelelahan akibat kerja. Seharusnya rasa lelah yg sy rasa membuat sy bisa cepat beristirahat tapi si pencerita selalu muncul bersama rasa lelahku. Seperti biasa saat dia muncul dia akan bercerita tentang siapa aku. Si pencerita akan cerita tentang diriku yg sekarang seorang karyawan di sebuah perusahaan yg baru sebulan lalu tak lagi diberi tanggung jawab untuk memberikan wejangan-wejangan di pagi hari kepada karyawan-karyawan yg lain dgn alasan wejanganku tak lagi bisa membangkitkan motifasi kerja maka jadilah sy sebagai karyawan administrasi perusahaan yg kerjanya hanya melakukan pembukuan surat2 elektronik yg masuk serta keluar melalui email perusahaan. Yang paling menjengkelkan saat si pencerita memaparkan secara gamblang diriku yg lelah akibat kerja sebagai kaki tangan sebuah perusahaan lalu membandingkan diriku di masa lalu sebagai seorang anak muda yg anti pada hampir semua sistem, anti kemapanan dan memiliki imajinasi fantastis tentang kehidupan di dunia ini. Si pencerita juga bercerita bagaimana dulu sy tak ingin menjadi bagian dr penguasa namun akhirnya menjadi bagian dr pengusaha, bukan menjadi bagian di emperan-emperan kerja pengusaha tapi hampir di inti kerja pengusaha. Komparasi-komparasi ini sungguh sangat menjengkelkan karena mempertontonkan diriku yg teramat sangat lemah sebagai seorang manusia, cerita si pencerita menjadikan kondisi diriku sepeti potongan lirik sebuah lagu hip-hip lokal yg si pencipta lagunya coba membela diri atas tuduhan pada dirinya yg katanya telah berkompromi pada dunia ini ...  "setengah tuan-setengah budak-setengah badut-setegah hamba"
Sungguh ... selama indra penglihatan, indra pendengaran, indra perasa, indra peraba dan indra2 lainnya masih berfungsi, sy sangat sulit menghindari pertanyaan "siapa aku ?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

BERSYUKUR

ketika tanganmu menyentuh tanganku aku bahagia dan ketakutan karena sebuah percikan api tercipta. harapan muncul dari gelapnya sebuah dunia yang tak lagi memiliki kemungkinan untuk berharap. samar namun cukup untuk membuat hati tenang meski tak ada kepastian apakah api akan berkobar dari sebuah percikan api. mungkin hanya sebuah varian yang tak pasti namun aku bukanlah polisi atau hakim yang memutuskan fakta kebenaran, dan bukankah masa depan memang belumlah dituliskan, kira2 begitulah makna dari lirik sebuah lagu. jadi tentu terlalu picik untuk menghakimi sesuatu yang masih jauh jaraknya dalam perspektif dimensi ruang dan waktu. merayakan setiap percikap api yang muncul dari momentum-momentum yang terlihat bukanlah bid'ah karena masa depan bukan lagi berbicara tentang aku jadi jangan melibatkan aku dalam hal ini. lihatlah jalinan kisah yang terlihat menjuntai tak beraturan namun pasti tetap memiliki akar meski tertimbun dalam busuknya pupuk organik, sampah busuk dari sebuah sistem...