Langsung ke konten utama

mimpi seorang sahabat



pernah suatu waktu ketika matahari tepat di atas kepala pada saat jam istirahat saat kami sedang bersantai di bawah sebuah pohon yg rindang selepas menikmati makan siang kami, seorang sahabat menceritakan mimpinya yang sangat seram.

tadi aku bermimpi berada di sebuah hamparan rumput hijau dan angin berhembus lembut membelai tubuhku. saat aku berbalik, dibelakangku terlihat gunung yg membiru dan puncaknya tak terlihat sepertinya tertutup kabut. indahnya ... saat membalikkan kembali badanku, hamparan rumput yang hijau tak ada lagi berganti ladang pertanian yang sangat luas dan sepertinya siap dipanen. aku mencoba melangkah tapi ternyata aku berdiri di atas kubangan lumpur dan kakiku terbenam sampai sebatas lutut. karena tak dapat melangkah maju aku berusaha membalikkan badanku. setelah berhasil membalikkan badan, aku tak melihat lagi gunung yang sebelumnya terlihat sangat eksotik dimataku. aku cari-cari di kiri dan kanan ku tapi tak ku temukan. aku teringat ladang pertanian di belakangku, jangan-jangan dia juga telah menghilang. aku langsung membalikkan badan. kali ini aku bisa membalikkan badan dengan mudah. saat aku menunduk melihat kakiku ternyata aku tak lagi berdiri di atas kubangan lumpur, aku kini berdiri di atas lantai beton. aku angkat kembali kepalaku, oh ... aku berdiri tepat di hadapan sebuah lukisan pemandangan alam pedesaan yang sangat indah dan berukuran sangat besar 5 m x 3 m. menyadari keberadaan lukisan itu mendadak aku juga menyadari kalau ditanganku sebelah kanan menggenggam sebuah kuas yang masih basah oleh cat berwarna merah, berarti aku lah yang telah membuat lukisan ini. ku coba perhatikan dengan cermat lukisan di hadapanku, pada lukisan itu tergambar hamparan ladang pertanian yang sangat hijau berlatar belakang sebuah gunung yang puncaknya tertutup kabut putih. ada objek mencolok dalam lukisan itu namun tak merusak keindahan lukisan itu, di ujung kanan lukisan terlihat sebuah truk di antara tumpukan karung-karung yang berwarna merah. sebelum aku memperhatikan gambar truk itu, pusat keindahan lukisan ini adalah puncak gunung yang tertutup kabut putih, namun setelah meperhatikan gambar truk dengan tumpukan karung-karung berwarna merah pusat keindahan lukisan ini seperti terhisap masuk ke dalam karung-karung yang berwarna merah dan berakhir pada gambar truk. mungkin ini karena aku melihat terlalu dekat, aku mencoba mundur beberapa langkah tapi tiba-tiba aku tersandung sesuatu hingga jatuh kebelakang dan terduduk. saat jatuh terduduk, pantatku mendarat di atas sebuah sofa yang empuk. karena kaget, perhatianku langsung dicuri oleh sofa itu. aku perhatikan sofa itu, sofa itu terbungkus kulit sintetik berwarna merah dan betul-betul empuk. aku coba sekali lagi, aku angkat sedikit pantatku dan aku jatuhkan sekali lagi diatas sofa tersebut, oh ... betul-betul empuk pasti ini sofa mahal. kembali ku arahkan pandanganku ke depan dan gambar pemandangan alam yang tadinya ku lihat sebagai sebuah lukisan di atas kanvas besar kini terlihat hidup dalam sebuah layar televisi 40". tiba-tiba dari belakang truk muncul orang-orang yang kemudian mengangkat karung-karung ke atas truk, setelah semua karung telah berada diatas truk itu pun berjalan dan menghilang dari layar televisi. aku teringat kuas di tangan kananku. rupanya kini aku tak lagi menggenggam kuas, aku kini menggenggam sebuah remote yang mungkin adalah remote televisi di hadapanku. aku coba mengganti saluran tapi betapa kangetnya saat menyadari bahwa dihadapanku ternyata bukan televisi melainkan sebuah layar monitor komputer dan yang aku lihat tadi hanyalah screensaver. aku lalu memperhatikan sekelilingku, ternyata aku kini berada dalam sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang yang sangat sibuk mengerjakan banyak hal dan baru ku sadari ternyata aku tak lagi duduk di atas sofa melainkan di atas sebuah kursi kerja yang dibuat cukup empuk untuk kenyamaan berlama-lama duduk menyelesaikan kerjaan di komputer desktop di hadapanku. aku kembali perhatikan layar monitor komputer di hadapanku. tiba-tiba dari dalam layar monitor komputer di hadapanku keluar sepasang tangan yang kemudian menggenggam kepalaku dengan keras lalu menariknya masuk dalam layar monitor dan akhirnya seluruh tubuhku berhasil ditarik masuk secara paksa. saat ditarik masuk aku mengalami rasa sakit yang luar biasa, aku memejamkan mata karena rasa sakit yang sangat luar biasa. saat rasa sakit itu hilang aku membuka mataku dan tak lagi melihat tubuhku. sepertinya aku telah berada dalam monitor komputer dan aku tak bertubuh lagi. awalnya kabur dan perlahan-lahan mulai jelas hingga akhirnya terlihat jelas, dihadapanku terlihat wajah-wajah asing dengan berbagai ekspresi yang jujur atau dibuat-buat. ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang serius, ada yang kosong, ada yang datar.

tiba-tiba semua menjadi gelap, aku tak bisa melihat apa-apa. semua seperti tertelan oleh kegelapan yang sangat pekat. rasa takut mulai menggerogoti kesadaranku dan semakin lama ketakutan seperti menguasai seluruh kesadaranku. akhirnya aku betul-betul merasa takut setakut-takutnya. aku berteriak minta tolong sekeras-kerasnya namun tak ada yang datang menolongku, kegelapan yang sangat pekat yang nyata ada dan masih menyelimutiku. karena tak tahu lagi apa yang dapat aku lakukan, aku pun menangis sejadi-jadinya. setelah lelah menangis tangisanku pun berubah jadi isakan pilu orang tak berdaya. aku lalu merasa sangat lelah dan akhirnya aku jatuh tertidur.

entah, apa aku tertidur betulan atau kah apa yang sebenarnya terjadi. saat aku membuka mataku ternyata aku dihadapan sebuah monitor komputer, dan setelah berhasil menguasai diri lalu aku mencoba memikirkan semuanya dan akhirnya aku sadar kalau aku berada di meja kerjaku dan aku tadi tertidur. aku menyimpulkan bahwa tanpa sadar aku tadi tertidur beberapa menit karena kelelahan dan aku pun bermimpi. untung bos tidak menemukanku tertidur saat jam kerja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.