Langsung ke konten utama

PERANG SUNYI YANG BELUM PERNAH KITA MENANGKAN


mereka berkata padaku "mengapa kau masih mengasah pedang dan membuat sangat banyak anak-anak panah ? bukankah malam telah berlalu dan peperangan telah usai ?"

aku berkata pada mereka "yah malam telah berlalu tapi apakah kalian sudah lupa tanda-tanda akan kembalinya malam dan tanda-tanda perang akan kembali berkecamuk saat malam datang ?"
mendengar perkataanku mereka air muka mereka seperti keheranan namun tak berapa lama mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai beberapa orang mengeluarkan air mata bahkan sampai ada yg muntah-muntah. setelah tawa mereka reda, mereka berkata "rupanya kau adalah salah satu dari sekian banyak orang yg gila akibat perang semalam. kamu sungguh sangat menyedihkan."

ku letakkan pedang yang belum selesai ku asah dan ku tatap mereka satu persatu. beberapa diantara mereka mundur dan mengambil posisi siaga, mungkin mereka pikir aku hendak menyerang mereka seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang dianggap gila ketika merasa diganggu. setelah melihat mereka satu persatu aku kemudian melihat kelangit lalu aku mengambil kembali pedangku dan ku lanjutkan mengasahnya. sambil melanjutkan mengasah pedang aku berkata pada mereka "sebaiknya kalian tinggalkan saja orang yang telah kalian anggap gila ini dan segeralah kalian pulang mengingatkan istri-istri kalian untuk segera mengambil jemuran jika kalian tak bisa melakukannya sendiri karena sepertinya langit mulai mendung dan mungkin hujan akan turun."
secara hampir bersamaan mereka mendongak melihat langit dan memang terlihat gumpalan-gumpalan awan hitam mulai berkumpul, mungkin benar hujan akan segera turun. setelah menyadari mendung yang perlahan datang mereka segera berhamburan pulang, beberapa orang terdengar mengomel tak jelas mugkin ada rencananya yang terancam berantakan.

setelah orang-orang itu pergi aku memeriksa pedangku, ternyata sudah tajam dan runcing. aku pun menyudahi mengasah pedangku, aku masukkan ke sarungnya dan meletakkannya bersama kumpulan anak-anak panah yang telah ku buat. aku bawah pedang dan anak-anak panahku ke balai-balai di bawah sebuah pohon mangga yang cukup rindang. pedang dan anak-anak panah ku letakkan diatas balai-balai di samping tempatku duduk. setelah meneguk habis kopi yang telah sedari pagi tak kuhabiskan, aku lalu menenangkan diri dengan memejamkan mata dan mengatur pernafasan. setelah merasa cukup aku membuka mataku dan memperhatikan sekitarku. tak ada yang menarik, semua tetap sama seperti hari kemarin. karena tak ada yang menarik tiba-tiba aku kembali teringat dengan orang-orang yang tadi menggangguku.

mungkin mereka semua telah sampai di rumah dan mereka telah menyuruh istri-istri mereka untuk mengambil jemuran padahal hujan belumlah pasti turun. mungkin beberapa dari mereka yang tak punya rencana penting memang berharap hujan segera turun agar mereka bisa beranjak menuju pembaringan dan berharap hujan bisa membuatnya tertidur nyenyak. sungguh mereka tidak memperhatikan tanda-tanda alam, jika angin berhembus kencang saat langit mulai mendung biasanya hujan tak akan turun kalau pun hujan biasanya hanya sebentar dan tidak deras kalau hujannya deras itu pertanda buruk badai akan datang karenanya kita harus berjaga-jaga dan tak boleh tidur. jika badai datang sungguh celaka mereka jika tertidur nyenyak, kalau pun badai tak datang dan mereka tertidur nyenyak maka nyawa mereka akan terancam karena sesungguhnya malam akan segera datang. saat kegelapan malam telah menyelibuti bumi ini maka perang akan kembali berkecamuk karena sesungguhnya tadi di antara bayang-bayangan mereka aku melihat dengan jelas pasukan serigala dan anjing-anjing hutan telah bersiaga dibalik gelapnya bayangan-bayang mereka. mereka tak menyadarinya dan percuma saja aku mencoba memberi tahu mereka karena mereka tak akan bisa melihatnya karena menyatu dengan bayangan mereka menjadi bayang-bayang hitan mereka. sekali lagi ku tebar pandanganku, memperhatikan sekelilingku. semuanya memang tak ada yang berubah sama seperti kemarin, rumput yang kering menguning, tanah dan bebatuan yang pecah karena panas, hampir semua pohon telah meranggas hinggal gundul, hanya pohon mangga tempatku berteduh yang daun-daunnya masih hijau dan rimbun. setelah yakin tak ada lagi yang harus aku kerjakan, aku perhatikan lagi langit dan hujan sepertinya memang tak jadi turun. langit pun mulai berhias warna merah bata pertanda senja telah tiba dan malam akan segera datang. sepertinya waktunya telah tiba, aku harus memberi tanda pada sahabat-sahabatku yang masih berpikiran waras untuk segera bersiap menyambut kegelapan yang sebentar lagi akan menyelimuti bumi. ku keluarkan terompet dari dalam tasku yang sejak tadi teronggok di atas balai-balai ini. ku tarik nafas dalam-dalam lalu ku tiup terompetku sekeras-kerasnya. tak lama berselang sayup-sayup ku dengar bunyi genderang perang yang saling berbalas.

saatnya telah tiba !!!

saatnya kembali berperang dalam kesunyian !!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.