Langsung ke konten utama

ini hidupku, apakah ini juga hidupmu? mari tertawa

pict: from google

ini bukan kali pertama aku membual tentang lentingan batu di atas air danau dan ini pun bukan pertama kalinya aku sesumbar menantang matahari. namun jika kau termasuk orang yg cukup malas memikirkan tentang hukum alam yang mengkonstruk hidup ini atau kau orang yang mencoba tak peduli dengan segelintir orang yang mencoba mematahkan hukum alam karena berfikir dirinya adalah sosok kuat maka kita mungkin sama, kita tak lebih dari seorang pembual. pembual yang terlalu malas memikirkan kisah yang terus diulang-ulang dengan berbagai polesan personal dan akhirnya menjadi dongeng pengantar tidur anak kecil yang belum tahu kebenaran hukum gravitasi yg berkontribusi dalam membentuk alam semesta yang kita diami saat ini.
tapi peduli apa kau dan aku dengan semua itu?
terlalu banyak tekanan biologis mengada-ada yang dijejali ke otak kita sejak dini sehingga kita tak tahu lagi mana api dan mana air. masihkah kau peduli dengan semua itu jika sebilah belati mengancam merobek-robek perutmu atau membuat tenggorokanmu terancam digorok oleh mitos yang tak pernah dipertanyakan substansinya? tak perlu dijawab sebab semua akan berakhir sebagai omong kosong jika alam ini masih memainkan musik dan pertunjukan yang sama.
lalu untuk apa semua ini dilanjutkan?
mungkin sekedar untuk membuktikan bualan bahwa hidup tak lebih dari cerita lentingan batu di atas air danau dan kita tak lebih dari para penantang matahari yang terkapar kehausan di bawah panas sinarnya.
mungkin iya dan mungkin juga tidak, tergantung dimana kau berdiri sebab sampai hari ini matahari masih akan tetap bersinar esok hari diantara selangkangan para pebisnis yang mencoba menuliskan sejarah yang mungkinm mungki menjadi sampah ketika tiba waktunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.