pict: from google
ini bukan kali pertama aku membual tentang lentingan batu di atas air danau dan ini pun bukan pertama kalinya aku sesumbar menantang matahari. namun jika kau termasuk orang yg cukup malas memikirkan tentang hukum alam yang mengkonstruk hidup ini atau kau orang yang mencoba tak peduli dengan segelintir orang yang mencoba mematahkan hukum alam karena berfikir dirinya adalah sosok kuat maka kita mungkin sama, kita tak lebih dari seorang pembual. pembual yang terlalu malas memikirkan kisah yang terus diulang-ulang dengan berbagai polesan personal dan akhirnya menjadi dongeng pengantar tidur anak kecil yang belum tahu kebenaran hukum gravitasi yg berkontribusi dalam membentuk alam semesta yang kita diami saat ini.
tapi peduli apa kau dan aku dengan semua itu?
terlalu banyak tekanan biologis mengada-ada yang dijejali ke otak kita sejak dini sehingga kita tak tahu lagi mana api dan mana air. masihkah kau peduli dengan semua itu jika sebilah belati mengancam merobek-robek perutmu atau membuat tenggorokanmu terancam digorok oleh mitos yang tak pernah dipertanyakan substansinya? tak perlu dijawab sebab semua akan berakhir sebagai omong kosong jika alam ini masih memainkan musik dan pertunjukan yang sama.
lalu untuk apa semua ini dilanjutkan?
mungkin sekedar untuk membuktikan bualan bahwa hidup tak lebih dari cerita lentingan batu di atas air danau dan kita tak lebih dari para penantang matahari yang terkapar kehausan di bawah panas sinarnya.
mungkin iya dan mungkin juga tidak, tergantung dimana kau berdiri sebab sampai hari ini matahari masih akan tetap bersinar esok hari diantara selangkangan para pebisnis yang mencoba menuliskan sejarah yang mungkinm mungki menjadi sampah ketika tiba waktunya.

Komentar