Langsung ke konten utama

Cerobong Pabrik

Sepasang burung terbang membawa plastik dan tali. Mereka kembali ketempat membangun sarangnya. Apa yg dibawa kali untuk merampungkan sarang yg mereka bangun. Karena susahnya mencari ranting dan rumput maka plastik dan tali menjadi bahan utama. Sarang mereka pun bukan di dahan pohon seperti dalam cerita anak-anak di televisi, melainkan di celah cerobong pabrik. Plastik, tali, dan cerobong pabrik bukanlah soal bagi mereka karena berkembang biak adalah tuntutan alam yang selama mereka masih hidup tal bisa mereka lawan. Tak nyaman memang tapi semua menjadi biasa.
Setelah memberikan sentuhan akhir dengan memasukkan plastik dan tali yg dibawah, mereka pun terbang sedikit menjauh untuk mengamati hasil kerja mereka lalu bersahut-sahutan bernyanyi merayakan sarang mereka yang telah rampung.
Waktu pun berjalan. 
Burung betina bertelur, telur dierami hingga akhirnya menetas. Generasi baru pun hadir menjadi bagian dari kehidupan ini.
Sepasang burung itu bersama-sama merawat anak mereka, bergantian mereka mencari makan untuk sang anak dan bergantian mereka menjaganya. Hingga suatu hari seorang buruh membersihkan cerobong. Sepasang burung itu pun terbang meninggalkan sarang mereka, meninggalkan anak mereka yang belum pandai terbang dan mereka tak punya kuasa untuk membawanya menyingkir dari celah cerobong pabrik yang menjadi tempat tinggal mereka. Sepasang burung itu cuma bisa menjerit-jerit membayangkan nasib yang bisa menimpa anak mereka. Untunglah si buruh itu malas-malasan membersihkan cerobong hingga celah yang memang tersembunyi luput dari pengamatannya. Si buruh sempat melihat dan mencoba mengusir mereka yang menjerit-jerit namun karena tak juga pergi dan pekerjaan membersihkan cerobong telah selesai si buruh pun pergi sambil menggerutu karena pekerjaannya telah membuat pakaiannya kotor. Sepeninggal si buruh, sepasang burung itu segera kembali ke sarang mereka yang masih utuh dan ditemuinya sang anak yang tertidur. Tak berselang berapa lama sang anak terbangun, mengetahui kedua induknya berada di dekatnya sang anak langsung menangis manja. Kedua induknya pun bergantian bernyanyi menghibur.
Tak terasa, musim pun berlalu. Sang anak kini telah besar dan siap belajar mengepakkan sayapnya. Kedua induknya tak bosan-bosannya mengajar terbang dengan memberi contoh sembari berharap anaknya segera bisa terbang. Hingga tibalah saatnya. Di suatu pagi yg cerah sang anak berjalan ketepian sarangnya sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Kedua induknya dengan penuh suka cita memberi dukungan pada sang anak dengan terbang meninggalkan sarang.
Tiba-tiba cerobong pabrik bergoyang. Dari perlahan hingga akhirnya rubuh. Sang anak pun melayang di udara. Meski dengan segala upaya dia coba mengepakkan sayapnya namun sia-sia, sang anak meluncur jatuh. Sang anak cuma bisa melihat kedua induknya yg menjerit-jerit histeris dan terus menjauh.


Sumber gambar : http://images.harianjogja.com/2016/12/161227-ASAP_SAN-370x247.jpg 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

BERSYUKUR

ketika tanganmu menyentuh tanganku aku bahagia dan ketakutan karena sebuah percikan api tercipta. harapan muncul dari gelapnya sebuah dunia yang tak lagi memiliki kemungkinan untuk berharap. samar namun cukup untuk membuat hati tenang meski tak ada kepastian apakah api akan berkobar dari sebuah percikan api. mungkin hanya sebuah varian yang tak pasti namun aku bukanlah polisi atau hakim yang memutuskan fakta kebenaran, dan bukankah masa depan memang belumlah dituliskan, kira2 begitulah makna dari lirik sebuah lagu. jadi tentu terlalu picik untuk menghakimi sesuatu yang masih jauh jaraknya dalam perspektif dimensi ruang dan waktu. merayakan setiap percikap api yang muncul dari momentum-momentum yang terlihat bukanlah bid'ah karena masa depan bukan lagi berbicara tentang aku jadi jangan melibatkan aku dalam hal ini. lihatlah jalinan kisah yang terlihat menjuntai tak beraturan namun pasti tetap memiliki akar meski tertimbun dalam busuknya pupuk organik, sampah busuk dari sebuah sistem...