Rendahnya minat baca generasi muda saat ini sudah memperlihatkan efek buruknya yang sangat memperihatinkan. rendahnya minat baca mereka membuat kemampuan mengolah informasi sangat rendah. Di zaman kejayaan televisi mereka hanya berakhir di tayangan-tayangan murahan yang memang tidak memerlukan kemampuan mengolah informasi dan acara televisi yang bersifat informatif seperti berita nasional maupun internasional tak menjadi kesukaan mereka. Namun di zaman internet, mereka mau tak mau akan berhadapan dengan banjir informasi. Rendahnya kemampuan mengolah informasi inilah yang kemudian membuat mereka gagap berhadapan dengan banjir informasi, tanpa sadar jadilah mereka agen-agen buzzer pihak penyebar informasi. Generasi yang gagap dalam mengolah informasi ini karena rendahnya kemampuan mengolah informasi berakhir dalam ekosistem buzzer ciptaan para pembuat informasi dimana dalam ekosistem ini dituntut kecepatan dalam mengupdate informasi yang dibuktikan dengan tindakan membagi informasi tersebut, semakin cepat seseorang membagi informasi maka akan mendapat status “up to date” dan pantas untuk di “follow”. semakin banyak followers merupakan sebuah prestasi di dunia maya bagi generasi muda saat ini. Kemampuan mengolah informasi sangat berkaitan dengan minat baca seseorang. Mereka yang senang membaca akan memiliki kemampuan mengolah informasi yang cukup baik karena dengan membaca maka pikiran seseorang tentu akan terbuka dalam menerima informasi yang kemudian dituntut untuk diolah menjadi informasi baru baginya.
Jika kita ingin mencari penyebab dari kondisi memperihatinkan generasi muda saat ini yang sangat rendah dalam kemampuan mengolah informasi sehingga tanpa sadar menjadi agen-agen buzzer, kita mungkin bisa mengarahkan perhatian ke institusi pendidikan dalam hal ini sekolah. Di semua sekolah yang memenuhi standar sebenarnya sudah tersedia perpustakaan yang menjadi tempat untuk memperoleh informasi, dimana sebuah perpustakaan idealnya berisi berbagai bahan bacaan mulai dari koran hingga buku-buku bacaan yang menarik. Tapi cobalah melihat perustakaan sekolah saat ini, hampir di semua (untuk tidak mengatakan semua) perpustakaan sekolah tidak berisi buku-buku sastra yang berkualitas padahal buku-buku sastra merupakan pintu yang baik untuk mengembangkan minat baca seseorang dan juga sangat baik untuk mengasah nalar dan intuisi. Jika perpustakaan sekolah jauh dari kehadiran karya-karya sastra maka wajar saja kalau minat untuk mengunjungi perpustakaan sekolah sangat rendah dan itu berarti peran perpustakaan sekolah sangat rendah dalam menanamkan minta baca pada generasi muda. Akan berbeda jika di dalam perpustakaan hadir buku-buku sastra dan mereka diperkenalkan pada karya-karya sastra yang berkualitas tentu akan menjadi daya tarik mereka untuk datang ke perpustakaan dan membaca karya-karya sastra. Seperti misalnya jika “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka tentu bisa menarik generasi muda ke perpustakaan membacanya untuk membandingkannya dengan versi filmnya atau misalnya generasi muda yang tertarik dengan film Filosofi Kopi yang diangkat dari karya Dewi Lestari mungkin akan ke perpustakaan mencari bukunya untuk mengetahui versi bukunya. Berharap mereka akan mencari diluar tentu sangatlah naif karena perpustakaan sekolah saja yang setiap hari di depan mata mereka selalu tak menarik untuk dikunjungi karena tampak sunyi seperti kuburan. Atau berharap mereka atas dasar kesadaran sendiri akan membeli buku, itu tentulah sebuah harapan yang sangat tdk realistis ditengah kebutuhan membeli kuota internet sudah seperti kebutuhan pokok untuk hidup.
Kalau saja di perpustakaan sekolah hadir buku-buku sastra berkualitas tentu perpustakaan akan menjadi tempat menyenangkan untuk dikunjungi dan dengan begitu kita bisa berharap minat baca generasi muda menjadi lebih baik. Dengan membaiknya minat baca mereka tentu akan ada harapan generasi muda bisa menjadi generasi yang memiliki kesadaran literasi sehingga tidak lagi menjadi agen-agen buzzer dari informasi-informasi yang membaji internet.
Saya pun akan senang mengunjungi perpustakaan sekolah jika di sana sy bisa menemukan karya-karya Fyodor Dostoyevsky atau Leo Tolstoy atau Sutan Takdir Alisyahbana atau Budi Darma atau Seno Gumira Ajidarma 😅
Komentar