Langsung ke konten utama

Postingan

Tak Ada Warna Merah Di Pelangi

namanya ulil amri, aku biasa memanggilnya amri tapi sebenarnya dia tak suka dipanggil begitu alasannya sederhana karena nama itu pemberian bapaknya dan kata ibunya menurut bapaknya nama ulil amri tdk bisa dipisah kalau dipisah artinya jadi beda makanya dia tdk suka dipanggi amri atau ulil. anaknya pendiam tapi jika dia telah menganggap dirimu sebagai teman maka dia akan menjadi seorang pencerita yang tak pernah mau diam. aku pernah dibuat jengkel karena harus mendengarkan ceritanya yang berloncatan riang dari satu tema ke tema lainnya yang jika disimak sepintas seperti tak berhubungan, terpaksa aku harus berhenti membaca novel yang baru saja aku beli agar dapat mengikuti alur cerita yang amri tuturkan. hari ini dia mengajakku ke rumahnya. aku memang belum pernah ke rumahnya karena itu aku langsung menerima ajakannya. amri hanya tinggal bertiga dgn ibu dan seorang adiknya. sebenarnya amri punya seorang kakak tapi meninggal saat amri masih berumur 5 tahun. amri pernah bercerita kalau ...

surat balasan ucapan "selamat hari ibu" dari ibu

nak, ibu sudah baca ucapan selamat hari ibu yang kau kirim lewat pesan singkat . terima kasih nak, salam sayang untukmu. sebenarnya adikmu sudah bilang ke ibu kalau kau masih bisa mengakses handphonemu dan dia sudah menyarankan ibu untuk mengirim pesan lewat surat elektronik atau aplikasi chatting di smartphone tapi ibu tidak mau, ibu mau mengirim pesan lewat surat sebagaimana dulu ibu mengirim pesan ketika kau masih kuliah. ibu ingat dalam sebuah suratmu yang kau kirimkan sewaktu kau masih kuliah, kau menuliskan seperti ini "apakah ibu tahu kalau media adalah pesan, jadi ketika saya menerima surat ibu sebelum saya membaca isinya ada pesan tak tertulis yang langsung sampai ke hatiku. goresan tangan ibu yang menulis namaku di amplop surat bagi saya adalah pesan sayang yang cuma bisa dibaca oleh saya" saat itu dalam surat balasan ibu bertanya padamu "dari buku mana lagi kau dapat inspirasi ?". kata-kata mu itu yang membuat ibu memilih mengirimkan balasan ucap...

kejarlah aku dan kau ku tangkap

aku berjalan mengendap-endap mendekatinya, tak ingin mengganggu apa yang sedang dia lakukan. tapi tiba-tiba dia berbalik, sorot mata itu yang dulu telah membuatku menagis sejadi-jadinya kini kembali menatapku tajam. aku terkejut tak bisa berbuat apa-apa, seluruh ototku seperti kaku dan saraf-sarafku seperti tak bekerja. dia kemudian tersenyum sinis lalu berbalik dan menghilang seperti asap tipis tertiup angin. dia pergi lagi dan aku tak berhasil mewujudkan rencanaku. padahal tadi aku sudah sangat berhati-hati mendekatinya namun kembali bukan aku yang membuatnya kanget justru dia yang lagi-lagi secara tiba-tiba menyihirku dengan sorot matanya. ini bukan pertama kali aku bertemu dengannya, sudah lama aku mengejarnya. aku mengejarnya sejak bapakku yang tiba-tiba meninggal saat sedang beristirahat siang di kamarnya. aku orang pertama yang melihat bapak tak lagi bernyawa di kamarnya. saat itu aku hendak menemuinya untuk meminjam sebuah novel koleksinya namun saat aku masuk di kamarnya a...

PERANG SUNYI YANG BELUM PERNAH KITA MENANGKAN

mereka berkata padaku "mengapa kau masih mengasah pedang dan membuat sangat banyak anak-anak panah ? bukankah malam telah berlalu dan peperangan telah usai ?" aku berkata pada mereka "yah malam telah berlalu tapi apakah kalian sudah lupa tanda-tanda akan kembalinya malam dan tanda-tanda perang akan kembali berkecamuk saat malam datang ?" mendengar perkataanku mereka air muka mereka seperti keheranan namun tak berapa lama mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai beberapa orang mengeluarkan air mata bahkan sampai ada yg muntah-muntah. setelah tawa mereka reda, mereka berkata "rupanya kau adalah salah satu dari sekian banyak orang yg gila akibat perang semalam. kamu sungguh sangat menyedihkan." ku letakkan pedang yang belum selesai ku asah dan ku tatap mereka satu persatu. beberapa diantara mereka mundur dan mengambil posisi siaga, mungkin mereka pikir aku hendak menyerang mereka seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang dianggap gila keti...

mimpi seorang sahabat

pernah suatu waktu ketika matahari tepat di atas kepala pada saat jam istirahat saat kami sedang bersantai di bawah sebuah pohon yg rindang selepas menikmati makan siang kami, seorang sahabat menceritakan mimpinya yang sangat seram. tadi aku bermimpi berada di sebuah hamparan rumput hijau dan angin berhembus lembut membelai tubuhku. saat aku berbalik, dibelakangku terlihat gunung yg membiru dan puncaknya tak terlihat sepertinya tertutup kabut. indahnya ... saat membalikkan kembali badanku, hamparan rumput yang hijau tak ada lagi berganti ladang pertanian yang sangat luas dan sepertinya siap dipanen. aku mencoba melangkah tapi ternyata aku berdiri di atas kubangan lumpur dan kakiku terbenam sampai sebatas lutut. karena tak dapat melangkah maju aku berusaha membalikkan badanku. setelah berhasil membalikkan badan, aku tak melihat lagi gunung yang sebelumnya terlihat sangat eksotik dimataku. aku cari-cari di kiri dan kanan ku tapi tak ku temukan. aku teringat ladang pertanian di belakan...

Ode Pemuda Kreatif

Apakah kalian tak melihat kematian orang2 terdahulu Apakah kalian tak mendengar kisah Hancurnya mereka Dan sekarang kalian tertawa Dengan lelucon mereka Dan sekarang kalian berdansa Dibawah alunan musik yg sama Siaplah mati ... dan siaplah hancur 2x Musnah seperti kamiii

Tarif Kontrakan Kita Naik

Awalnya sy mencoba memahami sikap kalian yg ikut dalam gegap gempita pesta namun setelah kalian ikut-ikutan membenarkan kenaikan tarif kontrakan sy tak bisa lagi memahami apa yg kalian lakukan. Bagaimana bisa sy memahami kalian yg menerima argumen pemilik kontrakan, "tarif kontrakan dinaikkan untuk meningkatkan penghasilan dr kontrakan yg nantinya akan digunakan untuk usaha lain yg lebih produktif sehingga bisa menghasilkan  peningkatan pendapatan. Meningkatnya pendapatan akan digunakan untuk peningkatan fasilitas kontrakan yg efeknya akan dirasakan langsung pengontrak dgn meningkatnya layanan bagi pengontrak". Ini argumen lama yg sudah kita dengarkan sejak pertama kita tinggal di kontrakan ini, lalu kenapa kalian sekarang bisa menerimanya ? Sy pikir kita merasakan hal yg sama, ternyata sy salah. Mungkin karena kalian sudah terlalu sering keluar sendiri-sendiri bahkan berhari-hari nginap entah di mana jadi sy tak mengenal kalian lagi. Sy tak tau sama siapa lagi kalian bertem...