Langsung ke konten utama

Postingan

Elegi Tengah Laut

tertulis dibawah awan mendung dan ancaman badai Ah ... kenapa kau baru datang sekarang saat kapal-kapal telah berlayar meninggalkan dermaga menyusuri samudra luas tak bertepi, seandainya kau datang 1, 2, atau 3 tahun yang lalu tentu ceritanya akan berbeda. Jika kau datang lebih cepat tentu kau telah ikut berada di tengah-tengah samudra luas menantang gelombang dan badai atau sekedar menikmati kesunyian laut tenang. Memangnya kau dimana selama ini ? Kenapa aku tak pernah melihatmu padahal kita hidup di kampung yang sama, kampung yang cukup mengajarkan saya banyak hal. Kampung yang berada ditengah-tengah tanah yang sangat memuakkan hingga anjing kurapan pun enggan hidup. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk sekedar hanya meratapi setiap jengkal tanah dan setiap bulir-bulir air mata yang menetes serta mengering di tanah terkutuk ini hingga aku tak pernah melihatmu hadir disalah satu sudut dalam ceruk-ceruk kehidupan. Ah ... kenapa 1, 2, atau 3 tahun yang lalu kau tak menyapa diriku untuk s...

impian ...oh ... impian

Aku sebenarnya tak pernah peduli dengan impian-impianku yang terus berloncatan dari satu impian ke impian lainnya seiring berubahnya linkungan dan pergaulanku. Dari impian konyol menjadi seorang polisi (konstruksi orang tua-ku sewaktu kecil) hingga impian-impian fantastis seorang anak muda. Akibat sebuah novel, impian-impian itu kembali bermunculan dalam slide-slide di pikiranku. Berjalan dan terus berjalan. Sebuah impian lama kembali mengambil ruang yang cukup besar, menyita konsentrasiku hingga aku menuliskan catatan sampah ini. Impian sederhana seorang anak kecil yang terus mencoba menyalurkan hasrat dan kreatifitasnya. Bukan impian fantastis yang butuh rekayasa sosial yang rumit dan berbelit-belit, hanya keberanian dan rasa percaya diri yang dibutuhkan tidak lebih tidak kurang. Meski termasuk konyol tapi ini murni, keluar begitu saja bersama talenta. Sebuah impian yang hancur berantakan akibat desakan realitas, namun tak musnah dan sekarang dia kembali hadir menggelitik nakal pikir...

PERNAH !!!

pernahkah kau merasa sendiri ? bak sebatang ilalang di tengah rumpun bunga-bunga nan elok di sebuah taman kota yang tak terurus Pernahkah kau merasa sendiri ? bak kecoak sakit di tengah tumpukan sampah dan dedaunan kering yang siap dibakar sebelum hujan datang Pernahkah kau merasa sendiri ? bak seekor tikus yang sekarat terinjak ribuan kaki orang-orang yang sedang berperang melawan takdir Pernahkah kau merasa sendiri ? bak sebatang ilalang atau seekor kecoak sakit, atau seekor tikus yang sekarat, atau seperti sebiji krikil dijalanan yang selalu siap ditendang oleh siapa saja yang melintas dijalan itu Apakah kau merasa sendiri ?

..........................

k-e-h-i-d-u-p-a-n Kotor dan menjijikkan ... Kesan suram sangat jelas dan nampak tak tersirat. Tak ada kebaikan yang bersinar dan kejahatan juga tak tampak. Letupan-letupan kecil kadang muncul menandai ada kehidupan yang sementara bertarung melawan kematian. Tak ada gerak yang berarti namun gerak itu pasti ada diantara ketenangan yang pasti. Meski kotor dan menjijikkan, unsur hidup dan mati tetap pasti di dalamnya. Terus saling berebut ruang yang tak pernah jelas batasnya. Tetap ada air dan ada tanah, tetap ada angin dan ada api, namun kadar mereka yang berbeda. Ada yang mendominasi meski itu tidak berada dalam stagnan karena tetap ada gerak di dalamnya meski tak terlihat dengan jelas. Walau semua tetap ada di dalamnya namun kehidupan kerap menghindarinya. Hidup selalu mencari ruang dimana dia bebas untuk bergerak meski dengan begitu mati pun akan bebas bergerak seiring bebasnya hidup bergerak. Dalam ruang yang bebas semuanya bebas bergerak termasuk penginjak-injakan dan penikam-nikaman...

Demi Hidup !!!

Banyak diantara kita yang mennghindari kematian, bahkan ada yang mencoba lari dari kematian dengan bersusah payah menghambat ke-tua-an (mereka menghambat ke-tua-an sebab ke-tua-an adalah jalan pasti menuju gerbang kematian). Mereka merasa berhasil menunda ke-tua-an yang berarti menunda kematian, yah benar, mereka berhasil menunda ... tapi hanya menunda dan suatu saat pasti mereka tidak akan pernah bisa menghindari kematian, suatu saat kematian pasti akan datang bersama rasa sakit yang sangat/lebih menyakitkan. Kenapa orang-orang tidak memperlakukan kematian sebagaimana mereka memperlakukan kelahiran dan pernikahan. kelahiran dan pernikahan selalu disambut dengan penuh cinta kasih, lantas kenapa kematian tak pernah disambut dengan cinta kasih ? kelahiran dan pernikahan selalu dicari dan didekati, lalu mengapa kematian mereka hindari ? kenapa kematian selalu ditampilkan dalam sosok seorang perampok tak berbelas kasih yang siap mencuri apa yang kita miliki ? padahal "kehidupan takkan...

HITAM, LILIN & DIRIKU

Ku dapati diriku kembali terhempas disudut ruangan hampa nan gelap, yang ada cuma diriku dan hitam yang teramat sangat pekat. Walau telah ku nyalakan sebuah lilin sisa dari ritual pemujaan namun cahayanya tak mampu mengusir pekatnya hitam yang menyelimutiku. Hitamnya terus menghitam dan terus berusaha menyelimuti seluruh diriku hingga terasa sampai kedalam sukmaku. Tarian lidah api di ujung sumbu lilin yang terbakar sama sekali tak berarti. Aku merasa nasibnya sama dengn diriku, ditertwai oleh hitam pekat yang mempecundangi keberadaannya. Siapa diri ini ? Siapa hitam yang pekat ini ? Siapa lilin yang berlidah api ini ? Semula yang ada hitam, diriku, dan lilin. Kini sesekali ku dengar lolongan serigala seolah mendekatiku tapi sosoknya tak kunjung nampak. Setelah lolongan serigala menghilang muncul suara-suara aneh bagai raungan monster. Suara-suara aneh itu terasa sangat dekat, tapi dimanakah dia ? Tak ada apapun disini selain hitam, diriku, dan sebatang lilin yang nampaknya akan segera...

AAAAAAAAAAAA