Langsung ke konten utama

Lagu Hujan

Dulu para dukun selalu menyanyikan Lagu Hujan saat matahari sangat terik. Lagu Hujan sebenarnya adalah rangkaian mantra-mantra hanya karena dirapalkan dengan bernada maka terdengar bagai sebuah lagu. Namun Lagu Hujan bukanlah mantra pemanggil hujan. Saat Lagu Hujan dilantunkan waktu seperti mencair dan apapun akan ikut hanyut dalam aliran waktu yg mencair. Siapapun akan lupa diri jika mendengarkannya dan akan menemukan dirinya di sebuah tempat yg jauh. Tempat dimana tanahnya berwarna hitam serta merah dan pohon-pohon tumbuh diatasnya menjadi tiang bagi langit jingga. Di tempat itu pula orang-orang bertopeng wajah asing tapi tidak menakutkan namun membuat senyuman terkembang bahagia. Kebahagian itu mungkin muncul karena di atas setiap wajah-wajah itu melingkar pelangi yg berwarna pasta. Sebenarnya di tempat itu ada wajah-wajah asing yg diatasnya tak berpelangi, mereka adalah yg merasa sakit sendiri. Tapi mereka jarang terlihat karena mereka selalu bergantung pada balon-balon mimpi orang yg tertidur. Rasa sakit mereka sangat keterlaluan karena dapat membuat daun-daun yg gugur terbakar begitu saja hingga menjadi abu lalu hilang tertiup angin. Namun wajah-wajah tak berpelangi itu jarang terlihat kalau pun ada yg melihatnya tentulah lagi tidak beruntung.
Saat Lagu Hujan mendekati akhir waktu seperti diputar mundur semua berjalan mundur dengan begitu cepat hingga akhirnya waktu kembali tak mencair. Mereka yg mendengarkan juga kembali akan menemukan dirinya ditempatnya semula namun teriknya matahari tak lagi menjadi persoalan bagi mereka karena perasaan mereka seperti kosong namun bahagia. Tak ada yg tahu dengan pasti apa sebenarnya yg terjadi saat Lagu Hujan dilantunkan tapi karena pengalaman yg menurut sebahagian orang cenderung membius dan mendekati pengalaman  abnormal bahkan kegilaan maka Lagu Hujan itu akhirnya dilarang.
Seperti itulah cerita tentang Lagu Hujan yg sekarang bahkan untuk menyebutnya saja orang harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa tak ada yg murka dan akan membuatnya celaka. Padahal semua tahu bahwa selalu dan tetap saja ada kerinduan yg tak terucapkan akan Lagu Hujan apalagi di saat matahari sedang terik-teriknya seperti saat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.