Dulu para dukun selalu menyanyikan Lagu Hujan saat matahari sangat terik. Lagu Hujan sebenarnya adalah rangkaian mantra-mantra hanya karena dirapalkan dengan bernada maka terdengar bagai sebuah lagu. Namun Lagu Hujan bukanlah mantra pemanggil hujan. Saat Lagu Hujan dilantunkan waktu seperti mencair dan apapun akan ikut hanyut dalam aliran waktu yg mencair. Siapapun akan lupa diri jika mendengarkannya dan akan menemukan dirinya di sebuah tempat yg jauh. Tempat dimana tanahnya berwarna hitam serta merah dan pohon-pohon tumbuh diatasnya menjadi tiang bagi langit jingga. Di tempat itu pula orang-orang bertopeng wajah asing tapi tidak menakutkan namun membuat senyuman terkembang bahagia. Kebahagian itu mungkin muncul karena di atas setiap wajah-wajah itu melingkar pelangi yg berwarna pasta. Sebenarnya di tempat itu ada wajah-wajah asing yg diatasnya tak berpelangi, mereka adalah yg merasa sakit sendiri. Tapi mereka jarang terlihat karena mereka selalu bergantung pada balon-balon mimpi orang yg tertidur. Rasa sakit mereka sangat keterlaluan karena dapat membuat daun-daun yg gugur terbakar begitu saja hingga menjadi abu lalu hilang tertiup angin. Namun wajah-wajah tak berpelangi itu jarang terlihat kalau pun ada yg melihatnya tentulah lagi tidak beruntung.
Saat Lagu Hujan mendekati akhir waktu seperti diputar mundur semua berjalan mundur dengan begitu cepat hingga akhirnya waktu kembali tak mencair. Mereka yg mendengarkan juga kembali akan menemukan dirinya ditempatnya semula namun teriknya matahari tak lagi menjadi persoalan bagi mereka karena perasaan mereka seperti kosong namun bahagia. Tak ada yg tahu dengan pasti apa sebenarnya yg terjadi saat Lagu Hujan dilantunkan tapi karena pengalaman yg menurut sebahagian orang cenderung membius dan mendekati pengalaman abnormal bahkan kegilaan maka Lagu Hujan itu akhirnya dilarang.
Seperti itulah cerita tentang Lagu Hujan yg sekarang bahkan untuk menyebutnya saja orang harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa tak ada yg murka dan akan membuatnya celaka. Padahal semua tahu bahwa selalu dan tetap saja ada kerinduan yg tak terucapkan akan Lagu Hujan apalagi di saat matahari sedang terik-teriknya seperti saat ini.
beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.
Komentar