Manusia dpt membunuh jika dia telah menganggap korbannya bukan manusia lagi, selama dia masih menganggap "manusia" korbannya dia tidak akan pernah sanggup membunuh. Jadi yg pertama dia hilangkan adalah "manusia" korbannya. Kalimat-kalimat seperti itu pernah sy baca di sebuah buku, dan sepertinya itu betul.
Dulu, saat sy menghabisi nyawa korban-korbanku sy sama sekali tdk melihat korban-korbanku sebagai seorang manusia. Sy melihat korban-korbanku seperti nyamuk yg terus menggangguku dan membuatku susah tidur. Tak ada rasa kasihan karena mereka bukan apa-apa dlm kehidupanku, tak ada rasa sayang karena mereka bukan keluargaku, bukan orang tuaku, bukan saudaraku, bukan istriku, bukan anakku, bukan kekasihku yg sy sangat sayangi, bahkan bukan mainan atau hewan peliharaanku. Mereka adalah "yg lain" jadi sy tdk peduli jika mereka mati. Jika ada sedikit saja rasa kasihan atau rasa sayang, sy pasti tak akan sanggup menghabisi nyawa korban-korbanku.
Dan sy pikir seperti itu pula yg dipikirkan oleh pembunuhku. Pasti dia tdk lagi melihat sy sebagai manusia, tak ada sedikit pun rasa kasihan ataupun rasa sayang yg tersisa dihatinya. Jika masih ada sedikit saja tentu dia takkan sampai hati menusukkan belati itu tepat di hatiku, belati yg rasa dingin besinya sempat sy rasakan ketika mulai merobek kulitku dan melubangi dadaku. Saat dia membunuhku pasti dia mencapai puncak tertinggi dari ego seorang manusia superior. Sebenarnya sy ingin sekali melihat seulas senyuman kemenangan yg terlukis indah di bibirnya saat darahku mulai berhamburan keluar tak tentu arah, bahkan sampai mengenai mukanya yg elok hingga mukanya hampir dipenuhi oleh bercak-bercak darahku. Sebuah pemandangan yg sungguh sangat mengagumkan. Tapi sayang dia terlalu cepat ketakutan saat melihat mata mayatku yg melotot ke arahnya. Padahal sy tak bermaksud untuk menakut-nakutinya sy hanya memelototkan mataku agar tak satupun momen-momen berharga, yg terakhir sebelum nyawaku berpisah dr tubuhku, terlewatkan.
Makanya kalau ditanya "apa keinginanku yg belum terwujud ?" Maka sy akan menjawab "sy ingin pembunuhanku diulang dan meminta dgn sangat kepada pembunuhku untuk jangan pergi sebelum memperlihatkan senyuman kemenangan pada mayatku" cuma itu yg sy inginkan agar sy bisa membenarkan sepenuhnya kalimat-kalimat yg pernah sy baca di sebuah buku.
Tapi sudahlah, sy sekarang hanya roh yg bergentayangan tak tentu arah. Terpuruk diantara pohon-pohon tua di taman kota serta terusir oleh bisingnya suara kendaraan dan oleh terangnya lampu-lampu jalan yg hari ke hari semakin bertambah terang.
Sy meminta maaf jika kehadiranku di taman ini ternyata mengganggu. Tak usah takut padaku karena sy tinggalah sebuah roh bukan lagi manusia jadi sy tdk akan pernah bisa membunuh sebab hanya manusia yg sadar akan superioritasnya yg akan sanggup membunuh.
Terima kasih sudah memanggilku dan mengizinkan sy menceritakan semuanya.
...
Tiba-tiba angin bertiup dan lilin itu pun padam bersamaan menghilangnya bayangan yg ada di depan kami.
Komentar