Senang bisa bertemu dirimu lagi kawan.
...
Maaf, tdk ada maksud menghalangi keinginanmu bercerita tentang berbagai hal. Kau telah bercerita tentang banyak hal, izinkan aku yg bercerita kali ini.
Aku tak bermaksud menghinamu, namun kau memang tampak sangat menyedihkan tapi sebenarnya tak jauh berbeda dgn diriku. Coba liat, aku dihukum oleh Dewa mendorong batu hingga kepuncak kemudian setelah sampai di puncak aku harus menggelindingkannya lagi ke bawah untuk nantinya harus ku dorong lagi ke puncak. Hukuman itu tak dpt aku tolak dan aku tak mungkin meminta kesempatan hidup lagi untuk menebus dosa seperti yg pernah aku lakukan. Dalam nilai moral manusia sekarang tentu hukuman ini sangat tidak manusiawi, tapi ini kehendak Dewa dan aku tak mampu melawan karena aku bukan Dewa. Aku juga bukan manusia yg merasa kuat hingga mampu berkehendak melawan Dewa.
Nah, aku sama menyedihkannya dgn dirimu. Hanya saja beberapa waktu yg lalu kau telah terlena dgn segala kemewahan yg mendekati dirimu hingga akhirnya kau terlempar jauh dlm keadaan sangat menyedihkan. Kau lupa bahwa tempat kita memang di jalanan bukan di sebuah titik dimana jalanan itu berakhir. Tapi kita bukan penghuni jalanan yg berani dan kuat yg jadi teror menakutkan bagi manusia-manusia lain. Kita hanya bahagian dari hantu-hantu penasaran yg bergentayangan di antara temaram cahaya lampu jalan yg hari demi hari semakin terang, terselip diantara kendaraan-kendaraan yg mengangkut manusia-manusia yg percaya bahwa kehidupan baik-baik saja. Inilah kehidupan kita, sebuah kehidupan yg layaknya perang namun bukan perang hanya perang-perangan yg tak bisa atau lebih tepat jika dikatakan tak boleh kita menangkan.
Kawan lamaku yg lama hilang, aku tak mengharuskanmu ada disini, aku senang jika kau tak pernah kembali lagi ke sini. Aku hanya ingin kau tak pernah terlena dengan segala kemewahan hidup yg menghampirimu dan membuatmu lupa akan kehidupan dan semua yg pernah kita rayakan bersama. Sebuah kehidupan dimana kelemahan adalah kekuatan dan semua bahagian kemuraman adalah unsur pembentuk kehidupan itu sendiri.
Ah ... sy terlalu banyak berbicara bukan bercerita. Kau tentu tahu bahwa bicara adalah pintu bagi kesombongan manusia, setiap rangkaian kata dalam pembicaraan akan mengeluarkan kesombongan sedikit demi sedikit tanpa kita sadari. Saat tersadar kita akan menemukan diri kita berlumuran kesombongan. Kau tentu tahu itu karena kau temanku.
Jadi sy pikir ada baiknya sy cukupkan saja pembicaraan ini. Kalau pun kau ingin melanjutkan bicara jangan anggap itu pembicaraan anggap saja kau sedang berkeluh kesah pada seorang teman baik.
...
Ah ... sy jadi malas untuk melanjutkan semuanya. Keluh kesah ku hanya akan mempertontonkan kebodohanku.
...
Ada apa dengan kebodohan ?
Kau tentu tahu sebuah cerita dalam kitab suci yg menggambarkan bagaimana bodohnya manusia itu dan pengetahuannya hanya tahu sedikit. Coba kau tebak apa yg ada dlm genggamanku. Tentu kau takkan tahu selama aku tdk membuka genggamanku dan menunjukkannya padamu isinya. Kalau pun dgn sedikit keahlian kau bisa menebak, apakah kau lantas mau menyombongkan diri dengan sedikit keahlianmu itu ?
Sudahlah, kalau kau tak mau melanjutkan ada baiknya kita akhir saja. Nantilah kau lanjutkan semuanya.
...
Tapi ...
...
Sudahlah !
Komentar