Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah Catatan Refleksi Tahunan Yang Terlambat

Malam tanggal 21 januari 2010. Tanggal 1 januari telah berlalu 20 hari, mungkin belum terlambat* untuk sekedar menegok ke belakang. Malam ini ku coba menguraikan perjalanan hidup yang telah lalu dalam sebentuk peta geografis tiga dimensi imajiner. Terlihat sebuah kepulauan yg sangat kecil akan tetapi jika diperhatikan dengan seksama akan terlihat tanda-tanda daerah pulau yg dulunya berupa bagian daratan pulau namun kini telah terbenam menjadi bagian dari dasar laut. Pulau kecil itu lengkap sebagai pulau, ada bagian yang berbunga, ada bagian yang gersang, ada bagian yang berair jernih, dan ada bagian yang berlumpur kotor dan menjijikkan. Setiap bagian akan terlihat sebagaimana adanya, daerah berbunga, daerah gersang, daerah berair, dan daerah berlumpur. Semua nampak asri dan sudah menjadi bagian-bagian yg saling melengkapi dengan berada di daerahnya masing-masing, tapi coba perbesar gambarnya. Akan terlihat bahwa daerah berbunga tidak lebih dari kumpulan bunga-bunga yg saling berjara...

KARAT - KOIL Album Self Titled

aku berkarat seperti besi setengah mati hidupku belum berarti simpan dalam hati menghisap malam kelam menatap langit jingga terasa sangat gelap terhenyak diam tenggelam dalam gelap terbenam lumpur yang pekat sia sia bohong belaka tua renta hina aku berkarat seperti besi seakan mati hidupku tidak berarti mengubur cita cita tertawa langit jingga tertindas alam kejam terserap hitam kelam terhenyak diam terbenam sia sia terbenam sia sia terbenam sia sia Download Album Self Titled - Koil

KEJUJURAN PENGHABISAN

Ini adalah kalam terakhir yang melesat dari kerongkongan terpicu nafas penghabisan. Meninggalkan seonggok tulang berbalut otot-otot kekar mengokohkan tubuh tuk tetap berdiri kosong. Masih tetap kan selalu berkata-kata dalam sabda kosong kebohongan yang hadirkan sejuta kenormalan bersanding senyum manis nan bahagia para tertipu. Takkan pernah kan kau liat rajah-rajah beralirkan darah laksana bangkai lawan para keluarga pandawa yang tertembus jutaan anak panah arjuna. Cupitlah yg tersenyum, anak panah cupit-lah yang melesat mengenai jantung hingga kematian yang hadir namun tak tampak sebab kepolosan serta keluguan cupit mengabuti kematian dalam cinta kasih seorang ibu pada anaknya. Karena itu nyawa tak pula pernah terlihat meregang sebab tak ada hati yang menerawang jauh wawasan abstark hal tak terindrai. Erangan, rintihan, ringisan, tangisan, sedu sedan tak terdengar atau bahkan untuk sekedar terlihat sebab indra telah lama tertutupi sampah-sampah kehidupan. Sebab indra tak lagi menang...

Ah ... ternyata aku yang terlalu picik

Aku pikir aku yang paling bermasalah, masalahku seolah-olah adalah masalah yang sangat besar. Ternyata aku salah, masalahku sama sekali bukanlah masalah kalaupun masalah itu hanyalah masalah sepeleh yag tidak berarti. Tak ada masalah dalam sesuatu yang tak berasa kalaupun terasa itu hanyalah sebuah kenikmatan dari sebuah rasa sakit yg ternikmati jadi jelas itu bukan masalah kalaupun ingin dipaksakan menjadi sebuah masalah maka itu tidak lebih dari masalah kenikmatan. Aku hanyalah sebongkah bara api yang masih menyala dan sewaktu-waktu dapat saja berubah menjadi api yang berkobar-kobar penuh semangat dan gejolak. Sementara dirimu yg tampak anggun ternyata sebatang lilin yang mencoba terus berpijar dengan melelehkan diri hingga suatu saat padam dan musnah. Berbeda dariku, kau yang bermasalah dan memang kau lah yang lebih pantas bermahkotakan belukar duri kesedih bukannya aku. Hanya saja aku yang terlalu picik untuk sekedar memahaminya dari awal. Kesedihanmu memerlukan lebih banyak lagi k...

Elegi Tengah Laut

tertulis dibawah awan mendung dan ancaman badai Ah ... kenapa kau baru datang sekarang saat kapal-kapal telah berlayar meninggalkan dermaga menyusuri samudra luas tak bertepi, seandainya kau datang 1, 2, atau 3 tahun yang lalu tentu ceritanya akan berbeda. Jika kau datang lebih cepat tentu kau telah ikut berada di tengah-tengah samudra luas menantang gelombang dan badai atau sekedar menikmati kesunyian laut tenang. Memangnya kau dimana selama ini ? Kenapa aku tak pernah melihatmu padahal kita hidup di kampung yang sama, kampung yang cukup mengajarkan saya banyak hal. Kampung yang berada ditengah-tengah tanah yang sangat memuakkan hingga anjing kurapan pun enggan hidup. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk sekedar hanya meratapi setiap jengkal tanah dan setiap bulir-bulir air mata yang menetes serta mengering di tanah terkutuk ini hingga aku tak pernah melihatmu hadir disalah satu sudut dalam ceruk-ceruk kehidupan. Ah ... kenapa 1, 2, atau 3 tahun yang lalu kau tak menyapa diriku untuk s...

impian ...oh ... impian

Aku sebenarnya tak pernah peduli dengan impian-impianku yang terus berloncatan dari satu impian ke impian lainnya seiring berubahnya linkungan dan pergaulanku. Dari impian konyol menjadi seorang polisi (konstruksi orang tua-ku sewaktu kecil) hingga impian-impian fantastis seorang anak muda. Akibat sebuah novel, impian-impian itu kembali bermunculan dalam slide-slide di pikiranku. Berjalan dan terus berjalan. Sebuah impian lama kembali mengambil ruang yang cukup besar, menyita konsentrasiku hingga aku menuliskan catatan sampah ini. Impian sederhana seorang anak kecil yang terus mencoba menyalurkan hasrat dan kreatifitasnya. Bukan impian fantastis yang butuh rekayasa sosial yang rumit dan berbelit-belit, hanya keberanian dan rasa percaya diri yang dibutuhkan tidak lebih tidak kurang. Meski termasuk konyol tapi ini murni, keluar begitu saja bersama talenta. Sebuah impian yang hancur berantakan akibat desakan realitas, namun tak musnah dan sekarang dia kembali hadir menggelitik nakal pikir...

PERNAH !!!

pernahkah kau merasa sendiri ? bak sebatang ilalang di tengah rumpun bunga-bunga nan elok di sebuah taman kota yang tak terurus Pernahkah kau merasa sendiri ? bak kecoak sakit di tengah tumpukan sampah dan dedaunan kering yang siap dibakar sebelum hujan datang Pernahkah kau merasa sendiri ? bak seekor tikus yang sekarat terinjak ribuan kaki orang-orang yang sedang berperang melawan takdir Pernahkah kau merasa sendiri ? bak sebatang ilalang atau seekor kecoak sakit, atau seekor tikus yang sekarat, atau seperti sebiji krikil dijalanan yang selalu siap ditendang oleh siapa saja yang melintas dijalan itu Apakah kau merasa sendiri ?