13 tahun yg lalu (atau mungkin lebih) sy merayakan kesunyian dan kesendirian, kawan sisipush tentu masih ingat semua itu. Tapi perlahan seiring berjalannya waktu, semua itu terlupakan dan memang banyak teman-teman (untuk tdk mengatakan semua) yg mengalami hal itu. Ada yg larut dlm sebuah dunia dimana dia mampu masuk di dalamnya, ada pula yg menciptakan dunianya sendiri lalu merayakannya dalam sebuah pesta yg meriah dgn suara bising. Semua berubah, sy pun ikut berubah. Kebiasaan lama seolah menjadi sesuatu yg tidak layak dgn berbagai alasan. Semua harus berubah atau semua harus menjadi lebih baik atau semua ini terpaksa karena usia telah menyeret kita secara paksa untuk maju melintas apa yg ada. Itulah yg mungkin menjadi alasan bagi teman-teman. Sebenarnya sy juga ingin meninggalkan semua ini, berubah dgn berbagai alasan pembenaran yg serasional mungkin. Namun sepertinya sy tak bisa, sy tak tahu mengapa. Masa depan. yah, itu mungkin ketakutan sebahagian orang. Namun sekarang sy tak lagi merasakan ketakutan itu. Oh ... jangan mengira sy menguat seperti beberapa teman. Tdk, sy tdk menguat. Sy malah merasa melemah, nah mungkin kondisi lemah ini yg membuat sy tak ketakutan lagi dgn masa depan sebab apa dayaku tuk menolak atau berlari mengejar masa depan. Rasanya kaki ini terlalu lemah untuk berlari mengejar masa depan dan tak ada lagi tenaga untuk berteriak marah pada masa depan. Kalau pun sy maju itu karena waktu yg mengikat tubuh ini dan menggiringnya layaknya pasukan yg kalah perang.
Ah ... kawan sisipush. Ini bukan melow atau dlm istilah saat ini "lebay". Sy pikir ini bukan hal baru bagi kawan sisipush. Dari dulu kita sering berbicara dengan tema dan gaya seperti ini, inilah yg membuat kita dulu bisa memikirkan serta merenungkan banyak hal dan mampu melihat indahnya secercah cahaya dalam kegelapan yg membersitkan senyuman tipis di bibir. Sy pikir, orang-orang yg menuduh semua ini "lebay" sebaiknya dimaklumi saja. Mereka tdk lahir di masa kita, mereka lahir di masa dimana mereka memang harus bergerak cepat menuju tujuan yg pasti karena itulah tak ada toleransi buat mereka yg dianggap lemah atau menganggap dirinya lemah atau mengakui dirinya lemah. Bagi mereka lemah adalah aib yg tak pantas dipertontonkan, kesunyian dan kesedihan mungkin bagi mereka adalah kondisi yg harus dihindari karena hanya akan melahirkan kelemahan yg hanya akan mempersulit keadaan bahkan membawa kebuntuan. Kawan sisipush tentu tak demikian adanya sebab semuanya bukan hal baru bagi kita. Kesunyian dan kesedihan adalah budaya dalam relasi sosial kita. Yah, kau benar. Tragedi. Kau masih seperti dulu, selalu bersinar secara tiba-tiba. Kalau dipikir-pikir ini memang tragedi. Tragedi yg (dari zaman manusia masih menyembah kekuatan alam sampai manusia dgn segala kekuatannya menyembah dirinya sendiri) selalu ada menginstrupsi kehidupan. Tragedi dibalik tawa di pesta-pesta, tragedi dibalik tangis kelahiran, Tragedi dibalik raungan sedih atas kematian. Tapi karena kesunyian dan kesedihan adalah aib maka tragedi itu terhijab dari mereka yg merasa kuat.
Sepertinya pembicaraan kita malam ini sampai pada "PERAYAAN KESUNYIAN DAN KESEDIHAN adalah PERAYAAN TRAGEDI"
Hahahaha ... ini bukan hal baru, kawan sisipush juga pasti tau. Inilah perayaan kehidupan yg sesungguhnya, perayaan yg terus berlangsung hingga saat ini. Perayaan yg penuh kebahagian atas kehidupan.
Kawan sisipush, sy pikir pembicaraan ini kita cukupkan saja. Mungkin besok kita bisa melanjutkan pembicaraan ini atau lusa atau minggu depan atau mungkin bulan depan atau mungkin di waktu yg tak pernah kita tau dgn tema yg sama atau mungkin dgn tema yg berbeda serta gaya yg berbeda atau mungkin juga tetap dgn gaya yg sama.
Sekarang, mari kita nikmati kopi yg mulai dingin ini.
Komentar