Langsung ke konten utama

LELAKI PEMBAWA BUKU

Tidak seperti biasanya, orang ramai di tempat ini. Dari anak kecil hingga orang dewasa, laki-laki dan perempuan. Taman yg biasanya sepi dan hanya diisi oleh gelandangan kota dan para pekerja yg sekedar singgah untuk beristirahat, kini ramai dan orang2 berkumpul sambil berbisik-bisik. Karena penasaran aku pun mendekat dan bergabung, setelah bertanya pada seorang ibu yg hendak meninggalkan taman aku pun tahu alasan berkumpulnya orang-orang. Sesosok mayat ditemukan terbaring kaku di sebuah bangku taman.

Aku mendekat dan mencoba melihat langsung mayat tersebut namun rupanya petugas telah hadir dan menghalangi orang yg ingin mendekat dengan alasan sedang dilakukan penyelidikan. Dengan sedikit usaha dan berbekal kartu pers kampus dan buku catatan kecil akhirnya aku bisa mendekat dan melihatnya langsung. Rupanya mayat itu sudah dibungkus kantong jenasah oleh petugas forensik dari kepolisian. Untuk mengobati kekecewaanku aku mencoba mengorek informasi dari petugas yg mengkoordinir anggotanya untuk menghalau orang-orang yg mencoba mendekat. Dari petugas itu aku tahu bahwa mayat itu ternyata seorang laki-laki setengah baya yg memang sering duduk menyendiri di taman ini. Belum cukup banyak informasi yg sy dapat ketika tiba-tiba petugas itu pergi meninggalkan sy begitu saja. Rupanya mayat itu sudah akan dibawa ke mobil polisi. Seorang petugas mengikuti mayat itu sambil membawa tas yg sepertinya milik si mayat.
Aku semakin penasaran dan memburu petugas yg membawa tas itu.

“maaf pak, apakah tas itu milik si mayat ?”

polisi itu berbalik dan memperhatikan sy, setelah melihat identitas wartawan yg sy kalungkan di leher dia pun memperlambat langkahnya.

“iya, tapi tidak ada identitas apa-apa di dalamnya hanya sebuah buku”

buku ? Buku apa itu. Tanyaku secara spontan

“jadi akan di bawah kemana mayat itu ?”

tanpa berbalik melihatku polisi itu menjelaskan

“karena tak beridentitas kami akan membawanya ke pemakaman umum di belakang rumah sakit umum. Kalau nanti ada orang kehilangan baru kami akan mencoba mencocokkan dgn fotonya kalau ternyata sesuai maka kami akan menunjukkan kuburnya dan memberikan hak sepenuhnya kepada keluarganya. Maaf … kami buru-buru, sebaiknya anda ke kantor saja untuk lebih jelasnya. Sy juga butuh informasi dr anda sebagai seorang wartawan kampus”

dan petugas itu pun berlalu. Aku menghentikan langkahku karena sy pikir tak ada lagi gunanya membuntuti petugas itu.

Aku menoleh mencari sebuah bangku yg bisa sy tempati duduk, semua ini berjalan sangat cepat dan sy seperti tertarik ke belakang lalu ditinggalkan begitu saja. Setelah menoleh kiri kanan mencari-cari bangku kosong akhirnya aku melihat sebuah bangku yg hanya di isi oleh seorang perempuan. Tanpa berpikir lebih lama lagi sy berjalan menuju bangku itu dengan harapan perempuan itu mau berbagi tempat duduk denganku.

“maaf, bisakah sy duduk di sini ?”

perempuan itu seperti kaget, rupanya pikirannya lagi berjalan-jalan entah kemana saat sy datang dan bertanya. Dia tersenyum lalu mengangguk, memberi tanda persetujuan atas permintaanku.
Dia menatapku sejenak lalu bertanya

“apakah anda teman si mayat ?”

aku kanget dan spontan menjawab

“bukan, sy hanya kebetulan lewat dan melihat ada keramaian. Kenapa ?”

dia tersenyum mendengar jawabanku

“ah tidak, sy hanya berpikir mungkinkah dia punya seorang teman”

“maksudnya ? Apakah kau mengenal si mayat ?”

dia tersenyum lagi, lalu dia merogoh kantongnya mengeluarkan rokok. Setelah mengambil sebatang rokok dan membakarnya lalu meletakkan di sampingnya. Setelah menghisap dan menghembuskan asap rokoknya dia berkata.

“dia adalah salah satu penghuni taman ini, dia adalah bagian dari kesunyian dan kesemrautan taman ini. Biasanya dia tidak duduk di bangku dimana mayatnya ditemukan, biasanya dia duduk di bangku ini tepat di tempat anda duduk”

aku kanget dan sempat refleks hendak berdiri namun tak jadi karena sy pikir ini tentu hanya kebetulan belaka. Melihat tingkahku dia tertawa kecil lalu melanjutkan ceritanya.

“tak ada yg tau dia dari mana karena dia tak pernah berbicara, namun sy yakin dia tidak gila”

aku mencoba mencairkan suasana dengan berbasa basi meminta sebatang rokok miliknya. Dia seperti tersadar lupa menawarkan rokok padaku. Setelah melihat aku telah mengambil dan membakar sebatang rokok diapun kembali melanjutkan ceritanya.

“dia bukan seorang gila, anda tentu melihat sebuah tas yg dibawah pergi oleh petugas bersama mayatnya dan sepertinya anda pun telah menanyakan pada petugas itu terkait tas tersebut. Isi tas yg di bawah petugas itu hanyalah sebuah buku tulis kosong”

“apakah dia seorang penulis ?”

perempuan itu tiba-tiba tertawa lebar sampai terbatuk-batuk karena asap rokok.

“bukan, dia bukan penulis. Dia bukanlah anak zaman yg hebat. Dia hanya seorang yg biasa saja yg selalu membawa buku. Setiap dia ke taman ini biasanya dia hanya membaca beberapa lembar ditemani sebotol air mineral dan beberapa bungkus rokok, setelah itu dia tidur berbatal buku-bukunya hinggga senja datang dan dia pun beranjak pergi entah kemana. Sy biasa datang duduk di sampingnya, posisinya persis posisi duduk kita sekarang. Sy senang duduk di sampingnya karena dia tidak banyak bicara, dia hanya berbicara saat mempersilahkanku menghisap kokoknya atau membagi sedikit air minumnya”

dia berhenti bercerita karena rokoknya telah habis dan dia mematikannya lalu beranjak membuangnya di tempat sampah. Setelah kembali duduk di sampingku dia mengambil lagi sebatang rokok dan membakarnya. Seperti sebelumnya, setelah menghembuskan asap rokoknya dia hendak melanjutkan ceritanya tapi sebuah pertanyaan terlanjur terlontar dari mulutku.

“kalau dia tidak gila dan seorang pembaca, kenapa tasnya hanya berisi buku tulis kosong ?”

dia menoleh melihatku dan tersenyum.

“tadi pagi sy masih bertemu dengannya di sini, rokok ini pun adalah pemberiannya bersama lima buah buku yg cukup tebal yg selama ini menjadi temannya di taman ini”

dia terdiam, seperti memikirkan sesuatu atau mungkin sekedar berkhayal.

“bisakah sy melihat buku-bukunya ?” tanyaku sembari berusaha memecah diam diantara kami

“ah, sudah tak ada lagi pada saya”

aku kanget lalu bertanya

“maksudmu, kau membuangnya ?”

dia menoloh melihatku, ada seraut amarah di wajahnya yg tiba-tiba muncul

“kau pikir sy bodoh ! Buku-buku itu tentu masih ada bersama saya seandainya dia tak berkata padaku bahwa aku bisa menyimpannya jika mau atau menjualnya jika memang menganggap itu lebih baik.”

“jadi kau telah menjualnya ?”

“aku tidak menjualnya, aku memberikan buku-buku itu pada penjual nasi di seberang jalan. Sy pikir dia lebih memerlukannya untuk membungkus nasi jualannya jadi dia tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli kertas-kertas bekas selama seminggu jika dagangannya lagi laris manis atau kalau tidak tentu dia akan punya stok pembungkus nasi selama sebulan”

“jadi buku-buku itu ada pada penjual nasi di seberang jalan taman ini ?”

dia mengangguk

“maaf, sy harus ke sana. Sy penasaran ingin tahu buku-buku apakah itu”

dia menoleh padaku dan kembali memperlihatkan senyuman kosong tak berekspresi.

“tak ada gunanya kau ke sana, karena gadis penjual nasi itu telah membakar buku-buku itu sebelum bunuh diri”

aku seperti ditampar oleh sesuatu dan tak bisa berkata-kata.

“anda tak usah kanget begitu. nanti setelah polisi menemukan dan telah mengamankan semua barang bukti, datanglah ke sana. Ambillah tumpukan abunya yg ada di dapur di tempat masak di tempat dia biasa menghabiskan waktunya dan berikanlah pada temanmu yg biasa mendaki gunung tertinggi di daerah ini. Suruh tebarkan abu itu di seluruh penjuru mata angin”

tiba-tiba aku seperti tersedak sesuatu hingga terbatuk-batuk keras sampai mengeluarkan air mata. Setelah batukku berhenti aku melihat sekelilingku tiba-tiba sunyi, perempuan itu tak ada lagi hanya kepulan asap rokoknya yg masih tertinggal. Aku menoleh ke kiri dan kenan mencarinya, kalau-kalau dia hanya pergi membuang puntung rokoknya saat aku terbatuk tadi. Tapi tak ada, yg ada hanya kesunyian. Aku ternyata tinggal seorang diri di taman ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

metamorfosis

beubah dari kepompong menjadi kupu-kupu namun tak ada kepakan sayap kupu-kupu yang ciptakan badai di afrika, kalau pun ada hanya segelintir yang bisa.mereka adalah orang-orang yg mampu seirama dan beresonansi dengan rotasi matahari, bumi dan bulan dalam harmoni aturan ruang dan waktu. sementara kita, hanyalah baut dalam megastruktur mesin produksi yang harus berproduksi hingga berdaya guna ciptakan kupu-kupu indah yang sinergis dengan alur cerita kehidupan. simpan amarahmu dalam sekam karena tentu tak elok membakar rumah sendiri, properti yang mengilusi diri bagai pahlawan di tengah rawa busuk candradimuka. siapa kamu? siapa aku? kita hanyalah ulat lemah yang bersembunyi di balik selimut sembari berharap esok kita terbangun sebagai kupu-kupu cantik yang memiliki andil besar bagi kelangsungan hidup di muka bumi ini.

Surat Cinta Penantang Ombak

sebelum jam 12 siang, berdirilah di tepian pantai.  lihatlah deburan ombak yang tak pernah kau pikirkan.  jangan menunggu hingga langit beranjak berwarna merah bata,  karena saat itu pelaut telah di tengah lautan. lihatlah deburan ombak di siang hari,  saat itu hanya para pemberani yang menerjang ombak.  hanya kesenangan yang membuat mereka menantang matahari,  di saat orang2 berlari mencari tempat berlindung  sembari menikmati dinginnya air kelapa muda dan sejuknya angin laut di rindangnya pohon kelapa. saat lagi senja datang,  tak ada guna kau berlari ke tepian pantai tuk merangkai puisi kerinduan pada kekasihmu yg berada jauh di tengah laut. semua itu bohong, tak lebih dari harapan palsu pengantarmu pergi ke pembaringan tuk bercumbu dengan dewa mimpi dalam tidur yang nyenyak. sumber gambar: https://medium.com/@siddhantnayak/the-forlorn-sailor-ce0bb5a54ec5

MUNAJAT MATI

terjebak di hutan mawar berduri. bergerak pasti tertusuk atau paling tdk kulit tergores hingga berdarah.  seperti biasa, banyak yang bilang aku salah jalan. namun mereka mengucapkannya sambil berguman, "betapa indahnya berada di tengah hutan mawar yang sedang mekar" . mereka mungkin lupa rasa sakit tergores duri hingga berdarah atau mungkin mereka harus diingatkan dengan sakitnya sayatan belati di dada, namun tak ada guna semua itu karena hanya akan melahirkan teriakan sakit palsu yang persis seperti rengekan anak kecil yang meminta permen lollipop pada ibunya. diriku tetap terjebak di hutan mawar berduri. mencoba keluar meski harus menyematkan luka menganga di setiap langkahku. di ujung sana sebelum rembulan menghilang aku mungkin akan mati kehabisan darah, tapi tak mengapa karena semua akan sama saja.