Tidak seperti biasanya, orang ramai di
tempat ini. Dari anak kecil hingga orang dewasa, laki-laki dan
perempuan. Taman yg biasanya sepi dan hanya diisi oleh gelandangan
kota dan para pekerja yg sekedar singgah untuk beristirahat, kini
ramai dan orang2 berkumpul sambil berbisik-bisik. Karena penasaran
aku pun mendekat dan bergabung, setelah bertanya pada seorang ibu yg
hendak meninggalkan taman aku pun tahu alasan berkumpulnya
orang-orang. Sesosok mayat ditemukan terbaring kaku di sebuah bangku
taman.
Aku mendekat dan mencoba melihat
langsung mayat tersebut namun rupanya petugas telah hadir dan
menghalangi orang yg ingin mendekat dengan alasan sedang dilakukan
penyelidikan. Dengan sedikit usaha dan berbekal kartu pers kampus dan buku catatan kecil akhirnya aku bisa mendekat dan melihatnya langsung. Rupanya mayat itu
sudah dibungkus kantong jenasah oleh petugas forensik dari
kepolisian. Untuk mengobati kekecewaanku aku mencoba mengorek
informasi dari petugas yg mengkoordinir anggotanya untuk menghalau
orang-orang yg mencoba mendekat. Dari petugas itu aku tahu bahwa
mayat itu ternyata seorang laki-laki setengah baya yg memang sering
duduk menyendiri di taman ini. Belum cukup banyak informasi yg sy
dapat ketika tiba-tiba petugas itu pergi meninggalkan sy begitu saja.
Rupanya mayat itu sudah akan dibawa ke mobil polisi. Seorang petugas
mengikuti mayat itu sambil membawa tas yg sepertinya milik si mayat.
Aku semakin penasaran dan memburu
petugas yg membawa tas itu.
“maaf pak, apakah tas itu milik si
mayat ?”
polisi itu berbalik dan memperhatikan
sy, setelah melihat identitas wartawan yg sy kalungkan di leher dia
pun memperlambat langkahnya.
“iya, tapi tidak ada identitas
apa-apa di dalamnya hanya sebuah buku”
buku ? Buku apa itu. Tanyaku secara
spontan
“jadi akan di bawah kemana mayat itu
?”
tanpa berbalik melihatku polisi itu
menjelaskan
“karena tak beridentitas kami akan
membawanya ke pemakaman umum di belakang rumah sakit umum. Kalau
nanti ada orang kehilangan baru kami akan mencoba mencocokkan dgn
fotonya kalau ternyata sesuai maka kami akan menunjukkan kuburnya dan
memberikan hak sepenuhnya kepada keluarganya. Maaf … kami
buru-buru, sebaiknya anda ke kantor saja untuk lebih jelasnya. Sy
juga butuh informasi dr anda sebagai seorang wartawan kampus”
dan petugas itu pun berlalu. Aku
menghentikan langkahku karena sy pikir tak ada lagi gunanya
membuntuti petugas itu.
Aku menoleh mencari sebuah bangku yg
bisa sy tempati duduk, semua ini berjalan sangat cepat dan sy seperti
tertarik ke belakang lalu ditinggalkan begitu saja. Setelah menoleh
kiri kanan mencari-cari bangku kosong akhirnya aku melihat sebuah
bangku yg hanya di isi oleh seorang perempuan. Tanpa berpikir lebih
lama lagi sy berjalan menuju bangku itu dengan harapan perempuan itu
mau berbagi tempat duduk denganku.
“maaf, bisakah sy duduk di sini ?”
perempuan itu seperti kaget, rupanya
pikirannya lagi berjalan-jalan entah kemana saat sy datang dan
bertanya. Dia tersenyum lalu mengangguk, memberi tanda persetujuan
atas permintaanku.
Dia menatapku sejenak lalu bertanya
“apakah anda teman si mayat ?”
aku kanget dan spontan menjawab
“bukan, sy hanya kebetulan lewat dan
melihat ada keramaian. Kenapa ?”
dia tersenyum mendengar jawabanku
“ah tidak, sy hanya berpikir
mungkinkah dia punya seorang teman”
“maksudnya ? Apakah kau mengenal si
mayat ?”
dia tersenyum lagi, lalu dia merogoh
kantongnya mengeluarkan rokok. Setelah mengambil sebatang rokok dan
membakarnya lalu meletakkan di sampingnya. Setelah menghisap dan
menghembuskan asap rokoknya dia berkata.
“dia adalah salah satu penghuni taman
ini, dia adalah bagian dari kesunyian dan kesemrautan taman ini.
Biasanya dia tidak duduk di bangku dimana mayatnya ditemukan,
biasanya dia duduk di bangku ini tepat di tempat anda duduk”
aku kanget dan sempat refleks hendak
berdiri namun tak jadi karena sy pikir ini tentu hanya kebetulan
belaka. Melihat tingkahku dia tertawa kecil lalu melanjutkan
ceritanya.
“tak ada yg tau dia dari mana karena
dia tak pernah berbicara, namun sy yakin dia tidak gila”
aku mencoba mencairkan suasana dengan
berbasa basi meminta sebatang rokok miliknya. Dia seperti tersadar
lupa menawarkan rokok padaku. Setelah melihat aku telah mengambil dan
membakar sebatang rokok diapun kembali melanjutkan ceritanya.
“dia bukan seorang gila, anda tentu
melihat sebuah tas yg dibawah pergi oleh petugas bersama mayatnya dan
sepertinya anda pun telah menanyakan pada petugas itu terkait tas
tersebut. Isi tas yg di bawah petugas itu hanyalah sebuah buku tulis
kosong”
“apakah dia seorang penulis ?”
perempuan itu tiba-tiba tertawa lebar
sampai terbatuk-batuk karena asap rokok.
“bukan, dia bukan penulis. Dia
bukanlah anak zaman yg hebat. Dia hanya seorang yg biasa saja yg
selalu membawa buku. Setiap dia ke taman ini biasanya dia hanya
membaca beberapa lembar ditemani sebotol air mineral dan beberapa
bungkus rokok, setelah itu dia tidur berbatal buku-bukunya hinggga
senja datang dan dia pun beranjak pergi entah kemana. Sy biasa
datang duduk di sampingnya, posisinya persis posisi duduk kita
sekarang. Sy senang duduk di sampingnya karena dia tidak banyak
bicara, dia hanya berbicara saat mempersilahkanku menghisap kokoknya
atau membagi sedikit air minumnya”
dia berhenti bercerita karena rokoknya
telah habis dan dia mematikannya lalu beranjak membuangnya di tempat
sampah. Setelah kembali duduk di sampingku dia mengambil lagi
sebatang rokok dan membakarnya. Seperti sebelumnya, setelah
menghembuskan asap rokoknya dia hendak melanjutkan ceritanya tapi
sebuah pertanyaan terlanjur terlontar dari mulutku.
“kalau dia tidak gila dan seorang
pembaca, kenapa tasnya hanya berisi buku tulis kosong ?”
dia menoleh melihatku dan tersenyum.
“tadi pagi sy masih bertemu dengannya
di sini, rokok ini pun adalah pemberiannya bersama lima buah buku yg
cukup tebal yg selama ini menjadi temannya di taman ini”
dia terdiam, seperti memikirkan sesuatu
atau mungkin sekedar berkhayal.
“bisakah sy melihat buku-bukunya ?”
tanyaku sembari berusaha memecah diam diantara kami
“ah, sudah tak ada lagi pada saya”
aku kanget lalu bertanya
“maksudmu, kau membuangnya ?”
dia menoloh melihatku, ada seraut
amarah di wajahnya yg tiba-tiba muncul
“kau pikir sy bodoh ! Buku-buku itu
tentu masih ada bersama saya seandainya dia tak berkata padaku bahwa
aku bisa menyimpannya jika mau atau menjualnya jika memang menganggap
itu lebih baik.”
“jadi kau telah menjualnya ?”
“aku tidak menjualnya, aku memberikan
buku-buku itu pada penjual nasi di seberang jalan. Sy pikir dia lebih
memerlukannya untuk membungkus nasi jualannya jadi dia tidak perlu
lagi mengeluarkan uang untuk membeli kertas-kertas bekas selama
seminggu jika dagangannya lagi laris manis atau kalau tidak tentu dia
akan punya stok pembungkus nasi selama sebulan”
“jadi buku-buku itu ada pada penjual
nasi di seberang jalan taman ini ?”
dia mengangguk
“maaf, sy harus ke sana. Sy penasaran
ingin tahu buku-buku apakah itu”
dia menoleh padaku dan kembali
memperlihatkan senyuman kosong tak berekspresi.
“tak ada gunanya kau ke sana, karena
gadis penjual nasi itu telah membakar buku-buku itu sebelum bunuh
diri”
aku seperti ditampar oleh sesuatu dan
tak bisa berkata-kata.
“anda tak usah kanget begitu. nanti
setelah polisi menemukan dan telah mengamankan semua barang bukti,
datanglah ke sana. Ambillah tumpukan abunya yg ada di dapur di tempat masak di tempat dia biasa menghabiskan waktunya dan
berikanlah pada temanmu yg biasa mendaki gunung tertinggi di daerah
ini. Suruh tebarkan abu itu di seluruh penjuru mata angin”
tiba-tiba aku seperti tersedak sesuatu
hingga terbatuk-batuk keras sampai mengeluarkan air mata. Setelah
batukku berhenti aku melihat sekelilingku tiba-tiba sunyi, perempuan
itu tak ada lagi hanya kepulan asap rokoknya yg masih tertinggal. Aku
menoleh ke kiri dan kenan mencarinya, kalau-kalau dia hanya pergi
membuang puntung rokoknya saat aku terbatuk tadi. Tapi tak ada, yg
ada hanya kesunyian. Aku ternyata tinggal seorang diri di taman ini.
Komentar